Harga minyak rentan bergejolak, WTI diproyeksi bergerak di rentang ini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar minyak mentah dunia menunjukkan ketahanan yang luar biasa, mempertahankan level harga tinggi meskipun sempat mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Dinamika harga ini terus menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar global, terutama di tengah bayang-bayang konflik yang memanas di Timur Tengah yang berpotensi serius mengganggu pasokan minyak global.

Menurut data dari Trading Economics yang tercatat pada pukul 17.02 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 94,61 per barel. Angka ini mencerminkan penurunan tipis 1,44% dibandingkan sehari sebelumnya. Namun, secara keseluruhan dalam skala mingguan, harga WTI justru membukukan penguatan yang signifikan sebesar 6,55%, menunjukkan tren kenaikan jangka pendek yang kuat. Senada, harga minyak Brent terkoreksi 1,74% menuju US$ 96,16 per barel, namun tetap mencatat kenaikan impresif 3,74% sepanjang sepekan terakhir.

Harga Minyak Rebound Usai Israel Berencana Lakukan Pembicaraan Damai dengan Lebanon

Peningkatan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir tidak lepas dari meningkatnya premi risiko geopolitik. Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa ketegangan yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah telah menjadi pendorong utama. Kekhawatiran pasar memuncak terkait potensi gangguan serius terhadap pasokan maupun distribusi energi global, khususnya jika konflik tersebut meluas dan memengaruhi aktivitas pelayaran vital di Selat Hormuz.

“Pergerakan harga minyak mentah saat ini sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan fisik dan jalur logistik di Selat Hormuz. Sentimen tersebut mendorong kenaikan premi risiko geopolitik yang tercermin pada harga minyak berjangka,” ungkap Wahyu kepada Kontan, Kamis (4/6/2026), menegaskan betapa rentannya pasar terhadap eskalasi konflik di wilayah kunci tersebut.

Memasuki kuartal III-2026, Wahyu Laksono memperkirakan bahwa volatilitas harga minyak akan tetap tinggi. Secara fundamental, sejumlah lembaga internasional terkemuka seperti World Bank dan Fitch sebelumnya memproyeksikan harga rata-rata Brent akan berkisar di US$ 86-US$ 87 per barel sepanjang tahun ini. Namun, skenario tersebut berpotensi berubah drastis.

Skenario kenaikan harga yang lebih ekstrem dapat terjadi apabila konflik di Timur Tengah terus memanas dan mengganggu arus pengiriman minyak global secara signifikan. Dalam kondisi demikian, harga minyak berpotensi melesat tajam, bahkan menembus level US$ 100 per barel dan berlanjut hingga US$ 115 per barel. Wahyu memperkirakan rata-rata harga WTI pada kuartal III-2026 akan berada di sekitar US$ 95 per barel, dengan rentang pergerakan antara US$ 80 hingga US$ 115 per barel. Sementara itu, rata-rata harga Brent diperkirakan mencapai sekitar US$ 100 per barel, bergerak dalam kisaran US$ 85 hingga US$ 120 per barel.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak yang mendekati level US$ 100 per barel menjadi sebuah tantangan ekonomi yang substansial. Mengingat posisi Indonesia sebagai net importer minyak, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan nilai impor migas secara signifikan. Kondisi ini pada gilirannya akan menambah tekanan besar terhadap anggaran negara, terutama terkait subsidi dan kompensasi energi yang harus ditanggung pemerintah.

Harga Minyak Anjlok 1%, WTI Kembali ke Bawah US$ 60 Per Barel di Pagi Ini (21/1)

Oleh karena itu, pelaku pasar sangat dianjurkan untuk terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah secara saksama. Ini mencakup kemungkinan penerapan sanksi tambahan terhadap Iran serta potensi gangguan terhadap jalur distribusi minyak vital di kawasan Teluk Persia. Selain faktor geopolitik yang dominan, investor juga perlu aktif mengawasi perkembangan inflasi global dan arah kebijakan suku bunga dari bank sentral utama dunia.

Kenaikan harga energi secara umum memiliki potensi untuk mendorong inflasi lebih tinggi. Jika hal ini terjadi, dampaknya akan meluas, memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi global serta permintaan energi secara keseluruhan. Dengan demikian, dinamika pasar minyak tidak hanya berdampak pada harga komoditas itu sendiri, tetapi juga pada stabilitas ekonomi makro dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *