Emiten perbankan raksasa milik Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), memberikan sinyal optimis kepada para investor di tengah tren koreksi harga sahamnya.
Meskipun harga saham BBCA terus mengalami koreksi hingga akhir April 2026, mencapai Rp5.980 per Kamis (30/4), yang mencerminkan penurunan sebesar 27,55% sepanjang tahun 2026, manajemen BCA mengambil langkah strategis untuk menenangkan pasar.
Di tengah penurunan saham ini, manajemen BCA memutuskan untuk melaksanakan rencana pembelian kembali saham (buyback). Aksi korporasi ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun 2026.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menegaskan bahwa buyback saham ini adalah sinyal optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia. Langkah ini juga menunjukkan keyakinan perusahaan terhadap fundamental bisnisnya yang kuat.
Hendra menambahkan bahwa pelaksanaan buyback saham BBCA akan tetap mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan mematuhi seluruh peraturan yang berlaku.
“Aksi korporasi ini merupakan wujud keyakinan kami atas fundamental bisnis Perseroan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4).
Pelaksanaan buyback saham BBCA telah dimulai sejak 28 April 2026. Aksi korporasi ini merupakan strategi perusahaan untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap fundamental bisnis yang dimiliki.
Buyback saham BBCA dijadwalkan berlangsung selama 12 bulan, mulai dari 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. Namun, pelaksanaan buyback dapat diakhiri lebih awal, dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan regulasi yang berlaku.
Dari sisi kinerja keuangan, BCA berhasil mencatatkan hasil yang positif pada tiga bulan pertama tahun ini. Kinerja perseroan diperkirakan akan terus tumbuh pada kuartal II/2026.
Hingga Maret 2026, laba bersih konsolidasian perseroan tumbuh 3,83% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp14,68 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp14,14 triliun.
Menurut laporan keuangan yang dipublikasikan, pencapaian laba BCA pada periode ini didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik tipis 0,04% YoY menjadi Rp21,15 triliun, dari kuartal I/2025 sebesar Rp21,14 triliun.
Selain itu, pertumbuhan pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi sebesar 8,65% YoY juga berkontribusi pada kinerja laba periode ini. Pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi BCA hingga Maret 2026 mencapai Rp5,06 triliun, meningkat dari kuartal I/2025 sebesar Rp4,65 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, bank swasta terbesar di Indonesia ini mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 5,6% YoY menjadi Rp994 triliun.
Hendra menjelaskan bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri memberikan dampak positif terhadap kinerja kredit perseroan pada kuartal I/2026.
“Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara prudent,” kata Hendra dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Kuartal I/2026 secara daring, Kamis (23/4).
Hendra memastikan bahwa perseroan senantiasa menyalurkan kredit dengan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin.
Pada periode ini, rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) terjaga dengan baik, masing-masing di posisi 5,1% dan 1,8%. Rasio pencadangan LAR dan NPL juga berada pada level yang solid, masing-masing 69,7% dan 174,6%.
Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) BCA hingga Maret 2026 mencapai Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3% YoY. Porsi CASA mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK perseroan.
PERMINTAAN KREDIT
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, menambahkan bahwa realisasi kinerja pada kuartal I/2026 sejalan dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan.
Hingga saat ini, Vera memastikan bahwa target perseroan masih sesuai dengan RBB 2026, sambil terus memperhatikan kondisi ekonomi dan permintaan kredit dalam sembilan bulan mendatang.
“Kami berharap ada perbaikan ekonomi dan permintaan kredit untuk sembilan bulan mendatang. Jadi, kami masih melihat tren, rencana kerja itu masih untuk kami teruskan,” jelas Vera.
BCA dikenal sebagai bank yang secara konsisten mencatatkan pertumbuhan kinerja.
“Di tengah tantangan saat ini, bank masih mencatat pertumbuhan kinerja adalah sesuatu yang positif dan menunjukkan resiliensi bank sehingga masih sesuai ekspektasi,” kata Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, kepada Bisnis, Kamis (23/4).
Untuk kuartal II/2026, Trioksa memperkirakan BCA akan tetap mencatatkan pertumbuhan kinerja meskipun tren suku bunga diperkirakan akan berbalik arah.
Meskipun demikian, prospek saham BBCA dinilai agak ‘anomali’ di tengah pertumbuhan kinerja yang konsisten. Trioksa melihat bahwa harga saham BBCA dalam tren menurun akibat penjualan masif dari investor asing, di tengah sentimen MSCI dan pelemahan rupiah.
“Prospek BBCA dalam jangka pendek masih akan tertekan, namun masih terlihat prospek dalam jangka panjang bila terjadi perbaikan penilaian MSCI dan rupiah kembali stabil,” tuturnya.
Victor Stefano dan Naura Reyhan, analis BRI Danareksa Sekuritas, dalam riset terbarunya mempertahankan peringkat beli BBCA, meski menetapkan target harga yang lebih rendah di level Rp10.900 dari sebelumnya Rp11.400.
“Terlepas dari adanya risiko negara yang membayangi dan arus keluar dana asing yang terus-menerus, kami melihat potensi penurunan valuasi yang terbatas, yang sudah berada di bawah -3SD [standard deviation] dalam hal cost of equity (CoE) dan price to book value (PBV) tersirat,” kata mereka dalam risetnya belum lama ini.
BRI Danareksa memperkirakan pendapatan bunga bersih pada 2026 akan mencapai Rp91,63 triliun, naik 6,85% YoY dari tahun lalu Rp85,75 triliun. Sedangkan laba bersih 2026 diproyeksi naik 7,43% YoY menjadi Rp61,81 triliun. (Ni Luh Angela/Patricia Yashinta/Reni Lestari)
Ringkasan
Meskipun harga saham BBCA mengalami koreksi signifikan hingga akhir April 2026, mencapai penurunan 27,55% sepanjang tahun, manajemen BCA mengambil langkah strategis dengan melakukan buyback saham. Keputusan ini sebagai sinyal optimisme terhadap pasar modal Indonesia dan kepercayaan terhadap fundamental bisnis perusahaan yang kuat, serta komitmen terhadap Good Corporate Governance (GCG).
Pada kuartal I/2026, BCA mencatatkan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sebesar 3,83% YoY menjadi Rp14,68 triliun, didorong oleh pendapatan bunga bersih dan pertumbuhan pendapatan komisi. Penyaluran kredit juga mengalami pertumbuhan sebesar 5,6% YoY menjadi Rp994 triliun. Analis BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat beli untuk BBCA, meskipun dengan target harga yang lebih rendah, karena melihat potensi penurunan valuasi yang terbatas.