Raksasa makanan dan minuman global, PepsiCo Global, baru-baru ini mengumumkan langkah signifikan dalam upaya keberlanjutannya dengan melaporkan penurunan penggunaan plastik virgin sebesar lima persen pada tahun 2024 dibandingkan periode sebelumnya. Komitmen ini menegaskan dedikasi perusahaan untuk beralih ke kemasan berkelanjutan dan bahan daur ulang, sebagai strategi utama menekan laju penambahan sampah plastik yang kian memprihatinkan.
Dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4), Chief Sustainability Officer PepsiCo Global, Jim Andrew, mengkonfirmasi pencapaian tersebut. “Kami mengurangi penggunaan plastik virgin dalam lingkup operasional kami sebesar lima persen dari tahun ke tahun. Kami memiliki sekitar 15 persen bahan daur ulang dalam lingkup tersebut,” ujar Andrew, menyoroti progres nyata perusahaan dalam transisi menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai informasi, plastik virgin adalah plastik murni yang diproduksi dari bahan baku baru, tanpa melibatkan proses daur ulang sebelumnya. Umumnya, bahan dasar plastik jenis ini berasal dari sumber daya tak terbarukan seperti minyak bumi atau gas alam. Praktik penggunaan plastik virgin ini menjadi sorotan tajam dan kritik dari para aktivis lingkungan, mengingat dampak pencemaran yang masif dari akumulasi sampah plastik di berbagai ekosistem.
Meski demikian, Jim Andrew menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan adalah mereduksi volume penggunaan plastik secara keseluruhan sebagai material kemasan, sebelum beralih ke opsi plastik daur ulang. Pendekatan ini menunjukkan strategi holistik PepsiCo dalam mengatasi tantangan sampah plastik.
Untuk mewujudkan visi kemasan berkelanjutan ini, PepsiCo memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak strategis. Di kancah global, perusahaan bermitra dengan Ellen MacArthur Foundation, sebuah badan amal terkemuka asal Inggris yang fokus pada pengembangan ekonomi sirkular. Sementara itu, di Indonesia, PepsiCo menjalin sinergi dengan Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan Bali Waste Cycle. Kemitraan lokal ini berperan krusial dalam membantu industri makanan ringan dan minuman kemasan mengumpulkan produk pascapakai serta memfasilitasi proses daur ulang, mempercepat transisi menuju sistem yang lebih sirkular.
Produksi Plastik Global Tembus 400 Juta Ton per Tahun
Merujuk data dari United Nations Environment Programme (UNEP), skala permasalahan sampah plastik global memang sangat masif. Setiap tahun, lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia, dengan hampir setengahnya dirancang untuk penggunaan sekali pakai. Ironisnya, dari jumlah fantastis ini, kurang dari 10 persen yang berhasil didaur ulang.
Implikasi dari produksi masif ini sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan sekitar 11 juta ton sampah plastik berakhir mengendap di sungai dan danau, yang pada akhirnya bermuara ke lautan. Lebih jauh lagi, fragmen kecil dari plastik ini, yang dikenal sebagai mikroplastik, kini ditemukan masuk ke dalam rantai makanan manusia. Keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia telah dikaitkan dengan potensi pemicu berbagai masalah kesehatan serius, menambah urgensi penanganan isu ini.
Data UNEP juga secara gamblang mengungkapkan bahwa industri kemasan memegang peran sebagai penghasil sampah plastik sekali pakai terbesar di dunia, sebuah fakta yang semakin menekankan pentingnya inisiatif seperti yang dilakukan PepsiCo dalam mendorong kemasan berkelanjutan dan praktik daur ulang.