Shoesmart.co.id JAKARTA. Axiata Group Berhad, perusahaan telekomunikasi asal Malaysia, dikabarkan akan melepas mayoritas sahamnya di PT Link Net Tbk (LINK) kepada PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan I Squared Capital. Transaksi ini berpotensi mencapai nilai lebih dari US$ 1 miliar, menurut laporan DealStreetAsia pada Kamis, 14 Agustus 2025.
Meskipun masih dalam tahap negosiasi awal, informasi ini telah dikonfirmasi oleh sumber internal manajemen WIFI kepada KONTAN. “Saat ini masih dalam proses negosiasi,” ungkap sumber tersebut pada Jumat, 15 Agustus 2025, tanpa mau disebutkan namanya. Kabar ini pun telah sampai ke manajemen Link Net.
Rininta Agustina Widya Pratika, Sekretaris Perusahaan Link Net, mengakui adanya pertimbangan dari pemegang saham pengendali untuk mencari investor strategis. Namun, dalam keterbukaan informasi pada Jumat, 15 Agustus 2025, ia menyatakan belum menerima informasi lebih lanjut mengenai perkembangan transaksi tersebut.
Axiata Group, melalui Axiata Investment (Indonesia) Sdn. Bhd., saat ini menguasai 2,15 miliar saham LINK, setara dengan 75,42% dari modal ditempatkan dan disetor. Sementara itu, PT XL Axiata Tbk (EXCL) juga memiliki sekitar 550,3 juta saham LINK, atau sekitar 3,9% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Akuisisi potensial ini tentu akan menarik perhatian pasar dan memiliki implikasi signifikan bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Perkembangan selanjutnya dari negosiasi ini patut dinantikan untuk melihat bagaimana dampaknya terhadap LINK, WIFI, dan seluruh ekosistem industri.
Ringkasan
Axiata Group Berhad berencana melepas mayoritas sahamnya di PT Link Net Tbk (LINK) kepada PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan I Squared Capital. Nilai transaksi diperkirakan lebih dari US$ 1 miliar, meski masih dalam tahap negosiasi awal yang dikonfirmasi oleh sumber internal WIFI.
Sekretaris Perusahaan Link Net mengakui adanya pertimbangan dari pemegang saham pengendali untuk mencari investor strategis. Axiata Group saat ini memiliki 75,42% saham LINK, sementara XL Axiata memiliki sekitar 3,9%. Perkembangan negosiasi ini akan berdampak signifikan pada industri telekomunikasi Indonesia.