NEW YORK, Shoesmart.co.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami turbulensi di awal perdagangan Senin (9/3/2026), tertekan oleh lonjakan harga minyak global yang memicu kekhawatiran baru akan inflasi. Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah memasuki hari kesepuluh.
Tiga indeks utama Wall Street serempak mencatatkan penurunan lebih dari 1%, mencerminkan kecemasan investor terhadap dampak konflik regional tersebut.
Secara rinci, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 639,86 poin atau 1,35% ke level 46.861,69. S&P 500 terpangkas 1,32% menjadi 6.650,85, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 1,28% ke posisi 22.099,93.
Harga minyak mentah melonjak mendekati US$ 120 per barel, menjadi katalis utama tekanan di pasar saham. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, memperburuk sentimen negatif.
Wall Street Anjlok Tertekan Lonjakan Harga Minyak, Kecemasan Investor Meningkat
Meskipun harga minyak sempat menunjukkan sedikit penurunan, kewaspadaan pasar tetap tinggi. Negara-negara maju yang tergabung dalam Group of Seven (G7) bersama Arab Saudi mulai membahas langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan energi, dengan tujuan menahan laju kenaikan harga minyak.
Lonjakan harga energi ini memperkuat kekhawatiran akan stagflasi, sebuah kondisi ekonomi yang tidak diinginkan di mana inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang lesu. Data dari pekan sebelumnya juga menunjukkan adanya pelemahan di pasar tenaga kerja AS, meskipun aktivitas ekonomi secara keseluruhan masih menunjukkan pertumbuhan.
Menurut analis pasar senior Trade Nation, David Morrison, kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi yang kembali meningkat. “Harga minyak yang lebih tinggi memicu kekhawatiran bahwa inflasi bisa kembali melonjak. AS mungkin tidak mengalami kekurangan pasokan seperti di Inggris, Eropa, atau Asia-Pasifik, tetapi dampak harga energi yang lebih mahal sudah terasa di tingkat konsumen,” jelasnya.
Sektor perjalanan menjadi salah satu yang paling terpukul oleh sentimen negatif ini. Indeks maskapai penumpang dalam S&P 500 merosot lebih dari 4%. Saham perusahaan kapal pesiar seperti Carnival Corporation juga mengalami penurunan signifikan, yakni 7,3%, diikuti oleh Royal Caribbean Group yang melemah 6,3%.
Wall Street Anjlok Imbas Pasar Kerja AS yang Melemah dan Kenaikan Harga Minyak
Sektor perbankan besar juga merasakan dampak negatifnya. Saham Morgan Stanley turun 2,3%, sementara Citigroup merosot 3%.
Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya yang mencatatkan kenaikan tipis di S&P 500, didorong oleh reli harga minyak dan gas.
Bank investasi Goldman Sachs memperingatkan bahwa periode harga minyak tinggi yang berkepanjangan dapat memberikan tekanan pada pasar saham sepanjang tahun ini. Bank tersebut memperkirakan bahwa setiap penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 poin persentase berpotensi memangkas laba perusahaan dalam indeks S&P 500 hingga sekitar 4%.
Tekanan juga dirasakan oleh saham perusahaan tambang logam mulia seperti Endeavour Silver dan Barrick Mining, yang masing-masing turun lebih dari 4% seiring dengan peralihan investor ke aset safe haven seperti dolar AS.
Sebagai kontras, beberapa saham perusahaan pertahanan justru menguat. Saham Smith & Wesson Brands dan Kratos Defense & Security Solutions naik sekitar 2%.
Lonjakan biaya energi juga semakin memperumit tugas bank sentral global dalam menentukan arah kebijakan moneter. Bagi Federal Reserve (The Fed), risiko inflasi akibat kenaikan harga energi diperkirakan akan menjadi perhatian utama.
Para pembuat kebijakan mengisyaratkan bahwa mereka akan menunggu untuk mengevaluasi dampak lonjakan biaya energi terhadap perekonomian sebelum memutuskan langkah selanjutnya terkait suku bunga.
Wall Street Turun Lebih dari 1% Jumat (6/3), Tertekan Perang Iran dan Data Pekerjaan
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir November, mengindikasikan bahwa pasar mulai memperkirakan suku bunga akan bertahan lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Data ketenagakerjaan yang lemah pada hari Jumat sebelumnya sempat memicu ekspektasi penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juni. Namun, pada perdagangan Senin, pelaku pasar mulai menggeser perkiraan tersebut menjadi sekitar bulan September atau Oktober.
Pekan ini, investor akan fokus pada serangkaian data ekonomi penting, termasuk angka lowongan pekerjaan, data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi indikator inflasi utama bagi The Fed, serta estimasi kedua pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartalan.
Ringkasan
Bursa saham Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tiga indeks utama Wall Street mencatatkan penurunan lebih dari 1%, dengan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite semuanya mengalami koreksi. Lonjakan harga minyak mendekati US$ 120 per barel memicu kekhawatiran akan inflasi dan stagflasi.
Sektor perjalanan dan perbankan mengalami dampak negatif, sementara sektor energi menjadi satu-satunya yang mencatatkan kenaikan. Investor juga fokus pada data ekonomi penting seperti lowongan pekerjaan dan data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), serta estimasi kedua pertumbuhan PDB kuartalan. Peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.