Shoesmart.co.id – Wall Street memulai perdagangan Kamis (5/2/2026) dengan nada pesimis. Indeks-indeks utama berguguran seiring kecemasan investor mencuat akibat dua faktor utama: rencana belanja modal (capital expenditure/capex) Alphabet yang melonjak drastis dan proyeksi kinerja Qualcomm yang mengecewakan pasar.
Data Reuters menunjukkan, pada pembukaan pukul 09.30 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average merosot 324,80 poin atau 0,66% ke level 49.176,50. S&P 500 tak ketinggalan, melemah 63,21 poin atau 0,92% menjadi 6.819,51. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam, anjlok 314,28 poin atau 1,36% ke 22.590,30.
PGAS Catat Penurunan Laba hingga September 2025, Simak Rekomendasi Sahamnya
Tekanan kuat terhadap pasar terutama berasal dari saham Alphabet, perusahaan induk Google. Saham ini terpantau turun hampir 5% dalam perdagangan pre-market setelah pengumuman rencana ambisius perusahaan untuk melipatgandakan capex tahun ini. Langkah agresif ini dipandang sebagai sinyal keseriusan Alphabet dalam memperebutkan dominasi di ranah kecerdasan buatan (AI).
Selain Alphabet, saham-saham berkapitalisasi besar lainnya turut merasakan imbasnya. Microsoft, Tesla, dan Meta Platforms masing-masing mengalami pelemahan sekitar 2%. Secara keseluruhan, para raksasa teknologi ini diperkirakan akan menginvestasikan lebih dari US$500 miliar untuk pengembangan AI sepanjang tahun ini.
OJK Mau Bentuk Satgas Reformasi Pasar Modal, Menko Airlangga Beberkan Tujuannya
Gelombang investasi besar-besaran di bidang AI ini justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Mereka mempertanyakan seberapa cepat investasi jumbo tersebut akan menghasilkan keuntungan nyata, dan apakah valuasi saham teknologi yang sudah tinggi saat ini masih bisa dipertahankan.
“Akibatnya, terjadi pergeseran sentimen dari optimisme buta menjadi fokus yang lebih tajam pada profitabilitas, disiplin pendanaan, dan penyeimbangan portofolio yang lebih baik,” ungkap Russell Shor, seorang analis pasar senior di Tradu, menjelaskan dinamika yang terjadi.
Di tengah gejolak ini, saham-saham perangkat lunak dan layanan data, termasuk ServiceNow dan Salesforce, cenderung stabil setelah mengalami aksi jual tajam pada awal pekan ini. Penjualan tersebut sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran bahwa kemajuan pesat di bidang AI mulai menggerogoti permintaan terhadap model bisnis perangkat lunak tradisional.
OJK Targetkan Penghimpunan Dana di Pasar Modal Capai Rp 250 Triliun
Sementara itu, saham Amazon ikut melemah hampir 2% menjelang pengumuman laporan keuangan setelah penutupan pasar. Investor akan menaruh perhatian khusus pada detail belanja AI perusahaan tersebut.
Nvidia, anggota terakhir dari kelompok saham “Magnificent Seven” yang dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan pada 25 Februari, menunjukkan pergerakan yang relatif stabil.
Di sisi lain, Qualcomm mengalami nasib kurang baik. Saham perusahaan anjlok sekitar 10% setelah proyeksi pendapatan dan laba kuartal kedua mereka berada di bawah ekspektasi para analis. Saham Arm juga mengalami penurunan sebesar 6,5% karena pendapatan lisensi mereka gagal memenuhi ekspektasi Wall Street.
Tekanan juga menghantam saham-saham perusahaan penambang perak. iShares Silver Trust merosot 12% setelah harga perak mengalami penurunan sekitar 10%.
Dapat Dukungan Airlangga, OJK Bakal Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal
Saham-saham terkait kripto juga ikut terkoreksi. Strategy turun 6,9% dan Riot Platforms melemah 5,7%, seiring harga Bitcoin yang jatuh di bawah level US$70.000.
Di tengah aksi pelepasan saham-saham AI yang mahal, terlihat adanya perputaran aliran dana menuju sektor-sektor yang dinilai lebih murah dan kurang mendapat sorotan. Indeks S&P 600 untuk saham berkapitalisasi kecil naik 0,9% pada hari Rabu. Sementara itu, S&P 500 Value Index mencatatkan kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut, dan S&P 400 untuk saham berkapitalisasi menengah menguat 0,7%.
Ringkasan
Wall Street mengalami penurunan signifikan pada hari Kamis akibat kekhawatiran investor terhadap rencana belanja modal Alphabet di bidang AI yang melonjak, serta proyeksi kinerja Qualcomm yang mengecewakan. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite mencatatkan penurunan, dengan saham Alphabet turun hampir 5% setelah pengumuman investasi besar-besaran dalam AI.
Selain Alphabet, saham-saham teknologi besar lainnya seperti Microsoft, Tesla, dan Meta juga melemah. Investasi besar di bidang AI memicu kekhawatiran tentang profitabilitas dan valuasi saham teknologi. Sementara itu, Qualcomm mengalami penurunan signifikan setelah proyeksi pendapatannya di bawah ekspektasi, dan sektor lain seperti penambang perak dan saham terkait kripto juga ikut terkoreksi.