Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas, ditandai dengan saling lontar ancaman terkait keamanan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, arteri vital bagi pasokan energi dunia.
Eskalasi bermula ketika Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa pasukannya telah berhasil menghancurkan target-target militer Iran di Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran di Teluk Persia. Trump bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa infrastruktur minyak di pulau tersebut bisa menjadi sasaran berikutnya jika Iran mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Mengutip laporan The Guardian pada Sabtu (14/4), Trump menyatakan bahwa AS untuk sementara waktu menahan diri untuk tidak menghancurkan infrastruktur minyak di Pulau Kharg. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut akan ditinjau ulang jika Iran mengganggu kelancaran dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
“Demi alasan kepatutan, saya memilih untuk tidak memusnahkan infrastruktur minyak di pulau itu. Namun jika Iran, atau siapa pun, mengganggu jalur bebas dan aman kapal di Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” tulis Trump melalui akun media sosialnya.
Pulau Kharg memegang peranan krusial sebagai terminal utama ekspor minyak Iran. Pulau ini bertanggung jawab atas sekitar 90% pengiriman minyak mentah Iran ke pasar global. Lokasinya yang strategis, dekat dengan Selat Hormuz, menjadikannya target penting dalam pusaran konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Ancaman dari Trump ini muncul sebagai respons atas peringatan Iran sebelumnya. Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energinya akan dibalas dengan serangan terhadap fasilitas energi milik perusahaan minyak yang bekerja sama dengan AS di kawasan Timur Tengah.
Sebagai langkah antisipasi, seorang pejabat AS kepada Associated Press mengungkapkan bahwa militer AS telah memerintahkan pengerahan 2.500 marinir beserta kapal serbu amfibi USS Tripoli menuju Timur Tengah.
USS Tripoli, bersama dengan kapal-kapal serbu amfibi lainnya yang membawa marinir, sebelumnya berpangkalan di Jepang dan telah berada di Samudra Pasifik selama beberapa hari. Citra satelit komersial bahkan mendeteksi USS Tripoli berlayar sendirian di dekat Taiwan, mengindikasikan bahwa posisinya masih lebih dari seminggu perjalanan dari perairan sekitar Iran.
Sebelumnya, Angkatan Laut AS telah mengerahkan 12 kapal ke Laut Arab, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan delapan kapal perusak. Jika USS Tripoli bergabung dengan armada ini, ia akan menjadi kapal terbesar kedua milik AS di kawasan tersebut, setelah USS Abraham Lincoln.
Ketegangan semakin meningkat setelah pejabat keamanan tinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan peringatan langsung kepada Trump. Larijani menyatakan bahwa Iran tidak gentar dengan ancaman Washington dan meminta Trump untuk berhati-hati.
“Iran tidak takut dengan ancaman kosong Anda. Bahkan mereka yang lebih besar dari Anda tidak mampu melenyapkan Iran. Berhati-hatilah agar Anda sendiri tidak dilenyapkan,” tulis Ali Larijani dalam unggahan di media sosial X, seperti yang dilaporkan oleh TIME pada Selasa (10/3).
Pernyataan Larijani ini merupakan balasan atas ancaman Trump yang disampaikan melalui platform Truth Social. Dalam unggahannya, Trump menegaskan bahwa AS akan menyerang Iran “dua puluh kali lebih keras” jika Teheran menghalangi arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Trump juga mengancam akan melumpuhkan target-target strategis yang dapat membuat Iran kesulitan untuk memulihkan diri.
Ringkasan
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas setelah Trump mengancam akan menargetkan infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg jika Iran mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pulau Kharg merupakan terminal utama ekspor minyak Iran yang strategis, bertanggung jawab atas 90% pengiriman minyak mentah Iran.
Sebagai respons, Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan terhadap infrastrukturnya dengan menargetkan fasilitas energi perusahaan minyak yang bekerja sama dengan AS. AS juga mengerahkan tambahan pasukan marinir dan kapal serbu amfibi USS Tripoli ke Timur Tengah, sementara pejabat tinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa Iran tidak gentar dengan ancaman AS.