Wall Street Terjun Bebas: Konflik Iran dan Hormuz Ancam Investor

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Wall Street kembali berguguran pada perdagangan Kamis (23/3), membalikkan reli yang terjadi di sesi sebelumnya. Investor masih diliputi kekhawatiran atas perkembangan konflik di Timur Tengah, sambil mencerna berbagai sinyal yang mengindikasikan potensi de-eskalasi.

Optimisme sempat muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Trump bahkan mendesak Teheran untuk “bersikap serius” dalam negosiasi.

Namun, di sisi lain, kantor berita Tasnim yang terafiliasi dengan Iran melaporkan bahwa Teheran telah secara resmi menanggapi proposal 15 poin dari AS, mengutip sumber anonim. Pernyataan ini kontradiktif, mengingat Iran sebelumnya membantah adanya negosiasi publik dengan Amerika Serikat.

Sinyal yang campur aduk inilah yang membuat pasar cenderung berhati-hati. Harapan untuk dibukanya kembali jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz masih jauh dari kepastian.

Dow Jones, S&P 500, Nasdaq Melemah di Tengah Ketidakpastian Timur Tengah

“Dengan banyaknya informasi yang simpang siur, pasar mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Jack Herr, analis utama di GuideStone. “Kami terus memantau pergerakan harga minyak… Kami masih sedikit waspada karena beberapa skenario terburuk akan berdampak buruk bagi ekonomi global.”

Kendati demikian, Herr menambahkan, “Namun, jika masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat, fundamental ekonomi dan angka pertumbuhan mendukung peluang tahun yang baik bagi pasar.”

Pergerakan Indeks dan Saham

Pada pukul 09:40 ET, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 250,43 poin atau 0,54% ke level 46.179,06. Indeks S&P 500 kehilangan 56,82 poin atau 0,86% ke 6.535,08, sementara Nasdaq Composite melemah 262,81 poin atau 1,20% ke 21.667,02.

Sektor teknologi menjadi pemberat utama bagi indeks. Indeks teknologi S&P 500 turun 1,3%, dengan produsen chip memori seperti Micron Technology, SanDisk, dan Western Digital mengalami penurunan signifikan antara 3,3% hingga 4,8%.

Saham Meta Platforms dan Alphabet juga turut menekan indeks layanan komunikasi, masing-masing turun 3,2% dan 2%. Indeks Semiconductor Philadelphia bahkan anjlok hampir 2%.

Dampak Konflik Iran terhadap Ekonomi

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi global. Potensi penutupan Selat Hormuz, khususnya, dapat memicu lonjakan inflasi.

Kripto Berbalik Melemah, Ini Proyeksi Harga Pekan Depan

Bank sentral kini berada dalam posisi yang sulit terkait suku bunga. Pelaku pasar uang tidak lagi memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Sebelum konflik Iran meletus, pasar memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga, menurut CME Group FedWatch Tool.

Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran baru di AS naik sedikit pada minggu lalu, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang stabil. Kondisi ini memungkinkan The Fed untuk mempertahankan suku bunga sambil terus memantau dampak konflik Iran. Sepanjang hari, akan dirilis komentar dari sejumlah pejabat The Fed, termasuk Lisa Cook, Stephen Miran, Michael Barr, dan Philip Jefferson.

Pergerakan Saham Individu

Di tengah sentimen negatif, saham Olaplex justru melonjak 50% setelah perusahaan asal Jerman, Henkel, setuju untuk mengakuisisi merek perawatan rambut tersebut dalam kesepakatan senilai US$1,4 miliar. Sebaliknya, saham perusahaan pertambangan emas di AS mengalami penurunan seiring dengan harga emas yang turun lebih dari 1%. Sibanye Stillwater turun 2,2%, sementara Harmony Gold merosot 1,1%.

Secara keseluruhan, rasio saham yang melemah terhadap saham yang menguat mencapai 2,78:1 di NYSE dan 2,38:1 di Nasdaq. S&P 500 mencatat sembilan level tertinggi baru dalam 52 minggu dan dua level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 14 level tertinggi baru dan 75 level terendah baru.

Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap ketidakpastian geopolitik dan dampaknya terhadap ekonomi global serta harga minyak. Harga minyak tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar saham.

Ringkasan

Wall Street mengalami penurunan signifikan akibat kekhawatiran investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya terkait Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz. Sentimen pasar dipengaruhi oleh informasi yang simpang siur mengenai negosiasi antara AS dan Iran, menciptakan ketidakpastian dan kehati-hatian di kalangan investor.

Penurunan dipimpin oleh sektor teknologi, dengan saham-saham seperti Micron Technology, Meta Platforms, dan Alphabet mengalami penurunan. Konflik ini berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global dan memicu inflasi, membuat bank sentral kesulitan dalam menentukan kebijakan suku bunga. Di tengah sentimen negatif, beberapa saham seperti Olaplex justru melonjak karena aksi korporasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *