IHSG kembali anjlok 4%, ini support berikutnya

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan intraday Kamis, 4 Juni 2026. Pelemahan ini beriringan dengan anjloknya nilai tukar rupiah yang untuk pertama kalinya menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik.

Pada pukul 10:03 WIB, IHSG tercatat di posisi 5.674,74, terkoreksi tajam hingga 4,47% dari penutupan sehari sebelumnya. Di saat bersamaan, kurs rupiah spot tergerus 0,35% menjadi Rp 18.029 per dolar AS. Kondisi ini menandai momen krusial di mana rupiah melemah melampaui batas Rp 18.000 terhadap mata uang Paman Sam, sebuah level yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Tim Riset MNC Sekuritas menjelaskan bahwa pelemahan pasar domestik tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan tren merah di mayoritas bursa global dan regional Asia. Sebagai contoh, indeks Nikkei225 Jepang merosot 1,90%, Hang Seng anjlok 1,18%, dan Shanghai Composite turun sekitar 0,37%. Menurut riset mereka pada Kamis (4/6/2026), tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian seputar negosiasi antara AS dan Iran. Lebih lanjut, terdepresiasinya rupiah menambah kekhawatiran investor mengenai stabilitas makroekonomi domestik yang kian genting.

Sementara itu, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menyoroti analisis teknikal pasar yang menunjukkan pola downtrend berkelanjutan bagi IHSG, ditandai dengan pembentukan lower high dan lower low yang terus berlanjut. Hingga saat ini, belum terlihat adanya sinyal pembalikan tren yang kuat pada grafik mingguan. Mereka mengidentifikasi area 5.350–5.400 sebagai support teknikal terdekat, yang juga merupakan area konsolidasi historis pada tahun 2020–2021.

Apabila tekanan jual di pasar terus berlanjut, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan bahwa level 5.000 akan menjadi support psikologis sekaligus area mayor bagi IHSG. Arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ke depan akan sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk sentimen pasar yang berkembang, kondisi makroekonomi global dan domestik, arus dana asing, serta katalis-katalis lain yang muncul dan mempengaruhi iklim investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *