
Shoesmart.co.id NEW YORK. Pada penutupan pekan, bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami pembukaan yang lesu pada Jumat, 23 Januari 2026 waktu setempat. Pelemahan ini menempatkan indeks utama Wall Street dalam ancaman penurunan mingguan selama dua pekan berturut-turut, sebuah kondisi yang dipicu oleh anjloknya saham Intel dan bayang-bayang kekhawatiran geopolitik yang terus membebani sentimen risiko investor.
Memasuki sesi perdagangan pukul 09.30 waktu New York, Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 133,13 poin atau 0,32% menjadi 49.226,80. Demikian pula, Indeks S&P 500 sedikit melemah 0,03% ke posisi 6.911,27. Sementara itu, Nasdaq Composite menunjukkan pergerakan yang cenderung datar, dengan kenaikan marjinal 0,01% menjadi 23.438,32.
Anjloknya saham Intel menjadi episentrum tekanan pasar, terjun tajam sekitar 12,8% pada perdagangan prapasar. Raksasa semikonduktor ini mengecewakan investor setelah merilis proyeksi pendapatan dan laba kuartalan yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Penyebab utamanya adalah kendala perusahaan dalam memenuhi lonjakan permintaan chip server untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Ironisnya, penurunan ini terjadi setelah saham Intel sebelumnya membukukan reli impresif, melonjak sekitar 50% sejak awal tahun.
Wall Street Melemah, Penurunan Saham Sektor Teknologi Menghentikan Reli
Pelemahan ini muncul meskipun pasar sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dalam dua sesi sebelumnya, menyusul aksi jual tajam di awal pekan. Aksi jual tersebut dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump mengenai tarif terhadap sekutu Eropa, yang kemudian ia lunakkan. Namun, sentimen kehati-hatian tetap membayangi pasar keuangan global, mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset aman, yang tercermin dari melonjaknya harga emas ke rekor tertinggi.
Menurut Peter Cardillo, Ekonom Kepala Spartan Capital Securities, dinamika pasar saat ini sangat ditentukan oleh panduan kinerja yang diberikan oleh emiten. Ia menyoroti, “Musim laporan keuangan sejauh ini cukup baik, namun saham yang menyajikan panduan suram langsung dihukum oleh pasar. Dengan demikian, prospek kinerja ke depan menjadi sangat krusial,” tegasnya.
Para pelaku pasar juga tampak menahan diri menjelang putusan kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan pekan depan. Bank sentral AS ini diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Meskipun demikian, sorotan utama investor akan tertuju pada pernyataan resmi serta komentar Ketua The Fed, Jerome Powell, guna menafsirkan arah kebijakan moneter selanjutnya. Saat ini, pasar memproyeksikan pemangkasan suku bunga pertama akan terealisasi pada Juni mendatang.
Wall Street Nyaris Stagnan, Saham Chip Turun Pasca Kesepakatan Penjualan dengan China
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada rilis data ekonomi penting seperti survei aktivitas bisnis S&P Global dan indeks sentimen konsumen Universitas Michigan. Pekan depan juga akan menjadi momen krusial bagi saham teknologi raksasa seperti Apple, Microsoft, dan Tesla, yang dijadwalkan melaporkan kinerja mereka. Hasilnya akan menjadi tolok ukur bagi valuasi tinggi yang saat ini melekat pada saham-saham tersebut.
Di luar gejolak yang melanda Intel, pergerakan saham di sektor lain menunjukkan variasi. Nvidia menguat sekitar 1,1% setelah laporan mengindikasikan bahwa otoritas Tiongkok memberi isyarat kepada perusahaan teknologi besar untuk mempersiapkan pesanan chip AI Nvidia. Sementara itu, saham SLB membukukan kenaikan 0,5% usai melaporkan laba kuartal IV di atas ekspektasi. Begitu pula, Intuitive Surgical melonjak 2,8% berkat kinerja pendapatan dan laba yang solid. Tak ketinggalan, saham perusahaan tambang perak yang terdaftar di AS turut menguat, sejalan dengan pergerakan harga perak yang mendekati level tertinggi, menggarisbawahi kuatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Wall Street Ditutup Beragam, Saham Teknologi Turun, Sementara Saham Pertananan Naik
Ringkasan
Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka lesu pada Jumat, 23 Januari 2026, menyebabkan indeks utama Wall Street berisiko mengalami penurunan mingguan kedua berturut-turut. Pelemahan ini sebagian besar disebabkan oleh anjloknya saham Intel sekitar 12,8% setelah raksasa semikonduktor tersebut merilis proyeksi pendapatan dan laba kuartalan yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Intel menghadapi kendala dalam memenuhi lonjakan permintaan chip server untuk pusat data kecerdasan buatan (AI), menekan kinerja Indeks Dow Jones dan S&P 500.
Kekhawatiran geopolitik turut membayangi sentimen risiko investor, mendorong pengalihan dana ke aset aman seperti emas yang melonjak ke rekor tertinggi. Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pekan depan, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan. Perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell untuk menafsirkan arah kebijakan moneter selanjutnya, serta laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa yang dijadwalkan rilis pekan depan.