Shoesmart.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terhuyung pada perdagangan Kamis (21 Mei 2026), tertekan sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini ditutup dengan penurunan tajam, menembus level psikologis 6.100.
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG terkoreksi 3,54% atau merosot 223,56 poin ke level 6.094,94. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya aksi jual oleh para investor di tengah ketidakpastian arah kebijakan dan kondisi global yang masih penuh tantangan.
Tekanan dari MSCI dan Kenaikan Suku Bunga BI Jadi Katalis Koreksi
Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG ini sejalan dengan ekspektasi teknikal sebelumnya. Menurutnya, salah satu pemicu utama koreksi adalah rebalancing indeks MSCI yang mengakibatkan arus keluar dana asing.
“IHSG terkoreksi 3,54% ke level 6.094,94. Koreksi ini diperkirakan dipicu oleh sentimen hasil rebalancing MSCI, di mana beberapa saham big caps yang dikeluarkan dari indeks memicu outflow,” ungkap Herditya kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).
Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% turut memperberat sentimen pasar. Kebijakan ini dinilai berpotensi menahan laju pertumbuhan kredit perbankan dan mempersempit likuiditas di pasar keuangan.
Rekomendasi Teknikal Saham ASII, DEWA, PTBA untuk Jumat (22/5)
Dari sisi eksternal, pasar juga memberikan respons terhadap risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengindikasikan bahwa bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan sikap hawkish. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Sentimen ini memberikan tekanan tambahan pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui penguatan dolar AS dan meningkatnya arus modal keluar.
IHSG Berisiko Melanjutkan Penurunan
Secara teknikal, Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan berikutnya.
“IHSG kami perkirakan masih rawan koreksi dengan support di 6.000 dan resistance di 6.132,” imbuhnya.
Level 6.000 kini menjadi area psikologis penting yang akan menentukan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Tekanan Jual Masih Mendominasi Pasar
Senada dengan itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa tekanan jual di pasar masih sangat dominan.
“IHSG yang turun hingga menembus level 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih tinggi, bahkan saat bursa Asia cenderung bergerak positif,” jelasnya.
Menurut Hendra, tekanan pasar tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipicu oleh sentimen domestik yang belum kondusif.
Harga Nikel di LME dan Shanghai Turun, Kebijakan Ekspor Satu Pintu Jadi Pemicu
Dari dalam negeri, pasar memberikan respons negatif terhadap ketidakpastian kebijakan terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam. Investor khawatir bahwa kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.
“Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor, sehingga memicu kekhawatiran investor,” ujarnya.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.600 per dolar AS serta derasnya arus keluar dana asing semakin memperberat tekanan di pasar saham domestik.
Potensi Koreksi Lanjutan IHSG
Dari sisi teknikal, Hendra menegaskan bahwa IHSG masih berada dalam tren bearish yang cukup kuat dan belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah.
“Area 6.000 menjadi support krusial. Jika ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke 5.880–5.900,” ungkapnya.
Meski demikian, ia melihat adanya peluang technical rebound dalam jangka pendek, terutama setelah koreksi tajam yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Aksi bargain hunting pada saham big caps dapat menjadi pemicu rebound terbatas.
Di tengah tekanan pasar, investor disarankan untuk lebih selektif dan fokus pada saham dengan fundamental kuat serta karakter defensif.
Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain TLKM di area beli Rp2.860 dengan target Rp3.200, CPIN dengan target Rp4.500, INDF menuju Rp7.000, serta TINS dengan target Rp3.700.
Sementara itu, Herditya juga merekomendasikan saham HMSP di kisaran Rp780–Rp815, PGAS di Rp1.870–Rp1.935, serta WIIM di Rp1.865–Rp1.960.
Ringkasan
IHSG mengalami penurunan tajam sebesar 3,54% pada perdagangan Kamis, menembus level psikologis 6.100. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk rebalancing indeks MSCI yang menyebabkan arus keluar dana asing dan keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Sentimen negatif dari eksternal juga berperan, terutama terkait dengan sikap hawkish The Fed yang berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi.
Para analis memprediksi IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dengan support di 6.000. Tekanan jual masih mendominasi pasar, dipicu pula oleh sentimen domestik seperti ketidakpastian kebijakan ekspor sumber daya alam dan pelemahan nilai tukar rupiah. Investor disarankan untuk selektif dan fokus pada saham dengan fundamental kuat, dengan beberapa rekomendasi saham seperti TLKM, CPIN, INDF, dan TINS.