KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar modal Indonesia diguncang oleh anjloknya harga saham PT United Tractors Tbk (UNTR) pada perdagangan Rabu (21/1/2026). Hingga sesi I pukul 10.21 WIB, saham UNTR terperosok tajam hingga 14,07% ke level Rp 27.475. Penurunan signifikan ini terjadi ironisnya di tengah catatan net buy sebesar Rp 226,7 miliar berdasarkan data Stockbit, mengindikasikan kuatnya sentimen negatif yang mengalahkan minat beli investor.
Guncangan pasar tidak hanya menimpa UNTR, tetapi juga merembet ke induk usahanya, PT Astra International Tbk (ASII). Pada waktu yang sama, harga saham ASII turut melemah 9,28% menjadi Rp 6.600, meskipun juga membukukan net buy mencapai Rp 90,8 miliar. Tekanan jual masif yang dialami kedua saham raksasa ini mencerminkan kekhawatiran mendalam para investor terhadap prospek bisnis terkait sumber daya alam.
Penyebab utama pelemahan pasar yang drastis ini terungkap setelah pemerintah secara resmi mengumumkan pencabutan izin operasional sejumlah perusahaan berbasis sumber daya alam. Di antara daftar tersebut, anak usaha UNTR, yaitu PT Agincourt Resources, yang mengelola tambang emas Martabe, menjadi sorotan utama. Kabar ini langsung memicu aksi jual agresif di pasar, mengingat peranan strategis Agincourt bagi kinerja UNTR.
Pengumuman krusial mengenai pencabutan izin ini disampaikan oleh Menteri Sekretariat Negara, Prasetyo Hadi, dalam konferensi pers Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang disiarkan daring melalui YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa (20/1/2026). Ia menjelaskan bahwa pencabutan izin dilakukan sebagai bagian dari upaya penertiban usaha kehutanan, perkebunan, dan pertambangan. Langkah ini diambil menyusul serangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.
“Penertiban ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menata kembali aktivitas usaha berbasis sumber daya alam, baik di sektor kehutanan, perkebunan, maupun pertambangan,” tegas Menteri Prasetyo Hadi. Ia menambahkan bahwa Satgas PKH telah mempercepat proses audit di ketiga provinsi tersebut, dan keputusan final pencabutan izin diambil dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo pada Senin (19/1/2026).
Secara keseluruhan, Presiden Prabowo mengambil keputusan untuk mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran. Dari jumlah tersebut, enam perusahaan berasal dari sektor tambang, perkebunan, dan pemanfaatan hasil hutan. Yang paling menonjol dan menjadi satu-satunya perusahaan tambang dalam daftar yang izinnya dicabut adalah PT Agincourt Resources, pengelola vital tambang emas Martabe di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Meskipun tambang emas Martabe beroperasi berdasarkan Kontrak Karya (KK) yang berlaku selama 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia, sentimen pasar tidak terbendung. Kabar pencabutan izin ini memicu respons cepat dari investor, yang segera membuang saham UNTR dan ASII. Hal ini mencerminkan kekhawatiran serius terhadap potensi dampak lanjutan terhadap kinerja UNTR, termasuk prospek pendapatan dan keberlanjutan operasional, serta berpotensi menekan sentimen keseluruhan pada sektor pertambangan di masa mendatang.
Ringkasan
Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dan induknya PT Astra International Tbk (ASII) anjlok tajam pada perdagangan 21 Januari 2026, masing-masing terperosok 14,07% dan 9,28%. Penurunan signifikan ini dipicu oleh pengumuman pemerintah tentang pencabutan izin operasional sejumlah perusahaan berbasis sumber daya alam. Salah satu yang paling disorot adalah PT Agincourt Resources, anak usaha UNTR pengelola tambang emas Martabe, yang izinnya dicabut.
Pencabutan izin oleh pemerintah, termasuk Agincourt Resources, merupakan bagian dari upaya penertiban usaha kehutanan, perkebunan, dan pertambangan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa keputusan ini diambil setelah rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo, menyusul bencana hidrometeorologi di Sumatera. Langkah ini memicu aksi jual agresif investor, mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek kinerja UNTR dan sentimen di sektor pertambangan.