Rupiah tembus Rp17.300, BEI Kalteng: IHSG tertekan dan asing mulai keluar

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang baru-baru ini menyentuh level Rp17.300 telah menimbulkan guncangan signifikan, memberikan dampak negatif yang terasa pada dinamika pasar modal domestik. Kondisi ini secara langsung memicu eksodus arus modal asing, terutama seiring dengan belum meredanya tekanan terhadap nilai tukar mata uang Garuda.

Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Tengah (Kalteng), Stephanus Cahyo Adiraja, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini bukanlah fenomena tunggal. Menurutnya, depresiasi ini merupakan hasil kombinasi kompleks antara sentimen global yang memanas dan tantangan krusial di ranah domestik.

“Penurunan nilai rupiah kali ini tidak hanya disebabkan oleh krisis global akibat konflik Iran, akan tetapi juga disebabkan oleh faktor domestik terkait kondisi fiskal dan tata kelola,” terang Stephanus dalam keterangannya yang disampaikan pada Senin (27/4/2026).

Stephanus lebih lanjut memaparkan dari sudut pandang ekonomi, selama ketidakpastian global dan domestik masih membayangi, mata uang Garuda berpotensi untuk melanjutkan tren pelemahannya. Secara teknikal, pergerakan rupiah saat ini berada dalam rentang perdagangan antara Rp17.140 hingga Rp17.340 per dolar AS, sebuah level yang dinilai krusial sebagai titik psikologis penentu arah rupiah ke depan.

“Jika level di atas (Rp17.340) tertembus, maka pelemahannya bisa menjadi lebih signifikan. Namun, apabila berhasil turun di bawah level Rp17.140, maka posisi rupiah bisa kembali lagi menguat ke level terdekat di angka Rp16.900 per dolar AS,” jelas Stephanus, menggarisbawahi skenario pergerakan yang mungkin terjadi.

Terkait implikasinya terhadap pasar modal, Stephanus membenarkan bahwa fluktuasi nilai tukar ini memiliki pengaruh yang sangat besar. Arus modal asing terpantau keluar dari pasar saham domestik, fenomena yang kian jelas seiring dengan berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih tertahan di level 7.106,52. Stephanus memproyeksikan beberapa skenario pergerakan teknikal untuk indeks acuan pasar modal Indonesia ini. “Apabila IHSG turun menembus level 6.942, maka arah selanjutnya akan menuju level 6.745. Namun, apabila indeks mampu bertahan, maka ada potensi untuk kembali ke level 7.450 dengan target pergerakan jangka menengah berada di posisi 7.982,” pungkasnya. (her)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *