Harga Minyak Turun 2026: Analisis & Faktor Pemicu Utama

Shoesmart.co.id JAKARTA. Harga minyak dunia menunjukkan tanda-tanda stabil meskipun ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih membayangi. Analis menilai, pelaku pasar mulai mengantisipasi risiko konflik, sehingga sentimen geopolitik tidak lagi memberikan kejutan signifikan pada harga minyak global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (11/5/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4,83% menjadi US$ 100,03 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent menguat 4,19% menjadi US$ 105,53 per barel. Kenaikan ini menunjukkan respons pasar yang terkendali terhadap situasi geopolitik yang ada.

Wahyu Laksono, Founder Traderindo, berpendapat bahwa pasar kini menganggap risiko perang di Timur Tengah telah “priced in” atau tercermin dalam harga minyak. Kondisi ini membatasi potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut, setelah sebelumnya melonjak tajam akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

“WTI yang sempat menyentuh level US$ 119 per barel pada Maret lalu, kini pergerakannya lebih terbatas. Rebound terakhir juga masih berada di bawah level tersebut,” ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (11/5/2026). Hal ini mengindikasikan adanya fase konsolidasi setelah volatilitas tinggi sebelumnya.

Surya Semesta (SSIA) Balik Rugi Jadi Laba Rp 89,01 Miliar di Kuartal I-2026

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa pelaku pasar mulai mencermati peluang deeskalasi konflik, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menunjukkan pendekatan yang lebih akomodatif terhadap Iran. Perkembangan diplomatik juga membuka ruang negosiasi baru di tengah konflik yang masih berlanjut.

Keputusan penangguhan operasi di Selat Hormuz, yang disebut-sebut atas permintaan sejumlah negara termasuk Pakistan, turut menjadi sorotan. Langkah ini dipandang sebagai sinyal upaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomasi yang konstruktif.

“Belakangan ini, isu yang berkembang lebih banyak berkaitan dengan perundingan dan proposal perdamaian, baik dari Iran maupun AS. Kondisi ini membuat pasar mulai melihat kemungkinan bahwa fase terburuk konflik telah berlalu,” kata Wahyu, memberikan sedikit harapan stabilitas.

Namun demikian, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan tinggi sepanjang tahun 2026. Risiko gangguan pasokan global tetap membayangi pasar energi, terutama jika ketegangan geopolitik kembali meningkat secara signifikan.

Untuk minyak Brent, harga diproyeksikan sempat menyentuh kisaran US$ 125 hingga US$ 130 per barel pada kuartal II-2026, seiring dengan tingginya risiko gangguan pasokan global. Sementara itu, harga minyak WTI diperkirakan dapat mencapai kisaran US$ 115 hingga US$ 120 per barel pada periode yang sama.

Memasuki semester II-2026 hingga menjelang akhir tahun, harga minyak diperkirakan akan mengalami normalisasi secara bertahap. Penyesuaian produksi global dan potensi intervensi cadangan minyak strategis oleh negara-negara konsumen besar akan menjadi faktor pendorong.

Resource Alam Indonesia (KKGI) Mau Merambah Bisnis Pergudangan dan Pariwisata

Wahyu memperkirakan rata-rata harga Brent pada semester II-2026 hingga akhir tahun akan bergerak di kisaran US$ 85 hingga US$ 95 per barel. Harga WTI diproyeksikan berada pada rentang US$ 80 hingga US$ 90 per barel. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap keseimbangan yang lebih baik antara penawaran dan permintaan.

Meskipun demikian, risiko lonjakan harga minyak tetap terbuka jika konflik di Timur Tengah meluas dan mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.

“Jika Selat Hormuz sampai tertutup permanen lebih dari satu bulan, harga minyak berpotensi melonjak di atas US$ 150 – US$ 200 per barel,” tegas Wahyu, menggambarkan skenario terburuk yang dapat terjadi.

Ke depan, investor disarankan untuk mencermati perkembangan politik domestik AS, terutama tekanan terhadap kebijakan perang Trump menjelang pemilu sela pada November mendatang. Perubahan kebijakan dapat memengaruhi dinamika geopolitik dan pasar energi global.

Selain itu, indikator teknikal seperti kondisi overbought pada harga minyak dan pergerakan pasar obligasi AS juga dinilai akan memengaruhi arah kebijakan geopolitik serta harga energi global. Kombinasi faktor fundamental dan teknikal ini akan menjadi kunci dalam memprediksi pergerakan harga minyak di masa depan.

Ringkasan

Meskipun ketegangan geopolitik antara AS dan Iran masih berlangsung, pasar minyak menunjukkan tanda-tanda stabil. Pelaku pasar mulai mengantisipasi risiko konflik, sehingga sentimen geopolitik tidak lagi terlalu berpengaruh. Pasar kini menganggap risiko perang di Timur Tengah telah “priced in”, membatasi potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut setelah sebelumnya melonjak.

Harga minyak diperkirakan akan mengalami normalisasi bertahap pada semester II-2026, dengan rata-rata harga Brent di kisaran US$85-US$95 per barel dan WTI di US$80-US$90 per barel. Namun, risiko lonjakan harga tetap ada jika konflik meluas dan mengganggu distribusi energi global, terutama jika Selat Hormuz sampai tertutup. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan politik AS dan indikator teknikal untuk memprediksi pergerakan harga minyak di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *