Rupiah Terancam! Tekanan Global Kuat, Peluang Melemah Meningkat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah masih bergulat dengan tren pelemahan, tertekan oleh sentimen global dan domestik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Lukman Leong, Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil kombinasi faktor eksternal dan internal, namun didominasi oleh sentimen global yang kuat.

“Penguatan dolar AS tetap menjadi pemain utama, didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang diperkirakan akan bertahan lebih lama, mengingat inflasi AS masih relatif tinggi,” ungkapnya kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Selain itu, meroketnya harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memicu permintaan terhadap aset safe haven, yang mana dolar AS menjadi pilihan utama.

Jasa Marga (JSMR) Beli Saham Kopnatel di Translingkar Kita, Nilainya Rp 1,12 Miliar

Tak hanya itu, “Arus modal asing juga menunjukkan kehati-hatian yang lebih besar terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” imbuhnya, menggarisbawahi sentimen investor yang berpengaruh.

Lebih lanjut, Lukman menyoroti dampak signifikan kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal dalam negeri. Harga minyak dunia yang tinggi berpotensi memperburuk defisit anggaran pemerintah, memberikan tekanan tambahan pada ekonomi.

Menatap ke depan, prospek rupiah masih diwarnai potensi fluktuasi dengan kecenderungan melemah, sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dan dinamika geopolitik global. Prediksi ini memberikan gambaran ketidakpastian yang perlu diantisipasi.

“Level Rp18.000 bisa saja tercapai jika harga minyak mentah terus melonjak. Namun, sebaliknya, jika konflik mereda dan harga minyak kembali ke kisaran US$70 per barel, rupiah berpotensi menguat kembali ke sekitar Rp16.500,” paparnya, memberikan skenario yang mungkin terjadi.

Kendati demikian, Lukman meyakini bahwa pergerakan rupiah akan tetap dipantau dan dijaga agar tidak mengalami pelemahan yang terlalu dalam. Intervensi dari Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat menjadi penyeimbang dalam situasi ini.

“Pergerakan rupiah kemungkinan akan dijaga melalui intervensi Bank Indonesia agar tidak melemah terlalu tajam,” tegasnya, mengisyaratkan peran aktif BI dalam menjaga stabilitas mata uang.

Dalam kondisi pasar yang penuh tantangan ini, investor disarankan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio investasi mereka. Strategi yang tepat menjadi kunci untuk menghadapi gejolak yang ada.

Perkuat Transformasi Bisnis, Segmen Kendaraan Listrik TBS Energi (TOBA) Mulai Moncer

“Investor sebaiknya fokus pada diversifikasi dan pengelolaan risiko. Instrumen yang diuntungkan dari penguatan dolar AS atau kenaikan harga komoditas dapat menjadi pilihan yang menarik,” sarannya, memberikan arahan investasi yang bijak.

Selain itu, investor juga perlu mencermati dengan seksama risiko yang mungkin timbul pada emiten tertentu. Analisis mendalam terhadap kinerja perusahaan menjadi sangat penting.

“Perlu lebih selektif terhadap emiten yang memiliki utang dolar besar namun pendapatan berbasis rupiah karena berpotensi terkena tekanan kurs,” pungkas Lukman, mengingatkan tentang potensi risiko fluktuasi mata uang yang perlu diwaspadai.

Ringkasan

Rupiah tertekan oleh sentimen global dan domestik, didominasi penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed dan inflasi AS. Kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik juga mendorong permintaan aset safe haven. Arus modal asing juga menunjukkan kehati-hatian terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk defisit anggaran pemerintah. Rupiah diperkirakan fluktuatif dan cenderung melemah, tergantung harga minyak dan dinamika geopolitik. Investor disarankan diversifikasi dan pengelolaan risiko, serta selektif terhadap emiten dengan utang dolar besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *