Shoesmart.co.id – Bursa saham Wall Street memulai pekan ini dengan nada pesimistis. Pada perdagangan Senin (23/2/2026), indeks-indeks utama dibuka lebih rendah, dipicu oleh kekhawatiran baru terkait kebijakan tarif yang kembali menghantui pasar. Sentimen negatif ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan tarif baru sebesar 15%.
Menurut laporan Reuters, pada pembukaan pasar, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 89,4 poin atau 0,18% ke level 49.536,54. Indeks S&P 500 juga mengalami penurunan sebesar 8,3 poin atau 0,12% menjadi 6.901,25. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam, yakni sebesar 45,1 poin atau 0,20% ke 22.840,97.
Berkat Efisiensi dan Akuisisi, Kinerja Sawit Sumbermas (SSMS) Diprediksi Makin Solid
Pemicu utama pelemahan ini adalah langkah Presiden Trump yang kembali memberlakukan tarif. Sebelumnya, Mahkamah Agung Amerika Serikat (Supreme Court of the United States) pada Jumat (21/2) membatalkan sebagian besar tarif global yang diterapkan Trump tahun lalu. Alasan pembatalan tersebut adalah undang-undang darurat ekonomi yang digunakan dinilai tidak memberikan kewenangan yang cukup untuk menetapkan tarif.
Tidak tinggal diam, Trump merespons dengan mengumumkan tarif global baru, dimulai dengan 10% dan kemudian dinaikkan menjadi 15%. Tarif ini berpotensi berlaku hingga lima bulan ke depan, sembari pemerintah mencari landasan hukum yang lebih kuat.
Aksi Ambil Untung Warnai Perdagangan
Meskipun ketiga indeks utama berhasil mencatatkan kenaikan mingguan pada penutupan perdagangan Jumat lalu, dengan Nasdaq mengakhiri tren negatif selama lima pekan, kini para pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung. Hal ini semakin memperburuk sentimen pasar yang sudah tertekan oleh isu tarif.
Transparansi Pemegang Saham Dinilai Jadi Kunci yang Bisa Meredam Saham Gorengan
“Pasar mungkin terlalu cepat bereaksi positif terhadap putusan pengadilan. Anda tidak bisa meremehkan Trump. Dia menginginkan tarif dan akan mencari cara untuk mewujudkannya,” kata Thomas Hayes, Chairman Great Hill Capital LLC, memberikan komentarnya terkait situasi ini.
Sektor Teknologi dan AI Jadi Pusat Perhatian
Sebagian besar saham megacap dan saham-saham pertumbuhan mengalami pelemahan di premarket. Namun, ada pengecualian pada saham Alphabet Inc. yang justru naik 0,5% setelah melonjak sekitar 4% pada hari Jumat. Saham Nvidia juga menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,3% menjelang pengumuman kinerja kuartalannya pada hari Rabu. Laporan keuangan Nvidia dianggap sangat penting bagi sektor teknologi, terutama industri kecerdasan buatan (AI) yang belakangan ini dihantui kekhawatiran terkait valuasi yang tinggi dan efektivitas belanja AI.
IHSG Berpeluang Menguat pada Selasa (24/2), Ini Pilihan Sahamnya
Selain Nvidia, investor juga akan memantau laporan kinerja dari perusahaan perangkat lunak besar seperti Salesforce dan Intuit pada pekan ini. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat indeks S&P 500 sektor software dan layanan telah mengalami penurunan lebih dari 20% sepanjang tahun berjalan.
Pergerakan Saham Lainnya Bervariasi
Di sektor kesehatan, saham Eli Lilly melonjak 2,9% setelah hasil uji coba obat obesitas pesaingnya dari Novo Nordisk di Kopenhagen ternyata di bawah ekspektasi. Sementara itu, saham Merck & Co. naik 0,6% setelah mengumumkan rencana pemisahan divisi kesehatan manusia menjadi dua unit bisnis yang berbeda.
Di sisi lain, Domino’s Pizza mencatatkan kinerja yang menggembirakan dengan melesat 5,6% setelah membukukan penjualan gerai sejenis kuartal IV di AS yang melampaui estimasi Wall Street.
Saham-saham terkait kripto, seperti Coinbase Global dan Strategy, mengalami penurunan sekitar 2% seiring dengan melemahnya harga Bitcoin dengan persentase yang sama. Sebaliknya, saham perusahaan penambang emas dan perak justru menguat seiring dengan kenaikan harga logam mulia. Newmont naik 1,2%, sementara Hecla Mining bertambah 2%.
Dukung Pemulihan Pasca Bencana Sumatra, SRO Pasar Modal Berikan Donasi Rp 3,95 Miliar
Sinyal The Fed Masih Dinantikan
Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bahwa ia terbuka untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan Maret jika data tenaga kerja Februari menunjukkan perbaikan pasar kerja setelah mengalami pelemahan pada tahun 2025. Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memperkirakan bahwa penurunan suku bunga berikutnya kemungkinan baru akan terjadi pada bulan Juni.
Dengan kombinasi antara ketidakpastian tarif dan penantian sinyal dari The Fed, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan pasar secara seksama.
Ringkasan
Bursa saham Wall Street mengalami penurunan pada awal pekan ini, dipicu oleh kekhawatiran mengenai pemberlakuan tarif baru oleh Presiden Trump sebesar 15%. Hal ini terjadi setelah Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarif global sebelumnya, yang kemudian direspon Trump dengan tarif baru yang berpotensi berlaku hingga lima bulan ke depan.
Selain isu tarif, aksi ambil untung setelah kenaikan mingguan sebelumnya juga memperburuk sentimen pasar. Sektor teknologi dan AI menjadi pusat perhatian, terutama dengan kinerja Nvidia yang akan diumumkan. Investor juga menantikan sinyal dari The Fed terkait kebijakan suku bunga, yang menambah ketidakpastian dan berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.