Shoesmart.co.id, JAKARTA — Di tengah gejolak ekonomi global, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan, atau BI Rate, stabil di angka 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada Rabu, 20 Mei 2026. Prediksi ini muncul berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan adanya kenaikan sebesar 25 basis poin.
Mohamad Adityo Nugroho, Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menekankan bahwa ketidakpastian yang bersumber dari konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi momok bagi stabilitas pasar keuangan global. Eskalasi konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia, sehingga meningkatkan potensi inflasi di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris.
“Pertanyaan krusialnya adalah, berapa lama bank sentral mampu menahan laju suku bunga? Negara seperti Norwegia saja sudah memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga. Kemungkinan serupa juga terbuka lebar,” ungkap Adityo pada Rabu (20/5/2026).
Lebih lanjut, Adityo menilai bahwa meredanya ketegangan di Selat Hormuz akan menjadi penentu penting dalam memprediksi arah inflasi dan kebijakan moneter global ke depannya. Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia, memiliki dampak signifikan terhadap harga komoditas energi.
Tekanan juga terasa di pasar obligasi global, di mana investor asing beramai-ramai melepas Surat Utang Negara (SBN) di berbagai negara, yang pada gilirannya mendorong kenaikan *yield* obligasi. Adityo menyoroti, “Bahkan *yield* obligasi Jerman, yang biasanya relatif stabil, ikut melonjak. Dulu, kenaikan hanya terjadi di Prancis dan Inggris, tapi sekarang Jerman pun terkena imbasnya.”
Meskipun demikian, Mirae Asset tetap pada keyakinannya bahwa BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Adityo menjelaskan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga di pasar lebih didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp17.700 per dolar AS, memicu kekhawatiran bahwa rupiah bisa menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Selain faktor eksternal, Adityo juga menyoroti faktor musiman yang turut membebani rupiah, seperti pembagian dividen dan musim haji, yang meningkatkan permintaan terhadap dolar AS di pasar. Selain itu, laju inflasi yang semakin mendekati level BI Rate juga mendorong investor untuk berburu dolar AS sebagai aset *safe haven*.
Namun, Adityo melihat adanya secercah harapan di pasar surat utang domestik yang masih relatif stabil. Kepemilikan asing di pasar SBN tercatat sebesar 12,68% per 18 Mei 2026, yang menurutnya belum memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah.
Sayangnya, tekanan di pasar saham masih terus berlanjut. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (*net sell*) sebesar Rp52 triliun secara *year to date* (YtD), seiring dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pagi ini, rupiah dibuka melemah 36 poin atau 0,20% ke level Rp17.742 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS justru menguat 0,05% ke angka 99,37.
Baca juga: RDG Bank Indonesia Mei 2026: Akankah BI Rate Dikerek demi Pulihkan Rupiah?
Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.742 per Dolar AS, Mata Uang Asia Lain Menguat
Ringkasan
Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI Rate di 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan dampaknya pada harga minyak global menjadi faktor kunci pertimbangan, meskipun tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi global meningkat.
Pelemahan rupiah hingga Rp17.700 per dolar AS, faktor musiman seperti pembagian dividen dan musim haji, serta inflasi yang mendekati BI Rate mendorong investor mencari aset safe haven. Meskipun demikian, pasar surat utang domestik dinilai masih relatif stabil, meskipun tekanan di pasar saham terus berlanjut dengan aksi jual bersih oleh investor asing.