Wall Street Terguncang! Perundingan AS-Iran Gagal, Investor Panik

Shoesmart.co.id NEW YORK – Bursa Wall Street memulai pekan ini dengan nada pesimis. Indeks-indeks utama terpantau melemah di awal perdagangan Senin (13/4/2026), menyusul kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di akhir pekan lalu. Kegagalan ini menghapus harapan akan berakhirnya konflik yang berkepanjangan, memicu kekhawatiran baru di pasar saham dan berpotensi memicu volatilitas.

Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average merosot 198,4 poin atau 0,41% ke level 47.718,21. Senada dengan itu, indeks S&P 500 juga mengalami penurunan sebesar 10,4 poin atau 0,15% menjadi 6.806,47, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 53,7 poin atau 0,23% ke level 22.849,23. Data ini dikutip dari laporan Reuters.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa potensi relaksasi yang sempat muncul dari gencatan senjata yang dicapai sebelumnya mungkin hanya bersifat sementara. Situasi ini menekankan risiko dari sikap terlalu optimis (bullish) di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.

Sentimen negatif ini diperkuat dengan rencana militer AS yang akan memulai blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran, hanya dalam beberapa jam setelah pembukaan pasar. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Sebagai respons terhadap situasi ini, Indeks Volatilitas Pasar CBOE, yang menjadi barometer ketakutan pasar, melonjak menjadi 21,29 poin.

Pergeseran sentimen juga terlihat di kelas aset lainnya. Investor cenderung beralih ke dolar AS sebagai aset yang lebih aman (safe haven) sambil mengurangi eksposur terhadap ekuitas di berbagai wilayah geografis.

Selain itu, harga minyak mentah kembali melonjak di atas US$ 100 per barel, memperburuk kekhawatiran inflasi. Data pekan lalu menunjukkan bahwa rekor lonjakan biaya bensin dan solar telah memicu kenaikan harga konsumen AS terbesar dalam hampir empat tahun pada bulan Maret.

“Kita kembali berada dalam ranah berbagai kemungkinan hasil yang masuk akal, mulai dari putaran negosiasi lain selama gencatan senjata yang tidak merata… hingga dimulainya kembali permusuhan sepenuhnya,” ungkap Hasnain Malik, seorang ahli strategi risiko geopolitik dan ekuitas pasar berkembang dari Tellimer.

Sementara itu, harapan akan kinerja pendapatan yang menggembirakan meredup setelah saham Goldman Sachs anjlok 4,5% dalam perdagangan pra-pasar, menyusul pengumuman hasil kuartalan bank tersebut.

Meskipun bank investasi tersebut berhasil melampaui perkiraan laba per saham, pencapaian ini diraih dengan margin terkecil dalam hampir dua tahun.

“Kami tidak melihat pasar benar-benar terlalu memperhatikan hasil pendapatan yang melebihi ekspektasi. Dan itu semua karena prospek inflasi yang lebih tinggi, aktivitas ekonomi yang lebih lemah, dan The Fed yang mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tetap untuk waktu yang sangat lama,” jelas Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities.

Saat ini, fokus investor tertuju pada komentar dari para eksekutif Goldman Sachs. Pernyataan mereka akan dianalisis dengan cermat untuk mencari petunjuk tentang bagaimana konflik di Timur Tengah, yang kini memasuki minggu ketujuh, berdampak pada ekonomi dan pasar modal.

Saham-saham pesaing Goldman Sachs, seperti Morgan Stanley, JPMorgan Chase, dan Citigroup, juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 2%, 1,9%, dan 1,8%.

Saham distributor perlengkapan industri, Fastenal, turut melemah sebesar 3% setelah pengumuman pendapatan.

Sektor terkait perjalanan juga terkena imbasnya. Maskapai penerbangan seperti Delta Air Lines dan JetBlue Airways masing-masing mengalami penurunan sebesar 2,7% dan 2,3%, akibat kekhawatiran bahwa harga minyak yang lebih tinggi dapat memicu kenaikan biaya bahan bakar.

Di sisi lain, saham-saham energi justru menguat. Chevron, Exxon Mobil, dan ConocoPhillips masing-masing mencatat kenaikan sebesar 1,9%, 2%, dan 2,3%.

Saham Sandisk naik 1,5% sebelum pasar dibuka karena produsen chip memori tersebut dijadwalkan untuk bergabung dengan indeks Nasdaq-100 pada 20 April mendatang.

Ringkasan

Wall Street mengalami penurunan pada awal pekan menyusul kegagalan perundingan AS-Iran, memicu kekhawatiran geopolitik. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite semuanya mengalami penurunan. Sentimen negatif diperkuat dengan rencana blokade maritim AS terhadap Iran, mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Harga minyak mentah melonjak di atas US$ 100 per barel, memperburuk kekhawatiran inflasi. Saham Goldman Sachs anjlok meskipun laba per saham melampaui perkiraan, dan sektor perjalanan juga terkena dampak negatif akibat potensi kenaikan biaya bahan bakar. Sebaliknya, saham-saham energi seperti Chevron dan Exxon Mobil mengalami kenaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *