Wall Street Terkoreksi, Saham Teknologi Jadi Pemberat Utama!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Wall Street memulai sesi perdagangan hari Selasa (17/2/2026) dengan sentimen negatif. Indeks-indeks utama di bursa saham Amerika Serikat tersebut dibuka melemah setelah menikmati libur panjang akhir pekan. Pergerakan pasar yang bergejolak ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap potensi disrupsi bisnis yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Tekanan jual terutama menyasar saham-saham teknologi dengan kapitalisasi besar. Sebagian besar saham teknologi AS mengalami koreksi, dengan Nvidia turun 1,6% dan Microsoft melemah 1,3%. Kekhawatiran bahwa AI dapat mengubah model bisnis secara fundamental telah memicu aksi jual pada saham perusahaan perangkat lunak, pialang, hingga perusahaan transportasi pada pekan sebelumnya. Akibatnya, tiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan November.

Kekhawatiran Disrupsi AI Tekan Saham Teknologi

Ketidakpastian pasar semakin diperburuk oleh potensi risiko dari pemain AI asal China. Alibaba, pada hari Senin, meluncurkan model AI terbaru mereka, Qwen 3.5, yang diklaim memiliki kemampuan untuk mengeksekusi tugas kompleks secara mandiri. Di sektor chip, Intel mengalami penurunan sebesar 2,2%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) anjlok 5,2%. Imbasnya, indeks semikonduktor Philadelphia SE Semiconductor Index juga melemah, turun 2,3%.

Stash Graham, Managing Director dan Chief Investment Officer Graham Capital Wealth Management, berpendapat bahwa produk AI Alibaba menjadi salah satu faktor yang membebani pasar saat ini. Ia menambahkan bahwa pasar sedang mengalami fase penyeimbangan kembali (rebalance) setelah mencatat kinerja yang sangat kuat sepanjang tahun lalu.

Indeks Utama Wall Street Melemah

Pada pukul 10.01 pagi waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 175,80 poin atau 0,35% ke 49.326,73. Indeks S&P 500 terkoreksi 50,44 poin atau 0,75% ke 6.784,64, sedangkan Nasdaq Composite melemah 258,44 poin atau 1,15% ke 22.288,23.

Namun, di tengah sentimen negatif tersebut, sektor keuangan menjadi titik terang. Indeks keuangan S&P 500 justru naik 0,8%, didorong oleh penguatan saham bank-bank besar seperti Goldman Sachs yang naik 0,7% dan JPMorgan Chase yang menguat 1,1%. Sebaliknya, saham perangkat lunak masih tertekan. CrowdStrike, Adobe, dan Salesforce mengalami penurunan antara 2% hingga 5%. Sektor material di S&P 500 juga merosot 2,1% seiring pergerakan harga logam mulia, sementara sektor energi terkoreksi 1,8%.

Fokus ke Data Inflasi AS dan Arah Suku Bunga The Fed

Perhatian pasar pada pekan ini akan tertuju pada laporan personal consumption expenditure (PCE), sebuah indikator inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Data ini dianggap krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depannya. Laporan ini menyusul rilis data inflasi konsumen pada pekan lalu yang menunjukkan angka lebih rendah dari ekspektasi, sehingga meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juni mencapai 52%, meningkat dari sekitar 49% pada pekan sebelumnya.

Aksi Korporasi Gerakkan Saham Individual

Di tengah tekanan pasar secara umum, beberapa saham menunjukkan pergerakan signifikan karena aksi korporasi. Saham Warner Bros. Discovery naik 2,4% setelah menolak tawaran akuisisi revisi dari Paramount Global, sembari memberikan waktu satu pekan untuk negosiasi lanjutan. Saham Paramount sendiri melonjak 7,8%. Saham Norwegian Cruise Line juga melesat hampir 8% setelah investor aktivis Elliott mengungkapkan telah membangun kepemilikan lebih dari 10% di perusahaan operator kapal pesiar tersebut. Sementara itu, saham Fiserv naik hampir 4,4% setelah laporan menyebutkan bahwa investor aktivis Jana Partners mengambil posisi di perusahaan pembayaran tersebut.

Kenaikan paling tajam terjadi pada saham Masimo, yang melonjak sekitar 34% setelah Danaher mengumumkan akan mengakuisisi produsen pulse-oximeter tersebut senilai US$9,9 miliar, termasuk utang. Namun, saham Danaher justru turun 3,4%.

Sentimen Geopolitik dan Breadth Pasar

Dari sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negaranya telah mencapai pemahaman dengan Amerika Serikat dalam putaran kedua perundingan nuklir di Jenewa, meskipun masih diperlukan pembahasan lanjutan.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang melemah lebih banyak daripada saham yang menguat dengan rasio 1,62 banding 1 di NYSE dan 1,72 banding 1 di Nasdaq. Indeks S&P 500 mencatat 35 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan dan lima saham menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 42 saham mencapai level tertinggi baru dan 109 saham menyentuh level terendah baru.

Tekanan pada saham teknologi dan kekhawatiran terhadap disrupsi AI mengindikasikan bahwa volatilitas masih membayangi pasar saham AS. Meskipun demikian, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed memberikan sedikit harapan bagi para investor.

Ringkasan

Wall Street mengalami koreksi pada hari Selasa, terutama disebabkan oleh penurunan saham-saham teknologi besar. Kekhawatiran terhadap disrupsi bisnis akibat perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama aksi jual. Indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite mencatatkan penurunan, meskipun sektor keuangan menunjukkan penguatan.

Pasar saat ini menantikan data inflasi PCE AS sebagai acuan untuk menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, beberapa saham individual mengalami pergerakan signifikan akibat aksi korporasi, seperti akuisisi Masimo oleh Danaher dan penolakan tawaran akuisisi Paramount Global oleh Warner Bros. Discovery. Volatilitas pasar diperkirakan akan terus berlanjut di tengah sentimen geopolitik dan kekhawatiran terhadap disrupsi AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *