
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja cemerlang emiten pakan ternak mewarnai kuartal I-2026. Lonjakan pendapatan dan laba bersih menjadi bukti ketahanan sektor ini, didorong oleh sejumlah faktor positif yang saling bersinergi.
Permintaan protein hewani yang stabil menjadi fondasi utama pertumbuhan ini. Selain itu, pemulihan harga ayam hidup dan day old chick (DOC) turut berkontribusi signifikan. Kondisi industri perunggasan yang kian stabil, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang penuh tantangan, semakin memantapkan langkah emiten pakan ternak.
Sentimen positif juga datang dari inisiatif pemerintah, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diyakini akan mendongkrak konsumsi ayam dan telur dalam jangka menengah, memberikan angin segar bagi industri pakan ternak.
Kendati demikian, emiten pakan ternak tidak sepenuhnya bebas dari tantangan. Kenaikan harga bahan baku impor dan fluktuasi nilai tukar rupiah tetap menjadi perhatian utama, menuntut strategi yang tepat untuk menjaga profitabilitas.
IHSG Masih Tertekan oleh Sentimen Domestik, Investor Disarankan Lebih Selektif
Sebagai gambaran, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 19,95 triliun pada kuartal I-2026, meningkat 12,7% secara year on year (YoY). Laba bersih perusahaan pun melonjak menjadi Rp 2,63 triliun, naik 15,5% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Performa impresif juga ditunjukkan oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Sepanjang tahun 2025, JPFA membukukan pendapatan sebesar Rp 60,72 triliun, tumbuh 8,8% YoY atau bertambah sekitar Rp 1,07 triliun. Pertumbuhan laba bersih bahkan lebih tinggi, mencapai 33,3% YoY menjadi Rp 4,28 triliun.
Peningkatan profitabilitas JPFA tercermin dari margin laba bersih yang naik signifikan dari 5,8% menjadi 7,1%.
Sementara itu, PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) mencatatkan pendapatan kuartal I-2026 sebesar Rp 3,69 triliun, naik 17% YoY dan meningkat 7% secara quarter on quarter (QoQ).
Meskipun laba bersih MAIN mengalami penurunan sebesar 52% dibandingkan kuartal sebelumnya, secara tahunan laba bersih perusahaan justru meroket 96% menjadi Rp 123 miliar.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, memprediksi prospek kinerja emiten pakan ternak pada kuartal II-2026 akan cenderung mixed.
Ada Perubahan Pengendali Emiten, Investor Perlu Selektif Memilih Saham yang Menarik
“Permintaan pakan diperkirakan tetap kuat seiring dengan kebutuhan protein dan potensi dukungan program MBG. Namun, profitabilitas akan sangat dipengaruhi oleh volatilitas harga bahan baku dan nilai tukar rupiah,” jelas Azis kepada Kontan, Rabu (13/5).
Azis menambahkan bahwa tantangan utama bagi sektor ini berasal dari pelemahan rupiah, kenaikan harga impor bahan baku seperti soybean meal dan jagung, serta fluktuasi harga ayam hidup yang dapat berdampak pada daya beli peternak dan volume permintaan pakan.
Selain itu, pelaku pasar perlu mencermati sentimen-sentimen seperti pergerakan harga bahan baku global, implementasi program MBG, kondisi supply-demand ayam broiler, hingga potensi pemulihan konsumsi domestik.
Menurut Azis, kenaikan harga bahan baku impor berpotensi menggerus sebagian manfaat dari peningkatan permintaan akibat program MBG, karena dapat menekan margin emiten. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan biasanya menerapkan efisiensi operasional dan melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap.
Dari sisi rekomendasi saham, Azis memberikan rekomendasi buy untuk saham JPFA dengan target harga Rp 3.100 per saham.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, merekomendasikan buy untuk MAIN dengan target harga Rp 1.700 per saham.
Adapun, Alex Manoonpol dari UBS Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi buy untuk saham CPIN dengan target harga 12 bulan sebesar Rp 6.200 per saham.
Ringkasan
Emiten pakan ternak menunjukkan kinerja yang baik pada kuartal I-2026, didorong oleh permintaan protein hewani yang stabil, pemulihan harga ayam hidup dan DOC, serta potensi dukungan dari program Makan Bergizi Gratis. CPIN, JPFA, dan MAIN mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang signifikan, meskipun MAIN mengalami penurunan laba bersih dibandingkan kuartal sebelumnya.
Prospek kuartal II-2026 diperkirakan bervariasi, dengan permintaan yang tetap kuat tetapi profitabilitas dipengaruhi oleh volatilitas harga bahan baku impor dan nilai tukar rupiah. Analis memberikan rekomendasi beli untuk saham JPFA, MAIN, dan CPIN dengan target harga yang berbeda, menunjukkan potensi pertumbuhan di sektor ini meskipun ada tantangan yang perlu diwaspadai.