IHSG Merah: DSSA, BBCA, dan BREN Jadi Saham Pemberat?

JAKARTA, Shoesmart.co.id – Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kurang menggembirakan sepanjang tahun 2026, tak lepas dari merosotnya harga saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) di pasar modal Indonesia. Saham-saham seperti DSSA, BBCA, hingga BREN, yang biasanya menjadi motor penggerak utama indeks, kini justru terjerumus ke dalam daftar top 10 laggards IHSG sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD).

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 April menunjukkan bahwa IHSG telah terkoreksi sekitar 19,55% ke level 6.956,81 sepanjang tahun 2026 (YtD). Level ini terakhir kali terlihat pada Juni 2025, saat pasar berjuang untuk pulih setelah pengumuman kebijakan tarif oleh Presiden AS pada April 2025.

Kondisi ini juga tercermin dari aktivitas investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp49,87 triliun dari pasar domestik sepanjang tahun ini. Akibatnya, valuasi IHSG saat ini berada pada level PER 14,69 kali dan PBV 1,9 kali.

Baca Juga: Saham EMAS, MDKA hingga AADI Jadi Dinamo IHSG 4 Bulan Terakhir

Kombinasi antara sentimen geopolitik global, minimnya katalis positif dari dalam negeri, hingga penerapan berbagai aturan baru dalam reformasi pasar modal, telah menekan kinerja sejumlah saham unggulan sepanjang tahun ini. Dua nama besar yang termasuk dalam daftar top laggards adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

DSSA mengalami koreksi signifikan sebesar 60,02% ke Rp1.615 setelah melakukan stock split, dan turut membebani IHSG sebesar 214,26 poin. Senada dengan itu, BREN juga terkoreksi tajam sebesar 54,02% ke Rp4.460, yang berkontribusi pada penurunan IHSG sebesar 193,86 poin.

Baca Juga: Arah IHSG Pekan Depan Ditentukan Rilis Data Ekonomi

Kedua saham ini termasuk dalam daftar 9 saham yang terindikasi high shareholding concentration (HSC) yang diumumkan oleh BEI pada 2 April 2026 lalu. Sejak pengumuman tersebut, keduanya mengalami koreksi harga yang cukup dalam.

Selain DSSA dan BREN, sejumlah saham perbankan terkemuka juga mengalami nasib serupa. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, telah merosot 27,55% ke Rp5.850 dan memangkas IHSG sebesar 210,18 poin.

Baca Juga: IHSG Sepekan Turun 2,42% ke 6.956, Kapitalisasi Pasar Bursa Menguap Rp354 Triliun

Tidak jauh berbeda, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga turun 18,31% ke Rp2.990, sementara saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 13,92% ke Rp4.390. Penurunan kedua saham ini masing-masing mengurangi IHSG sebesar 105,19 poin dan 55,33 poin.

Kinerja saham PT MD Entertainment Tbk. (FILM) juga mengalami koreksi tajam sebesar 83,59% ke Rp2.380, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) ambles 43,88% ke Rp1.835, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melemah 19,25% ke Rp2.810.

Saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga terkoreksi 27,39% ke Rp11.400 dan membebani IHSG sebesar 68,57 poin. Begitu pula dengan saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) yang anjlok 60,91% ke Rp4.710, serta menekan IHSG sebesar 56,97 poin.

Kombinasi Sentimen yang Membebani

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini merupakan hasil dari kombinasi sentimen global dan domestik yang terjadi bersamaan. Kenaikan harga minyak akibat konflik yang memanas di Iran, mendorong investor untuk mengurangiExposure pada aset-aset berisiko.

Di sisi lain, keputusan MSCI untuk menunda perubahan komposisi saham Indonesia juga memicu arus keluar dana asing dalam jangka pendek.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, berpendapat bahwa koreksi tajam ini telah menurunkan rasio price-to-earnings (PE) IHSG ke kisaran 11—12 kali. Level ini mendekati titik terendah dalam lima tahun terakhir dan berada di bawah rata-rata historis di kisaran 14—15 kali.

“Hal tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar risiko, tekanan MSCI, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian FOMC, sudah cukup banyak terdiskon oleh pasar,” jelas Abida.

Abida menilai bahwa level IHSG saat ini menawarkan margin of safety yang cukup bagi investor jangka menengah untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa pasar masih menunggu katalis pemulihan, terutama dari stabilitas nilai tukar rupiah dan kejelasan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Dalam jangka pendek, tekanan pasar juga dibayangi oleh potensi arus keluar dana asing akibat keputusan MSCI yang diperkirakan mencapai Rp15 triliun.

Namun, dalam jangka menengah, terdapat peluang perbaikan yang didukung oleh reformasi di internal bursa. Implementasi high shareholding concentration (HSC), perbaikan aturan free float, serta pengetatan kriteria indeks dinilai dapat memperkuat fondasi pasar modal domestik.

Abida memperkirakan bahwa dalam 6–12 bulan ke depan, terdapat peluang kembalinya aliran dana asing secara lebih struktural seiring dengan berjalannya upaya reformasi tersebut.

Langkah-langkah seperti pemenuhan batas minimal free float 15% dan peningkatan transparansi klasifikasi investor diprediksi akan meningkatkan kepercayaan investor institusi global.

“Dalam skenario base case, Indonesia berpotensi kembali menjadi net buy asing pada kuartal III atau kuartal IV/2026, asalkan rupiah stabil di bawah Rp17.000 dan reformasi berjalan sesuai dengan jadwal,” kata Abida.

Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi dalam periode yang berkepanjangan masih menjadi tantangan bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berikut adalah daftar top 10 laggards IHSG sepanjang 2026:

Kode Saham

Penurunan

Beban IHSG

DSSA

-60,02%

-214,26 poin

BBCA

-27,55%

-210,18 poin

BREN

-54,02%

-193,86 poin

BBRI

-18,31%

-105,19 poin

FILM

-83,59%

-95,27 poin

BRPT

-43,88%

-82,82 poin

TLKM

-19,25%

-70,28 poin

BYAN

-27,39%

-68,57 poin

MORA

-60,91%

-56,97 poin

BMRI

-13,92%

-55,33 poin

Ringkasan

IHSG mengalami penurunan sekitar 19,55% sepanjang tahun 2026, terbebani oleh penurunan saham-saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, BBCA, dan BREN. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh net sell investor asing sebesar Rp49,87 triliun, sentimen geopolitik global, minimnya katalis positif domestik, dan penerapan aturan baru dalam reformasi pasar modal.

DSSA, BREN, dan BBCA menjadi pemberat utama IHSG dengan penurunan signifikan. Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa level IHSG saat ini menawarkan margin of safety untuk akumulasi bertahap, namun katalis pemulihan seperti stabilitas rupiah dan kejelasan kebijakan suku bunga The Fed masih dibutuhkan. Reformasi di internal bursa diharapkan dapat menarik kembali aliran dana asing dalam jangka menengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *