JAKARTA – Minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar saham terus meningkat, meskipun risiko yang menyertainya juga tinggi. Guna melindungi investor pemula yang mengincar keuntungan tinggi dari jeratan saham gorengan, sejumlah pembaruan data menjadi agenda reformasi pasar modal. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan kehati-hatian dalam berinvestasi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menyoroti bahwa masih banyak investor pasar modal di Indonesia yang belum teredukasi dengan baik. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap praktik saham gorengan yang sangat berisiko.
“Dengan kemudahan akses informasi yang spesifik dan mudah dipahami, investor ritel diharapkan semakin waspada terhadap potensi manipulasi saham. Hal ini penting untuk mencegah mereka terperangkap dalam saham-saham yang tidak likuid,” ujar Nafan kepada Bisnis, Kamis (12/2/2026).
Efek Danantara Tunda IPO BUMN, Saham Blue Chip Berpotensi Dibidik Investor
Data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan pertumbuhan signifikan jumlah investor pasar modal. Per akhir Januari 2026, tercatat 21.037.426 single investor identification (SID), meningkat 673.218 SID dibandingkan akhir tahun 2025 yang sebanyak 20.364.208 SID. Sepanjang tahun 2025, terjadi pertumbuhan sebesar 5.492.569 SID.
Jumlah investor saham juga mengalami peningkatan, hampir menyentuh angka 9 juta SID, tepatnya 8.980.318 SID. Angka ini naik 367.958 SID dibandingkan akhir 2025 yang berada di level 8.612.360 SID, setelah bertambah sebanyak 2.230.916 SID sepanjang tahun 2025.
Mengintip Valuasi Saham Indosat (ISAT) saat Pasar Saham Digempur Berbagai Sentimen
Menyikapi hal ini, Nafan menyarankan investor pemula untuk memfokuskan perhatian pada fundamental perusahaan dan mencari saham-saham yang undervalued. Dari sisi teknikal, investor juga dapat mempertimbangkan saham-saham yang berpotensi mengalami rebound, serta menerapkan manajemen risiko yang ketat.
“Investor ritel perlu memiliki kemampuan untuk membedakan saham gorengan dan saham blue chip. Sebisa mungkin, hindari saham gorengan, terutama bagi investor pemula yang rentan terhadap fomo (fear of missing out) dan terjebak dalam saham-saham tidak likuid dengan free float kecil,” tegasnya.
Perubahan Kepemilikan Saham ABMM, AISA, BSML, FILM, GPRA, INET, SMMA, SSIA, Hingga SUPA per 9 Februari 2026
Nafan juga merekomendasikan investor untuk memanfaatkan data pasar yang tersedia dan menerapkan strategi fokus pada volume transaksi dan bid over. Analisis data transaksi ini memungkinkan investor untuk mengidentifikasi saham-saham dengan konsentrasi pembelian yang tinggi.
“Investor sebaiknya tidak berspekulasi. Investasilah pada saham-saham dengan prospek dan fundamental yang solid. Meskipun trader profesional mungkin memiliki unsur spekulasi dengan prinsip high risk high return, investor pemula sebaiknya fokus pada fundamental dan prospek perusahaan,” pungkasnya.
Otoritas pasar modal berupaya meningkatkan transparansi data, termasuk rencana pembukaan data shareholders concentration list (daftar saham dengan indikasi pemegang saham terkonsentrasi), penyajian data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% (sebelumnya di atas 5%), serta granulasi investor dari 9 kelas menjadi 27 subkelas. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meminimalisir praktik goreng-menggoreng saham.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Minat investasi saham meningkat, namun investor pemula rentan terhadap saham gorengan. Untuk melindungi mereka, otoritas pasar modal berupaya meningkatkan transparansi data, termasuk detail kepemilikan saham. Investor ritel perlu diedukasi agar waspada terhadap manipulasi saham dan potensi terjebak dalam saham tidak likuid.
Analis menyarankan investor pemula fokus pada fundamental perusahaan dan mencari saham *undervalued*. Selain itu, pertimbangkan saham dengan potensi *rebound* dan terapkan manajemen risiko. Hindari spekulasi dan fokus pada saham dengan prospek solid, manfaatkan data pasar untuk identifikasi saham dengan konsentrasi pembelian tinggi.