MTEL Merger: Katalis Bisnis & Target Harga Saham Terbaru!

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), tengah bersiap melakukan langkah strategis dengan menggabungkan (merger) dua entitas anak usahanya, yaitu PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT), ke dalam perseroan. Aksi korporasi ini ditargetkan efektif berlaku mulai 1 Juli 2026.

Rencana penggabungan ini telah mengantongi persetujuan dari dewan komisaris MTEL, PST, dan UMT pada tanggal 6 Mei 2026. Kendati demikian, realisasinya masih menunggu restu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) masing-masing perusahaan serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di sisi lain, Mitratel juga tengah gencar memperluas jangkauan bisnisnya di luar Pulau Jawa. Lalu, bagaimana sebenarnya potensi bisnis Mitratel di tengah hiruk pikuk aksi korporasi yang sedang berlangsung?

Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, menyoroti bahwa *tenancy ratio* atau rata-rata penyewa per menara Mitratel mengalami peningkatan menjadi 1,57 kali pada kuartal pertama 2026. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan kolokasi, yaitu jumlah titik penyewaan bersama atau operator tambahan di menara Mitratel, yang melonjak 11,3% secara tahunan menjadi 23.006 unit.

Aqil berpendapat bahwa peningkatan *tenancy ratio* ini didorong oleh ekspansi yang dilakukan oleh operator seluler ke wilayah-wilayah di luar Jawa. Ia juga mencatat bahwa lebih dari 59% portofolio menara Mitratel berlokasi di luar Pulau Jawa, termasuk di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

“Peningkatan *tenancy ratio* di tengah gelombang konsolidasi industri operator telekomunikasi menunjukkan kemampuan Mitratel dalam memenuhi kebutuhan mitra strategisnya,” tulis Aqil dalam analisisnya pada Jumat (8/5).

Lebih lanjut, Aqil memproyeksikan bahwa *tenancy ratio* Mitratel masih memiliki potensi untuk terus meningkat seiring dengan implementasi program Internet Rakyat berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Teknologi FWA ini membutuhkan dukungan menara telekomunikasi untuk memancarkan sinyal internet ke rumah-rumah pelanggan.

Menurutnya, dua operator Internet Rakyat, yaitu MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), memiliki target ekspansi layanan yang cukup agresif. Kondisi ini, menurut Aqil, membuka peluang tambahan kolokasi bagi Mitratel.

Aqil juga berpendapat bahwa target ekspansi kedua operator tersebut akan sulit dicapai jika mereka membangun seluruh kebutuhan infrastruktur secara mandiri. Oleh karena itu, penyewaan menara eksisting, termasuk menara milik Mitratel, dinilai sebagai opsi yang lebih efisien.

“Kolaborasi antara penyedia menara dan ekosistem FWA hanyalah masalah waktu, karena mereka membutuhkan akselerasi dengan biaya yang lebih murah,” kata Aqil.

Hingga kuartal pertama 2026, Mitratel mengelola sebanyak 40.327 menara, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 1,9% secara tahunan. Dengan skala aset yang besar ini, peningkatan kolokasi menjadi lebih strategis dibandingkan sekadar melakukan ekspansi jumlah menara.

Aqil menegaskan bahwa kenaikan *tenancy ratio* menjadi salah satu katalis utama bagi Mitratel. Menurutnya, pertumbuhan yang berasal dari kolokasi memiliki kualitas yang lebih baik karena mampu meningkatkan pendapatan tanpa mengubah struktur biaya secara signifikan.

“Ketika *tenancy ratio* naik, *incremental revenue* dari *tenant* tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi,” ujar Aqil.

Sepanjang kuartal pertama 2026, Mitratel berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,29 triliun, meningkat 1,4% secara *year-on-year* (yoy). Sementara itu, laba bersih perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar 3,6% menjadi Rp 545 miliar.

Margin EBITDA Mitratel juga berada pada level yang solid, yaitu 82,7%. Selain fokus pada pengelolaan menara, Mitratel juga terus memperkuat jaringan *fiber optic* yang tumbuh 17,3% menjadi 72.842 km *billable length*. Penguatan fiberisasi ini penting untuk mendukung kebutuhan kapasitas jaringan yang semakin meningkat, latensi yang rendah, serta pengembangan layanan 5G.

Dari sisi arus kas, Mitratel mencatat arus kas neto dari aktivitas operasi sebesar Rp4 triliun pada kuartal pertama 2026. Posisi kas dan setara kas perusahaan juga meningkat menjadi Rp 2,84 triliun, dengan total aset sebesar Rp 60,56 triliun dan ekuitas sebesar Rp 33,66 triliun.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL dengan target harga Rp 760 per saham, yang setara dengan 9,9 kali FY26F EV/EBITDA.

Mirae melihat prospek pertumbuhan laba Mitratel dinilai stabil dan neraca keuangan perusahaan yang sehat. Adapun katalis positif utama bagi perseroan berasal dari pengembangan fiberisasi 5G oleh operator seluler dan meningkatnya permintaan layanan Fixed Wireless Access (FWA).

Ringkasan

Mitratel sedang bersiap untuk melakukan merger antara dua anak usahanya, PST dan UMT, yang ditargetkan efektif pada 1 Juli 2026. Rencana ini telah disetujui oleh dewan komisaris dan masih menunggu persetujuan RUPS serta pernyataan efektif dari OJK. Selain itu, Mitratel juga fokus pada perluasan bisnis di luar Pulau Jawa, yang didorong oleh peningkatan tenancy ratio menjadi 1,57 kali pada kuartal pertama 2026.

Analis Panin Sekuritas melihat peningkatan tenancy ratio sebagai katalis utama bagi Mitratel, didorong oleh ekspansi operator seluler ke luar Jawa dan potensi kolokasi dari implementasi program Internet Rakyat berbasis FWA. Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL dengan target harga Rp 760 per saham, didukung oleh prospek pertumbuhan laba yang stabil dan neraca keuangan yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *