Shoesmart.co.id – Pasar private equity global diperkirakan akan memasuki babak baru pemulihan pada tahun 2026. Setelah sempat tertekan pascapandemi akibat suku bunga yang tinggi, pengetatan kredit, serta minimnya aktivitas exit dan distribusi dana kepada investor, angin segar tampaknya mulai berhembus.
Menurut laporan Alternative Investments Outlook 2026 dari J.P. Morgan Asset Management yang dirilis pada Sabtu (16/5/2026), normalisasi pasar kredit, penurunan suku bunga, dan geliat aktivitas merger dan akuisisi (M&A) menjadi kunci pendorong kebangkitan private equity di kancah global.
J.P. Morgan mengindikasikan bahwa tanda-tanda pemulihan pasar sudah mulai terlihat sejak tahun 2025. Hal ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas initial public offering (IPO) dan M&A, serta bergairahnya kembali pasar venture capital berkat pesatnya perkembangan sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
“Private equity memasuki tahun 2026 dengan modal penting untuk mendukung kesepakatan, mulai dari stabilisasi valuasi, terbukanya kembali pasar kredit, hingga sentimen investor yang membaik,” tulis J.P. Morgan dalam laporannya.
Lantas, faktor apa saja yang akan menjadi penentu arah pasar private equity di tahun 2026? J.P. Morgan menyoroti dua hal utama.
Pertama, peningkatan aktivitas transaksi dan peluang likuiditas seiring dengan kembalinya pembeli, penjual, dan pemberi pinjaman ke pasar. Kedua, munculnya gelombang inovasi baru, terutama di sektor AI dan kesehatan, yang diyakini memiliki potensi besar dalam menciptakan nilai jangka panjang.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa normalisasi ekspektasi valuasi mulai mempersempit jurang harga antara penjual dan pembeli. Sebelumnya, perbedaan pandangan ini sempat membekukan pasar transaksi sejak tahun 2022.
Kabar baik lainnya datang dari pasar kredit yang mulai pulih. Penurunan spread pinjaman membuat pembiayaan leveraged buyout (LBO) kembali menarik, terutama untuk transaksi di segmen small dan middle market.
J.P. Morgan mencatat bahwa pada tahun 2023, sebanyak 78% transaksi direct lending dipatok pada level SOFR plus 600 basis poin. Namun, pada tahun 2025, sekitar 50% transaksi sudah berada di bawah SOFR plus 500 basis poin, yang menunjukkan bahwa biaya pendanaan mulai mengalami penurunan.
Segmen small dan middle market dinilai menjadi salah satu area paling menarik di tahun 2026. Perusahaan di segmen ini dianggap lebih fleksibel, memiliki valuasi yang lebih rendah, serta lebih mudah menciptakan nilai melalui perbaikan operasional, bukan hanya sekadar mengandalkan leverage.
“Perusahaan small dan middle market umumnya masih dimiliki oleh keluarga atau pendiri, sehingga peluang profesionalisasi bisnis, efisiensi, dan ekspansi strategis melalui M&A masih sangat besar,” demikian bunyi laporan tersebut.
Selain itu, pasar secondary private equity juga diperkirakan akan terus tumbuh pesat. Nilai transaksi secondary global mencapai US$ 160 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan menembus US$ 200 miliar pada tahun 2025.
Di sisi lain, J.P. Morgan menilai bahwa sektor AI akan menjadi pusat utama penciptaan nilai baru di private market. Banyak perusahaan teknologi kini memilih untuk bertahan lebih lama sebagai perusahaan privat dibandingkan langsung melantai di bursa.
Sebagai contoh, OpenAI, yang baru meluncurkan ChatGPT sekitar tiga tahun lalu, kini telah memiliki valuasi mencapai US$ 500 miliar. Sementara perusahaan infrastruktur AI seperti Databricks juga telah menembus valuasi lebih dari US$ 100 miliar.
“Value creation di sektor teknologi kini semakin bergeser dari pasar publik ke private market,” tulis J.P. Morgan.
Laporan itu juga menyoroti besarnya potensi AI terhadap ekonomi global. Belanja teknologi informasi (IT spending) dunia, yang saat ini sekitar US$ 5 triliun, diproyeksikan meningkat menjadi US$ 15 triliun dalam satu dekade mendatang.
Selain teknologi, sektor kesehatan juga dinilai menjadi salah satu sumber inovasi terbesar di private market. Perkembangan terapi genetik berbasis CRISPR, AI untuk penemuan obat, hingga kemajuan precision medicine dinilai membuka peluang pertumbuhan jangka panjang.
Menurut J.P. Morgan, kondisi saat ini menciptakan momentum menarik bagi investor karena valuasi sektor kesehatan sudah terkoreksi cukup dalam, sementara inovasi ilmiah justru berkembang pesat.
“2026 berpotensi menjadi tahun yang menjanjikan bagi private equity dengan dukungan likuiditas yang membaik dan inovasi yang terus berkembang,” pungkas J.P. Morgan.
Ringkasan
Pasar private equity global diperkirakan akan pulih pada tahun 2026 setelah tertekan akibat suku bunga tinggi dan pengetatan kredit. Normalisasi pasar kredit, penurunan suku bunga, dan peningkatan aktivitas merger dan akuisisi (M&A) menjadi pendorong utama. Tanda-tanda pemulihan sudah terlihat sejak 2025 dengan meningkatnya IPO, M&A, dan bergairahnya pasar venture capital, terutama di sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Peningkatan aktivitas transaksi, peluang likuiditas, dan inovasi di sektor AI dan kesehatan menjadi penentu arah pasar private equity. Segmen small dan middle market dinilai menarik karena fleksibilitas dan potensi perbaikan operasional. Sektor AI menjadi pusat penciptaan nilai baru, dengan perusahaan teknologi memilih bertahan lebih lama sebagai perusahaan privat. Kondisi saat ini menciptakan momentum menarik bagi investor di sektor kesehatan dengan valuasi yang terkoreksi dan inovasi ilmiah yang pesat.