Shoesmart.co.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) memulai perdagangan pada hari Senin (2 Maret 2026) dengan sentimen negatif. Kekhawatiran investor meningkat seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang dikhawatirkan akan berkepanjangan. Konflik ini berpotensi mengganggu rantai pasokan global dan memicu kembali tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Pada pembukaan pasar, indeks-indeks utama mencatatkan penurunan serentak. Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 183,5 poin atau 0,37% menjadi 48.794,42. Indeks S&P 500 merosot 54,5 poin atau 0,79% ke level 6.824,36. Sementara itu, Nasdaq Composite mengalami penurunan paling tajam, yaitu sebesar 346,1 poin atau 1,53% ke posisi 22.322,12.
Sektor maskapai penerbangan menjadi yang paling terpukul di awal perdagangan. Hal ini dipicu oleh penghentian sejumlah penerbangan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah juga melonjak sekitar 8% setelah beberapa fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah menghentikan operasional produksi.
Kondisi ini menyebabkan saham maskapai penerbangan seperti Delta Air Lines dan United Airlines anjlok masing-masing sekitar 6% dalam perdagangan pre-market. Saham-saham perbankan besar, termasuk Bank of America dan Citigroup, juga mengalami penurunan sekitar 2%.
Di tengah gejolak pasar, investor cenderung mencari perlindungan pada aset-aset yang dianggap aman (safe haven), seperti dolar AS dan emas. Kenaikan harga emas mendorong saham perusahaan pertambangan emas, seperti Kinross Gold dan Harmony Gold, masing-masing naik sekitar 2%.
Sebaliknya, saham-saham di sektor pertahanan justru mengalami kenaikan. Lockheed Martin melonjak 5,2%, RTX Corporation menguat 6,4%, Kratos Defense & Security Solutions naik 6,6%, dan AeroVironment bahkan melonjak hingga 11%.
Volatilitas pasar juga mengalami peningkatan signifikan. Indeks volatilitas pasar (VIX), yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street, melonjak 3,08 poin ke level 22,84, yang merupakan level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan memperkirakan bahwa konflik di Timur Tengah dapat berlangsung hingga empat minggu. Namun, analis dari LPL Financial menilai bahwa pasar relatif “mencerna” informasi ini, karena investor telah mengantisipasi potensi konflik selama beberapa minggu terakhir.
Meskipun demikian, lonjakan harga minyak berpotensi memperburuk tekanan inflasi, terutama di tengah kenaikan harga akibat tarif yang diberlakukan oleh AS. Kekhawatiran ini mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS berbalik naik dan meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan Juni mendatang.
Kepala strategi ekuitas Wells Fargo memperkirakan bahwa indeks S&P 500 dapat turun ke level 6.000, atau sekitar 13% dari penutupan terakhir, jika harga minyak menembus US$100 per barel dalam skenario terburuk.
Saham-saham di sektor energi, seperti Occidental Petroleum dan ConocoPhillips, masing-masing naik 7,2% dan 5%. Di sisi lain, saham perusahaan kapal pesiar, seperti Carnival Corporation & plc dan Norwegian Cruise Line Holdings, masing-masing turun 7,3%.
Selain isu geopolitik, pasar juga akan mencermati data PMI manufaktur serta laporan ketenagakerjaan non-pertanian (non-farm payrolls) yang akan dirilis pada akhir pekan ini. Data-data ekonomi ini akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi AS dan prospek kebijakan moneter Federal Reserve.
Ringkasan
Bursa saham AS mengalami penurunan signifikan pada awal perdagangan akibat kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Konflik ini berpotensi mengganggu rantai pasokan global dan memicu inflasi, menyebabkan indeks-indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite merosot. Sektor penerbangan dan perbankan terpukul, sementara harga minyak mentah melonjak tajam.
Investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas, yang mendorong kenaikan saham perusahaan pertambangan emas. Sebaliknya, saham sektor pertahanan melonjak seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Volatilitas pasar meningkat, dan data ekonomi mendatang seperti PMI manufaktur dan laporan ketenagakerjaan non-pertanian akan menjadi fokus perhatian investor.