Wall Street Anjlok! Dow Jones Koreksi Akibat Konflik Timur Tengah

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami hari yang kelabu pada penutupan perdagangan Jumat (27 Maret 2026), dengan indeks-indeks utama mencatatkan level terendah dalam lebih dari tujuh bulan terakhir. Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran yang mendalam terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Mengutip data Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok tajam sebesar 793,47 poin atau 1,73%, berakhir di posisi 45.166,64. Sementara itu, S&P 500 terpangkas 1,67% menjadi 6.368,85, dan Nasdaq Composite merosot lebih dalam dengan penurunan 2,15%, ditutup pada 20.948,36.

Tekanan jual semakin kuat seiring dengan ketidakpastian yang terus membayangi akibat konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama sebulan. Kondisi ini secara signifikan mengurangi selera risiko para investor.

Dow Jones Industrial Average secara resmi memasuki zona koreksi, setelah mengalami penurunan lebih dari 10% dari rekor penutupan tertingginya yang terjadi pada 10 Februari lalu. Hal ini menyusul jejak Nasdaq Composite dan Russell 2000 yang telah lebih dulu terperosok ke dalam wilayah koreksi.

Wall Street Bergejolak: Harga Minyak Mendekati US$ 100, Inflasi Mengintai!

Sepanjang minggu ini, kinerja tiga indeks utama, termasuk S&P 500, mencatatkan penurunan selama lima minggu berturut-turut, menandai rentetan penurunan terpanjang dalam hampir empat tahun terakhir.

Sentimen pasar tetap tertekan meskipun Presiden AS, Donald Trump, memberikan ultimatum kepada Iran selama 10 hari untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi ancaman penghancuran fasilitas energi mereka.

Namun, Iran dengan tegas menolak proposal tersebut, yang berkaitan dengan upaya mengakhiri perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan AS-Israel.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pemerintah AS yakin dapat mencapai tujuan mereka tanpa harus mengerahkan pasukan darat, dan memperkirakan operasi militer akan selesai dalam hitungan minggu, meskipun ada penambahan pasukan di wilayah tersebut.

Wall Street Melemah, Kekhawatiran Timur Tengah Memicu Lonjakan Harga Minyak

Lonjakan harga energi semakin memperburuk kekhawatiran di pasar. Harga minyak mentah AS melonjak 5,46% menjadi US$ 99,64 per barel, sementara Brent menguat 4,22% ke level US$ 112,57 per barel, meskipun secara mingguan pergerakannya relatif stabil.

Kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya, seperti pupuk, memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi dan semakin mempersempit ruang gerak bank sentral untuk menurunkan suku bunga.

Para pelaku pasar kini tidak lagi memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga sekitar 25 basis poin pada bulan Oktober mulai diperhitungkan oleh pasar.

Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, mengakui adanya risiko ekonomi yang timbul akibat perang, namun belum memberikan sinyal yang jelas terkait arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Indeks Wall Street Merosot, Pasar Terus Dihantui Kekhawatiran Perang Iran yang Berlarut-larut

Tekanan jual juga terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar. Nvidia mengalami penurunan sebesar 2,2%, sementara Amazon anjlok 4%. Sektor perangkat lunak juga turut melemah dan menyentuh level terendah sejak November 2023.

Sektor konsumer diskresioner menjadi sektor dengan kinerja terburuk di S&P 500, setelah mengalami penurunan sebesar 3,1%. Saham operator kapal pesiar, Carnival Corporation, merosot 4,3% setelah memangkas proyeksi laba tahunannya, sementara Norwegian Cruise Line jatuh 6,9%.

Indeks volatilitas CBOE Volatility Index, yang dikenal sebagai indikator “ketakutan” pasar, melonjak ke level 31,05, level tertinggi sejak 21 April.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang naik, dengan rasio 3,38 banding 1 di NYSE dan 3,62 banding 1 di Nasdaq.

Di S&P 500, tercatat 22 saham mencetak level tertinggi baru, sementara 27 saham menyentuh titik terendah baru. Di Nasdaq, 355 saham jatuh ke level terendah baru, jauh melampaui 25 saham yang mencetak rekor tertinggi.

Sekjen PBB: Perang Timur Tengah di Luar Kendali! Selat Hormuz Terancam, Krisis Terbuka

Para analis menilai bahwa sentimen pasar saat ini telah berubah menjadi sangat negatif. “Nada pasar jelas sangat negatif dan sudah masuk ke wilayah koreksi,” ujar Ken Polcari, kepala strategi pasar di SlateStone Wealth.

Ia menambahkan, koreksi pasar bisa berlanjut lebih dalam sebelum akhirnya berbalik arah, dengan potensi penurunan tambahan hingga 15%–20%.

Ringkasan

Bursa saham Amerika Serikat anjlok pada hari Jumat, dengan indeks utama mencapai level terendah dalam lebih dari tujuh bulan akibat kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Dow Jones memasuki zona koreksi, mengikuti Nasdaq dan Russell 2000. Tekanan jual meningkat seiring ketidakpastian yang mengurangi selera risiko investor.

Konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dan komoditas lainnya, meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membatasi ruang gerak bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed. Sektor konsumer diskresioner menjadi sektor dengan kinerja terburuk, dan indeks volatilitas CBOE melonjak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *