Shoesmart.co.id, NEW YORK – Wall Street memulai perdagangan hari Selasa (17/3/2026) dengan sentimen positif. Indeks-indeks utama terpantau menguat, dipimpin oleh sektor keuangan. Perhatian investor saat ini tertuju pada dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi, yang berpotensi memicu kembali kekhawatiran inflasi menjelang pertemuan penting The Fed.
Pada saat bel pembukaan berdentang, Dow Jones Industrial Average melonjak 139,1 poin atau 0,30% ke level 47.085,53. S&P 500 juga mengalami kenaikan sebesar 23,0 poin atau 0,34%, mencapai 6.722,35. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 83,9 poin atau 0,37%, bertengger di 22.458,032.
Sebelumnya, pada sesi perdagangan hari Senin, pasar saham AS berhasil mencatat kenaikan. Pemulihan ini didorong oleh sektor teknologi, yang membantu S&P 500 membukukan lonjakan harian terbesar dalam lebih dari sebulan.
Baca Juga: Wall Street Ditutup Naik Senin (16/3), Saham AI Jadi Motor Penguatan
Konferensi pengembang tahunan Nvidia menjadi sorotan utama para pelaku pasar. Nvidia memproyeksikan potensi pendapatan dari chip kecerdasan buatannya dapat mencapai setidaknya US$ 1 triliun hingga tahun 2027. Proyeksi ambisius ini seiring dengan strategi perusahaan untuk bersaing lebih agresif di pasar yang berkembang pesat untuk menjalankan sistem AI secara real-time.
Saham Nvidia sendiri mengalami kenaikan 0,4% dalam perdagangan pre-market, melanjutkan tren positif setelah melonjak 1,6% pada hari Senin. Sementara itu, saham Broadcom sedikit melemah, namun saham Advanced Micro Devices berhasil naik 0,6%.
Selain kinerja perusahaan teknologi, investor juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran meningkat bahwa konflik yang meluas dapat menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting untuk pasokan energi global. Seruan Presiden AS Donald Trump kepada sekutu untuk menjaga jalur tersebut tetap terbuka sejauh ini belum mendapat tanggapan yang signifikan.
Sektor maskapai penerbangan, yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak, merasakan dampak terberat sejak konflik dimulai. Namun, sedikit angin segar datang setelah Delta menaikkan proyeksi pendapatannya untuk kuartal ini, didorong oleh peningkatan permintaan. Saham Delta melonjak 5%, diikuti oleh American Airlines yang naik 4%.
Sejumlah perusahaan pialang juga merevisi prospek harga energi, memperkirakan kenaikan yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Sentimen ini juga digaungkan oleh bank sentral Australia yang menaikkan suku bunga di awal hari.
Baca Juga: Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Investor Menimbang Konflik Timur Tengah
Bank Sentral AS (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada akhir pertemuan dua hari mereka pada hari Rabu.
“Ada terlalu banyak variabel dalam ekonomi normal, ditambah lagi kita memiliki konflik yang sangat berdampak ini, yang akan membuat Fed semakin sulit untuk melihat pola apa pun saat ini,” ujar Peter Andersen, pendiri Andersen Capital Management.
“Saya memperkirakan Fed akan tetap mempertahankan suku bunga dan akan mengadakan konferensi pers dan transkrip yang sangat biasa-biasa saja.”
Kontrak berjangka suku bunga saat ini hanya mengindikasikan satu kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin menjelang akhir tahun, menurut data yang dikumpulkan LSEG. Angka ini turun dari perkiraan sekitar dua kali pemotongan sebelum konflik di Timur Tengah merebak.
Meskipun gejolak global akibat perang telah memengaruhi pasar, saham AS sejauh ini menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan pasar Eropa dan Asia. Hal ini didorong oleh ekspektasi bahwa dampak terhadap perekonomian AS akan kurang parah.
Namun, para analis mengingatkan bahwa investor belum sepenuhnya mempertimbangkan potensi dampak perang terhadap ekonomi global secara keseluruhan.
Baca Juga: Wall Street Menguat Jumat (13/3), Cermati Data Ekonomi dan Konflik Timur Tengah
Saham Honeywell International mengalami penurunan 1,1% setelah raksasa industri tersebut memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat memukul pendapatan kuartal pertamanya. Pernyataan ini muncul beberapa minggu setelah perusahaan jasa ladang minyak SLB mengisyaratkan penurunan pendapatan.
Konflik di Timur Tengah juga menyebabkan penundaan pertemuan puncak yang direncanakan antara para pemimpin AS dan China atas permintaan Presiden Trump.
Di sisi lain, saham perusahaan energi Occidental naik 1%, sementara perusahaan sejenis seperti ConocoPhillips dan EQT masing-masing naik 1%, didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan gas.
Ringkasan
Wall Street dibuka dengan sentimen positif, dengan indeks utama mengalami kenaikan dipimpin oleh sektor keuangan. Investor berfokus pada dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi, yang berpotensi memicu kekhawatiran inflasi menjelang pertemuan The Fed. Nvidia juga menjadi sorotan karena proyeksi pendapatan chip kecerdasan buatannya yang ambisius.
Kekhawatiran atas eskalasi konflik Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan energi global membebani sektor maskapai. Investor juga mencermati keputusan The Fed, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Meskipun pasar global terpengaruh, saham AS menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan Eropa dan Asia.