Wall Street Anjlok! Perang Iran & Data Tenaga Kerja Menekan Pasar

Wall Street memulai perdagangan pada hari Jumat (6 Maret 2026) dengan sentimen negatif. Konflik yang terus memanas di Timur Tengah dan laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang kurang menggembirakan menjadi pemicu utama pelemahan ini.

Data dari Reuters menunjukkan bahwa pada pembukaan pasar, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 320,2 poin atau 0,67% ke level 47.634,55. Sementara itu, indeks S&P 500 mengalami penurunan lebih dalam, yakni 61,7 poin atau 0,90% ke level 6.769,03. Nasdaq Composite, yang didominasi saham teknologi, mencatatkan penurunan paling signifikan dengan anjlok 327,8 poin atau 1,44% ke level 22.421,17.

[bacajuga-inside]Dampak Konflik Global: Harga Aluminium Diprediksi Sentuh US$ 3.600[/bacajuga-inside]

Rilis data tenaga kerja yang kurang memuaskan ini mendorong pelaku pasar untuk berspekulasi mengenai langkah kebijakan moneter selanjutnya dari Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juni kini meningkat menjadi sekitar 50%, naik signifikan dari perkiraan sebelumnya yang hanya sekitar 35%, menurut data yang dikumpulkan oleh LSEG.

Ellen Zentner, Kepala Strategi Ekonomi Morgan Stanley Wealth Management, berpendapat bahwa data terbaru ini menempatkan bank sentral AS dalam posisi yang sulit. “Pelemahan yang signifikan di pasar tenaga kerja akan mendukung pemangkasan suku bunga. Namun, jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu yang lama dan memicu lonjakan inflasi baru, The Fed mungkin akan memilih untuk tetap menunggu dan melihat,” jelasnya.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung selama hampir seminggu juga menjadi perhatian utama. Dampaknya sudah terasa pada harga minyak yang melonjak tajam, mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

[bacajuga-inside]Cermati Proyeksi Rupiah untuk Pekan Depan Usai Ambles 0,82% di Pekan Ini[/bacajuga-inside]

Terhentinya pengiriman energi melalui Selat Hormuz, jalur krusial dalam perdagangan minyak global, semakin memperburuk situasi. Menteri Energi Qatar memperkirakan bahwa pemulihan pengiriman energi ke kondisi normal dapat memakan waktu “minggu hingga bulan”, bahkan jika gencatan senjata dapat segera dicapai. Lebih lanjut, ia memprediksi bahwa produsen energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan ekspor dalam beberapa minggu mendatang, yang bisa mendorong harga minyak hingga mencapai US$150 per barel.

Kenaikan harga minyak ini berdampak negatif pada saham-saham maskapai penerbangan. Saham American Airlines dan Delta Air Lines mengalami penurunan lebih dari 3% pada perdagangan pre-market. Subindeks maskapai penumpang di S&P 500 bahkan diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan sekitar 9%.

Indeks volatilitas pasar CBOE Volatility Index (VIX), yang sering dianggap sebagai “pengukur ketakutan” di Wall Street, melonjak 3,2 poin menjadi 25,95. Kontrak berjangka indeks Russell 2000, yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, juga mengalami penurunan sebesar 2%.

[bacajuga-inside]Harga Nikel Turun, Saham Emiten Nikel Ambles Sepekan Terakhir[/bacajuga-inside]

Di sektor teknologi, saham produsen chip AI seperti Nvidia dan Advanced Micro Devices mengalami penurunan sekitar 2%. Sentimen negatif ini dipicu oleh pembahasan pemerintah AS mengenai kerangka regulasi baru terkait ekspor chip kecerdasan buatan.

Meskipun sentimen pasar secara umum kurang menggembirakan, kinerja saham AS masih relatif lebih baik dibandingkan pasar Asia dan Eropa sepanjang minggu ini. Hal ini didukung oleh rebound sebesar 1,5% pada saham teknologi setelah mengalami koreksi pada bulan Februari. Indeks Nasdaq bahkan masih berpotensi mencatatkan kenaikan tipis secara mingguan.

Saham Marvell Technology menjadi pengecualian dengan melonjak 10% setelah perusahaan chip tersebut memproyeksikan pendapatan tahun fiskal 2028 yang melampaui estimasi analis. Sementara itu, saham energi seperti Occidental Petroleum dan NextDecade masing-masing naik lebih dari 2% seiring dengan lonjakan harga energi. Dana ETF gas alam juga mengalami kenaikan signifikan, sekitar 8% dan 4%.

Di sisi lain, saham ritel Gap anjlok 9% setelah perusahaan memperingatkan adanya tekanan dan ketidakpastian akibat tarif impor AS serta memproyeksikan laba tahunan yang lebih rendah dari perkiraan.

Ringkasan

Wall Street mengalami penurunan pada hari Jumat akibat kombinasi faktor, termasuk konflik Timur Tengah yang meningkat dan data tenaga kerja AS yang mengecewakan. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite mencatatkan penurunan signifikan, dengan Nasdaq mengalami penurunan terparah. Data tenaga kerja yang lemah meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed, sementara eskalasi konflik Iran mendorong kenaikan harga minyak, membebani saham maskapai penerbangan.

Harga minyak yang melonjak akibat konflik berdampak negatif pada sektor penerbangan, sementara indeks volatilitas pasar juga meningkat. Saham teknologi, termasuk produsen chip AI, mengalami penurunan karena potensi regulasi baru ekspor chip. Meskipun sentimen pasar negatif, kinerja saham AS relatif lebih baik dibandingkan pasar Asia dan Eropa, dengan beberapa pengecualian seperti Marvell Technology yang melonjak dan Gap yang anjlok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *