NEW YORK. Wall Street mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026), dengan indeks Nasdaq mencatatkan level terendah sejak November. Tekanan jual dipicu oleh kerugian yang dialami raksasa teknologi seperti Microsoft dan Amazon. Hal ini dipicu pengumuman Alphabet yang berencana menggandakan belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dalam persaingan ketat memperebutkan dominasi teknologi masa depan.
Mengutip laporan Reuters, indeks S&P 500 merosot 1,23% dan ditutup pada 6.798,40. Nasdaq terpangkas 1,59% ke level 22.540,59, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,20% menjadi 48.908,72.
Sembilan dari 11 sektor yang menjadi tolok ukur S&P 500 mengalami penurunan. Sektor material menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 2,75%, diikuti oleh sektor barang konsumsi non-esensial yang merosot 2,59%.
Saham Alphabet turun tipis 0,55% setelah perusahaan induk Google tersebut mengumumkan rencana investasi modal hingga US$ 185 miliar pada tahun 2026. Secara kolektif, Alphabet dan para pesaingnya di industri teknologi diperkirakan akan menggelontorkan lebih dari US$ 500 miliar untuk AI pada tahun ini.
Sentimen negatif juga menyeret saham Microsoft yang anjlok 5%, Palantir merosot 6,8%, dan Oracle turun 7%.
Saham Amazon mencatatkan penurunan 4,4% selama perdagangan reguler, dan kemudian kembali merosot 10% setelah penutupan pasar. Aksi ini sejalan dengan para pesaingnya di sektor teknologi besar yang memproyeksikan pengeluaran modal besar-besaran pada tahun 2026. Ini menjadi indikasi terbaru bahwa perusahaan teknologi tidak akan mengendurkan investasi agresif mereka di bidang AI dalam waktu dekat.
Di sisi lain, saham perusahaan pembuat chip Nvidia, yang berpotensi diuntungkan dari peningkatan belanja industri untuk AI, justru mengalami penurunan sebesar 1,4%.
Dalam beberapa bulan terakhir, investor semakin mewaspadai pengeluaran besar untuk AI, dan menunggu sinyal yang lebih kuat bahwa investasi tersebut benar-benar meningkatkan pendapatan dan keuntungan perusahaan.
“Ini adalah kali pertama kita menyaksikan perusahaan teknologi dengan kapitalisasi pasar besar seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon, memasuki siklus belanja modal yang sangat masif… dan kita melihat volatilitas mengenai apakah investasi ini pada akhirnya akan membuahkan hasil,” ujar Tom Hainlin, seorang ahli strategi investasi di U.S. Bank Wealth Management di Minneapolis.
Kekhawatiran investor juga dipicu oleh potensi alat AI yang berkembang pesat dapat mengurangi permintaan perangkat lunak tradisional, sehingga menekan margin keuntungan di seluruh sektor. Saham perangkat lunak dan layanan data memperpanjang kerugian baru-baru ini, dengan ServiceNow turun 7,6% dan Salesforce kehilangan hampir 5%.
Indeks perangkat lunak dan jasa S&P 500 turun 4,6%, mencatatkan penurunan untuk sesi ketujuh berturut-turut.
“Tren AI yang menjadi pendorong pasar tahun lalu, berpotensi menjadi penghambat tahun ini karena pelaku pasar menyadari bahwa AI akan menguntungkan jenis perusahaan tertentu, tetapi juga akan merugikan sektor lain, terutama perangkat lunak,” kata Melissa Brown, direktur pelaksana riset keputusan investasi SimCorp.
Saham Qualcomm juga mengalami penurunan tajam sebesar 8,5% setelah memperkirakan pendapatan dan laba kuartal kedua di bawah ekspektasi analis.
Indeks volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan.
Seiring dengan berkurangnya minat investor terhadap saham AI yang dianggap mahal, rotasi pasar ke saham-saham yang relatif lebih murah semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir. Indeks nilai S&P 500 turun 0,9%, tetapi masih berada di zona positif untuk minggu ini. Sementara itu, indeks pertumbuhan S&P 500 turun lebih dari 4% selama minggu ini.
Ringkasan
Wall Street mengalami penurunan tajam dengan indeks Nasdaq mencapai level terendah sejak November, dipicu oleh kerugian saham teknologi seperti Microsoft dan Amazon. Hal ini disebabkan pengumuman Alphabet yang akan menggandakan belanja modal untuk pengembangan AI, memicu kekhawatiran investor terkait efektivitas investasi tersebut dalam meningkatkan pendapatan perusahaan.
Sektor material dan barang konsumsi non-esensial menjadi yang paling terpukul. Sentimen negatif juga menyeret saham Microsoft, Palantir, dan Oracle. Investor mewaspadai pengeluaran besar untuk AI dan potensi alat AI mengurangi permintaan perangkat lunak tradisional, yang menekan margin keuntungan sektor tersebut.