Wall Street Menguat: The Fed dan Harga Minyak Jadi Sorotan!

Shoesmart.co.id – Wall Street berhasil menutup perdagangan Selasa (17/3/2026) dengan catatan positif. Sentimen pasar didorong oleh investor yang menanti hasil pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), di tengah kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dan tensi geopolitik di Timur Tengah.

Secara rinci, indeks S&P 500 menguat 0,25% dan berakhir di level 6.716,09. Indeks Nasdaq Composite juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 0,47% ke posisi 22.479,53. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,10% ke level 46.993,26.

Dominasi sektor energi dan konsumer diskresioner mewarnai pergerakan indeks S&P 500. Tercatat, delapan dari sebelas sektor utama berhasil parkir di zona hijau. Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 1,02%, diikuti sektor konsumer diskresioner yang tumbuh sekitar 1%.

Asing Net Sell Jumbo, Intip Saham yang Banyak Dilepas Jelang Libur Lebaran 2026

Kebangkitan saham-saham sektor perjalanan dan maskapai menjadi motor utama penguatan pasar. Sebelumnya, sektor ini sempat tertekan akibat lonjakan harga energi.

Saham Delta Air Lines mencatat lonjakan lebih dari 6%, sementara American Airlines Group naik 3,5% setelah keduanya merevisi naik proyeksi pendapatan kuartal berjalan. United Airlines juga tak ketinggalan, dengan penguatan sebesar 3,2%.

Sektor pariwisata turut merasakan dampak positifnya. Norwegian Cruise Line Holdings naik lebih dari 2%, dan Expedia Group melesat lebih dari 4%.

The Fed Jadi Penentu Arah Pasar

Pertemuan penting The Fed yang berlangsung selama dua hari dimulai pada hari Selasa waktu setempat. Para pelaku pasar secara luas memperkirakan bahwa bank sentral AS tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya, keputusan yang rencananya akan diumumkan pada hari Rabu (18/3/2026).

IHSG Rebound Jelang Libur Panjang Lebaran, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing

Namun, lonjakan harga minyak mentah yang bertahan di kisaran US$100 per barel, dipicu oleh gangguan pasokan di Selat Hormuz, menjadi perhatian serius. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi, terutama di tengah sinyal-sinyal pelemahan pasar tenaga kerja.

Ross Mayfield, seorang investment strategist dari Baird Private Wealth Management, menekankan pentingnya respons The Fed terhadap lonjakan harga minyak dalam menentukan arah pasar.

“Risiko terbesar bagi pasar adalah jika The Fed menanggapi lonjakan harga minyak sebagai tekanan inflasi yang serius dan merespons dengan kebijakan yang lebih hawkish,” jelasnya.

Mayfield menambahkan bahwa skenario ideal bagi pasar adalah jika bank sentral tetap konsisten dengan pendekatan yang telah diambil sebelumnya.

“Skenario terbaiknya adalah The Fed menegaskan bahwa mereka terus memantau situasi, namun tetap berupaya melihat melampaui guncangan harga minyak yang bersifat sementara,” imbuhnya.

Wall Street Menguat, Investor Cermati Kenaikan Biaya Energi Jelang Pertemuan The Fed

Ekspektasi Suku Bunga Mulai Berubah

Data pasar menunjukkan adanya perubahan ekspektasi terkait pemangkasan suku bunga. Saat ini, pelaku pasar hanya memperkirakan satu kali penurunan sebesar 25 basis poin pada akhir tahun, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang mencapai dua kali sebelum eskalasi konflik geopolitik.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi, khususnya di sektor kecerdasan buatan (AI), juga turut membebani sentimen pasar dalam beberapa minggu terakhir.

Indeks acuan S&P 500 tercatat mengalami penurunan sekitar 4% dari level tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada akhir Januari. Meskipun demikian, indeks ini masih diperdagangkan di atas rata-rata valuasi historisnya.

Kripto Melonjak Saat Konflik Geopolitik, Bitcoin Cetak Level Tertinggi Sebulan

Sektor Keuangan dan Energi Menguat

Sektor keuangan menunjukkan pemulihan setelah mengalami tekanan pada pekan sebelumnya. Saham Blackstone melonjak 4,6%, Apollo Global Management menguat 5,3%, dan KKR naik 3,3%.

Sektor energi juga mencatatkan kinerja positif, dengan Occidental Petroleum dan ConocoPhillips masing-masing naik sekitar 1% seiring dengan kenaikan harga minyak.

Di sisi lain, saham Uber Technologies melesat 4,2% setelah mengumumkan rencana ekspansi layanan robotaxi di 28 kota mulai tahun depan, dengan dukungan teknologi dari Nvidia.

Namun, tidak semua saham berhasil mencatatkan kenaikan. Honeywell International mengalami penurunan sebesar 1,3% setelah memperingatkan potensi dampak konflik Timur Tengah terhadap kinerja kuartal pertama perusahaan.

Sementara itu, saham Eli Lilly anjlok hampir 6% setelah menerima penurunan rekomendasi dari HSBC.

Ringkasan

Wall Street ditutup menguat pada Selasa (17/3/2026) dengan S&P 500 naik 0,25%, Nasdaq Composite naik 0,47%, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,10%. Sentimen pasar didorong antisipasi hasil pertemuan The Fed, di tengah kekhawatiran lonjakan harga minyak dan tensi geopolitik. Sektor energi dan konsumer diskresioner memimpin penguatan, didorong oleh kebangkitan saham sektor perjalanan dan maskapai.

Investor mencermati respons The Fed terhadap lonjakan harga minyak yang berpotensi memicu inflasi. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga, namun lonjakan harga minyak menjadi perhatian. Ekspektasi pemangkasan suku bunga mulai berubah, dengan pelaku pasar hanya memperkirakan satu kali penurunan sebesar 25 basis poin pada akhir tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *