Shoesmart.co.id JAKARTA. Tahun 2026 diperkirakan akan menjadi periode yang cerah bagi emiten produsen emas, baik yang bergerak di sektor hulu maupun hilir. Pemicunya adalah permintaan emas di dalam negeri yang terus menunjukkan tren peningkatan.
Sebelumnya, World Gold Council melaporkan bahwa permintaan emas batangan di Indonesia melonjak signifikan, mencapai 47% secara tahunan menjadi 23,6 ton pada kuartal I-2026. Lonjakan ini sejalan dengan tren global, di mana emas semakin diminati sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang menghantui.
Raden Bagus Bima, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia, menuturkan bahwa peningkatan permintaan emas ini merupakan sinyal positif bagi emiten produsen emas, baik di sektor hulu maupun hilir. Apalagi, harga emas dunia saat ini masih bertengger di level tinggi, yang secara otomatis mendongkrak nilai jual produk emas dan memperlebar margin keuntungan bagi emiten di sektor ini.
Tekanan IHSG Belum Usai, Rebalancing MSCI dan Rupiah Jadi Pemberat
Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa harga emas spot berada di level US$ 4.540,08 per ons troi pada Jumat (15/5/2026), mengalami penurunan sebesar 2,41% dari hari sebelumnya. Namun, secara kumulatif sejak awal tahun, harga emas telah mencatatkan kenaikan sebesar 5,28%.
Bagi emiten penambang emas yang beroperasi di sektor hulu, momentum tingginya permintaan emas ini tentu menjadi angin segar. Mereka dapat secara langsung menikmati dampak positif dari kenaikan harga. Asalkan biaya produksi tetap terkendali, kenaikan harga emas akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan laba bersih perusahaan.
“Bahkan, bukan tidak mungkin beberapa emiten akan mampu mencetak lonjakan profit yang sangat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujar Raden Bagus Bima pada Sabtu (16/5/2026).
Sementara itu, bagi emiten hilir yang memasarkan emas batangan kepada masyarakat, tingginya permintaan membuka peluang untuk meningkatkan volume penjualan secara masif dan memperluas basis pelanggan.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, berpendapat bahwa meskipun harga emas cenderung melandai dalam beberapa waktu terakhir, kondisi ini justru dapat dilihat sebagai momentum akumulasi yang menarik bagi investor. Hal ini didasari oleh ekspektasi jangka panjang yang masih sangat bullish terhadap harga emas.
“Ekspektasinya, harga emas masih berpotensi untuk kembali ke level US$ 5.000 per ons troi,” kata Nafan Aji Gusta pada Sabtu (16/5/2026).
Harga Emas Berpotensi Terkoreksi Pekan Depan, Simak Proyeksi Analis Berikut
Dengan demikian, besar kemungkinan emiten-emiten penghasil emas akan kembali mencatatkan kinerja yang cemerlang, baik secara operasional maupun keuangan, sepanjang tahun ini.
Strategi Emiten Emas
Untuk memaksimalkan momentum tingginya permintaan emas ini, Nafan Aji Gusta menyarankan agar emiten emas menjalankan beberapa strategi utama secara konsisten. Salah satunya adalah dengan mempercepat eksplorasi tambang untuk meningkatkan cadangan dan sumber daya emas. Langkah ini penting untuk memperpanjang usia pertambangan dan memastikan keberlanjutan produksi di masa depan.
Selain itu, emiten produsen emas juga perlu secara aktif meningkatkan kapasitas pengolahan bijih emas. Dengan kapasitas olah yang lebih besar, emiten memiliki kesempatan untuk memaksimalkan potensi produksi dan meningkatkan efisiensi operasional.
Bagi emiten yang bergerak hingga ke sektor hilir, kenaikan harga emas juga menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat sinergi dengan bullion bank di Tanah Air. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi, menekan biaya penyimpanan emas, hingga memangkas beban logistik emas.
Namun demikian, emiten emas juga perlu mewaspadai berbagai risiko, seperti inflasi biaya operasional, khususnya biaya energi seperti bahan bakar untuk aktivitas penambangan dan pengolahan, serta biaya logistik. “Risiko penurunan kualitas kadar emas seiring bertambahnya usia tambang juga perlu diperhatikan oleh emiten,” tutur Nafan Aji Gusta.
Sementara itu, menurut Raden Bagus Bima, emiten emas yang memiliki cadangan besar, biaya produksi rendah, dan kemampuan untuk meningkatkan produksi akan lebih diuntungkan oleh sentimen peningkatan permintaan dan potensi kenaikan harga komoditas emas.
Oleh karena itu, strategi yang perlu diperkuat oleh emiten adalah percepatan eksplorasi tambang, peningkatan kapasitas produksi dan smelter, hingga ekspansi bisnis hilir. Integrasi dari hulu ke hilir akan menjadi nilai tambah yang signifikan, mengingat emiten dapat menikmati margin di seluruh rantai bisnis emas.
Lebih lanjut, penguatan ekosistem investasi emas juga akan menjadi salah satu game changer di masa depan. Terlebih lagi, saat ini banyak masyarakat yang membeli emas tidak lagi hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk digital sebagai investasi jangka panjang.
“Emiten yang mampu masuk ke ekosistem tersebut berpotensi memperoleh pendapatan yang lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan penjualan komoditas mentah,” jelas Raden Bagus Bima.
Risiko utama bagi emiten-emiten emas, menurut Raden Bagus Bima, adalah volatilitas harga komoditas emas itu sendiri. Jika kelak suku bunga acuan mulai turun dan konflik geopolitik mereda, harga emas berpotensi mengalami koreksi. Emiten juga perlu mewaspadai potensi perubahan regulasi terkait royalti mineral yang secara langsung dapat memengaruhi kinerja bottom line perusahaan.
Dari sekian banyak emiten emas, Raden Bagus Bima merekomendasikan saham BRMS, ANTM, dan ARCI untuk dikoleksi oleh investor. Target harga saham BRMS berada di kisaran Rp 820–Rp 920 per saham dengan stoploss di level Rp 750 per saham. Saham ANTM ditargetkan mencapai level Rp 3.880–Rp 4.250 per saham dengan stoploss di level Rp 3.450 per saham. Adapun saham ARCI ditargetkan menembus level Rp 1.550–Rp 1.720 per saham dengan stoploss di level Rp 1.375 per saham.
Di sisi lain, Nafan Aji Gusta merekomendasikan untuk add saham ANTM dengan target harga di level Rp 4.390 per saham.
Ringkasan
Emiten produsen emas diprediksi akan mengalami periode cerah di tahun 2026 seiring dengan meningkatnya permintaan emas di dalam negeri. World Gold Council melaporkan lonjakan permintaan emas batangan di Indonesia sebesar 47% pada kuartal I-2026, sejalan dengan tren global di mana emas menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Kenaikan harga emas dunia juga memberikan dampak positif bagi emiten penambang emas, berpotensi meningkatkan laba bersih perusahaan.
Emiten emas disarankan untuk mempercepat eksplorasi tambang dan meningkatkan kapasitas pengolahan bijih emas guna memaksimalkan momentum permintaan tinggi. Emiten juga perlu mewaspadai risiko inflasi biaya operasional dan penurunan kualitas kadar emas. Saham BRMS, ANTM, dan ARCI direkomendasikan untuk dikoleksi oleh investor, dengan target harga dan stoploss yang telah ditentukan.