Shoesmart.co.id NEW YORK. Bursa Wall Street mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis (19/3/2026). Kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah membuat investor waswas terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Fed di masa depan.
Fokus utama investor tertuju pada pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, pada Rabu (28/3/2026), yang menyampaikan bahwa prospek ekonomi masih diliputi ketidakpastian. Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah menyebabkan harga energi meroket dan memicu kekhawatiran akan inflasi. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga stabil, sesuai dengan ekspektasi.
Data kontrak berjangka suku bunga menunjukkan bahwa para pelaku pasar melihat peluang penurunan suku bunga baru akan terjadi paling cepat pada pertengahan tahun 2027, menurut perangkat FedWatch CME. Sejalan dengan The Fed, Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga mempertahankan suku bunga mereka pada tingkat yang stabil, serta mengindikasikan ketidakpastian yang muncul akibat konflik di Timur Tengah.
Harga Minyak Naik pada Kamis (19/3) Pagi Pasca Serangan Fasilitas Energi Timur Tengah
Pada hari Kamis (19/3/2026), indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,27% dan mengakhiri sesi di level 6.606,49. Indeks Nasdaq menyusut 0,28% menjadi 22.090,69, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,44% ke level 46.021,43.
“Pasar sedang mencerna lebih dalam pernyataan Powell dan beberapa bank sentral lainnya semalam, bahwa risiko inflasi saat ini adalah nyata,” ujar Mike Dickson, Kepala Riset dan Strategi Kuantitatif di Horizon Investments, Charlotte, North Carolina, seperti dikutip oleh Reuters.
Harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan, meskipun masih jauh dari level tertinggi sesi di US$ 119 per barel setelah Iran menyerang fasilitas energi di Timur Tengah. Sebagai respons, pemerintah AS mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan minyak.
Dari 11 indeks sektor S&P 500, delapan di antaranya mengalami penurunan. Sektor material memimpin penurunan dengan 1,55%, diikuti oleh sektor barang konsumsi non-esensial yang turun 0,87%.
Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari mereka, yang mengindikasikan hilangnya momentum di pasar.
S&P 500 telah merosot lebih dari 3% pada tahun 2026 dan diperdagangkan pada level terendah dalam empat bulan terakhir.
Harga Emas Terkoreksi Meski Tensi Geopolitik Masih Panas
S&P 500 mencatat 17 rekor tertinggi baru dan 26 rekor terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 30 rekor tertinggi baru dan 276 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 20 miliar saham, sedikit lebih tinggi dari rata-rata 20 sesi terakhir.
Ringkasan
Bursa Wall Street mengalami pelemahan yang disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap inflasi, dipicu lonjakan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah. Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, tentang prospek ekonomi yang tidak pasti memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan dipertahankan stabil, bahkan prediksi penurunan suku bunga bergeser ke pertengahan 2027. Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga mempertahankan suku bunga stabil.
Pada penutupan Kamis (19/3/2026), indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan. Sektor material memimpin penurunan, diikuti oleh sektor barang konsumsi non-esensial. Indeks-indeks utama berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, menandakan hilangnya momentum, dengan S&P 500 berada pada level terendah dalam empat bulan terakhir.