Wacana Impor Bungkil Kedelai Berubah: Dampak ke Emiten Unggas?

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kinerja emiten unggas sepanjang Januari – September 2025 menunjukkan hasil yang bervariasi. Sorotan utama kini tertuju pada wacana pengalihan kewenangan impor bungkil kedelai dari pihak swasta ke BUMN, yaitu PT Berdikari, yang diprediksi dapat memengaruhi kinerja emiten sektor unggas.

Menurut Victor Stefano, Analis BRI Danareksa, pemerintah berencana mengalihkan wewenang impor bungkil kedelai (SBM) ke PT Berdikari mulai tahun 2026. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pakan secara nasional.

Bungkil kedelai (SBM) memiliki kontribusi signifikan, mencapai 20% hingga 25% dari biaya pakan unggas secara umum. Selain itu, SBM merupakan bahan pakan impor tahunan dengan volume terbesar.

“Untuk meminimalisir gangguan pasar selama masa transisi, perusahaan swasta masih diperbolehkan mengimpor SBM secara langsung hingga 31 Maret 2026. Volume impor ini akan dikoordinasikan dengan PT Berdikari. Perusahaan swasta juga berkesempatan mengajukan alokasi impor tambahan jika diperlukan,” jelas Victor dalam risetnya tertanggal 30 Januari 2026.

Sucor AM Hadirkan Inovasi Mendorong Investasi

Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dengan melarang pedagang menimbun stok. Meskipun selama ini Indonesia mengandalkan Brasil dan Argentina sebagai sumber utama impor SBM, Victor berpendapat bahwa sentralisasi impor berpotensi mengurangi fleksibilitas dalam memilih negara asal.

Lebih lanjut, Victor menjelaskan, jika kesepakatan perdagangan antarnegara mendorong peningkatan impor dari Amerika Serikat, yang secara struktural memiliki harga premium, maka biaya pakan dasar diperkirakan akan naik sekitar 2%.

Selain harga dasar yang lebih tinggi, biaya SBM juga akan meningkat akibat margin pedagang. BRI Danareksa memperkirakan margin ini sekitar 5%, berdasarkan margin kotor Berdikari pada tahun 2024 di segmen penugasan pemerintah. “Meskipun potensi kenaikan harga SBM mencapai 7%, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh pabrik pakan,” ungkap Victor.

Berdasarkan proyeksi BRI Danareksa Sekuritas, kenaikan biaya SBM sebesar 7% yang dimulai pada April 2026 akan berdampak negatif pada EBITDA tahun 2026 sebesar 1,1% – 3,8% dan laba bersih tahun 2026 sebesar 1,4% – 8,1%.

Meskipun ada penundaan, Victor melihat bahwa kenaikan biaya pakan di seluruh industri biasanya akan diteruskan ke harga pakan yang lebih tinggi. Akibatnya, dalam jangka panjang, margin pakan akan stabil, tetapi peternakan unggas yang kurang efisien akan tersingkir dan/atau harga ayam akan meningkat.

“Meskipun peraturan baru ini akan berdampak negatif pada margin dan pendapatan integrator dalam jangka pendek, kami yakin integrator yang lebih besar akan berkembang dalam jangka panjang karena keunggulan skala ekonomi yang lebih besar,” kata Victor.

Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin (9/2)

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, berpendapat bahwa pengambilalihan kontrol impor soybean oleh Berdikari untuk seluruh pemain poultry swasta akan cenderung berdampak negatif. Hal ini disebabkan karena pemain swasta akan kehilangan kendali dalam memilih negara asal impor soybean.

“Margin keuntungan akan tergerus jika soybean diimpor dari AS yang memiliki harga soybean yang relatif premium,” ujar Harry Su kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, melihat bahwa risiko dari impor soybean melalui PT Berdikari adalah potensi inefisiensi birokrasi bagi emiten besar seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang sudah memiliki jalur mandiri. Sementara itu, peluangnya adalah stabilisasi harga pakan nasional jika pemerintah berhasil melakukan bulk buying.

“Tantangan utamanya adalah kurs rupiah. Pelemahan rupiah ke level Rp 16.800 – Rp 16.900 per dolar AS menaikkan biaya impor bahan baku pakan,” ucap David kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Harry menambahkan, tantangan yang dihadapi oleh emiten poultry di kuartal I – 2026 adalah menguatnya harga soybean impor. Penting untuk diingat bahwa soybean berkontribusi sekitar 25% terhadap biaya bahan baku pakan.

“Hal ini jelas akan menggerus margin keuntungan perusahaan,” terang Harry Su.

Victor memberikan rekomendasi saham Buy untuk saham CPIN, JPFA, dan Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dengan target harga masing – masing Rp 5.600 per saham, Rp 3.100 per saham, dan Rp 1.500 per saham.

Harry merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 3.100 per saham, Buy saham CPIN dengan target harga Rp 6.000 per saham, dan Buy saham MAIN dengan target harga Rp 1.500 per saham.

Sementara itu, David juga merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 3.400 per saham.

Ringkasan

Wacana pengalihan kewenangan impor bungkil kedelai (SBM) ke BUMN, PT Berdikari, mulai tahun 2026 menjadi perhatian utama bagi emiten unggas. Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pakan nasional. Meskipun demikian, sentralisasi impor dikhawatirkan dapat mengurangi fleksibilitas dalam memilih negara asal dan berpotensi meningkatkan biaya pakan jika impor lebih banyak berasal dari Amerika Serikat.

Analis memperkirakan kenaikan biaya SBM dapat berdampak negatif pada EBITDA dan laba bersih emiten unggas. Meskipun begitu, kenaikan biaya pakan diperkirakan akan diteruskan ke harga pakan, menstabilkan margin jangka panjang, meskipun peternakan unggas yang kurang efisien mungkin akan tersingkir. Beberapa analis merekomendasikan beli untuk saham CPIN, JPFA, dan MAIN dengan target harga yang bervariasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *