Shoesmart.co.id, JAKARTA — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), emiten konstruksi milik negara, menargetkan suspensi saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat dicabut dan kembali diperdagangkan pada semester kedua tahun ini.
Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, mengungkapkan bahwa kunci utama untuk mencapai target tersebut adalah keberhasilan penyelesaian restrukturisasi keuangan yang saat ini tengah berjalan intensif. 
Saat ini, WIKA berada dalam tahap finalisasi negosiasi restrukturisasi utang, meliputi utang perbankan, obligasi, dan sukuk. Proses restrukturisasi ini diharapkan rampung pada pertengahan tahun ini, membuka jalan bagi pemulihan kinerja perseroan.
Baca Juga: WIKA Kembali Turunkan Utang Rp3,87 Triliun Sepanjang 2025
“Kami menargetkan, dengan selesainya restrukturisasi di sektor perbankan, obligasi, dan sukuk pada semester I, maka di semester II kami sudah bisa fokus untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan perjanjian yang telah direstrukturisasi. Target kami, suspensi saham WIKA sudah bisa dibuka pada semester II/2026,” jelas Agung saat ditemui di Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
Seperti yang diketahui, BEI memberlakukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham WIKA sejak Februari 2025.
Baca Juga: WIKA Amankan Kontrak Tol Harbour Road II Rp5,82 Triliun, Progres Fisik 32,31%
Langkah suspensi tersebut diambil oleh otoritas bursa menyusul ketidakmampuan WIKA dalam memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga obligasi serta sukuk.
Agung mengakui bahwa WIKA menghadapi tantangan keuangan yang cukup berat sepanjang tahun 2025. Dalam situasi tersebut, manajemen mengambil keputusan strategis untuk memprioritaskan ketersediaan dana bagi operasional proyek. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan dari pihak pemberi kerja.
“Tahun 2025 merupakan periode yang cukup menantang bagi WIKA. Oleh karena itu, kami memprioritaskan operasional terlebih dahulu. Setelah itu, baru kami fokus pada restrukturisasi. Sekarang, kemampuan free cash flow perusahaan sebenarnya sudah jauh lebih baik,” pungkasnya.
Hingga Februari 2026, WIKA tercatat mengelola 85 proyek yang sedang berjalan (ongoing) dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,35 triliun. Proyek-proyek ini diharapkan dapat menjadi mesin pendorong arus kas masuk yang signifikan, mendukung komitmen pembayaran utang WIKA pasca-restrukturisasi.
Sepanjang tahun 2025, WIKA berhasil meraih kontrak baru senilai Rp17,46 triliun, sehingga total nilai kontrak yang sedang berjalan mencapai Rp50,52 triliun.
Dengan perolehan tersebut, emiten BUMN Karya ini membukukan penjualan sebesar Rp20,45 triliun, yang terdiri dari penjualan non-Kerja Sama Operasi (KSO) sebesar Rp13,33 triliun dan penjualan KSO senilai Rp7,12 triliun.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
PT Wijaya Karya (WIKA) menargetkan sahamnya kembali aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester kedua tahun 2026. Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyatakan bahwa keberhasilan restrukturisasi keuangan menjadi kunci utama untuk mencapai target tersebut, yang diharapkan rampung pada pertengahan tahun ini.
Saat ini WIKA sedang dalam tahap finalisasi negosiasi restrukturisasi utang, termasuk utang perbankan, obligasi, dan sukuk. BEI sendiri menangguhkan perdagangan saham WIKA sejak Februari 2025 karena ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga obligasi serta sukuk. WIKA memprioritaskan operasional proyek untuk menjaga kepercayaan pemberi kerja dan kini mengelola 85 proyek berjalan dengan nilai kontrak Rp31,35 triliun.