Pemerintah Cina kembali menyerukan penghentian operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Seruan ini muncul di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan serangan, meskipun Cina meyakini bahwa solusi militer tidak akan menyelesaikan akar permasalahan yang ada.
“Eskalasi konflik tidak akan menguntungkan pihak mana pun. Kami sekali lagi mendesak semua pihak yang terlibat untuk segera menghentikan operasi militer,” tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (3/4).
Pernyataan ini menanggapi komentar Presiden Trump yang mengklaim bahwa Amerika Serikat hampir mencapai tujuan militernya di Iran dan akan meningkatkan tekanan terhadap negara tersebut. Bahkan, Trump menyebutkan kemungkinan serangan yang sangat keras dalam waktu dekat yang akan membawa Iran kembali ke “zaman batu”.
Mao Ning menekankan pentingnya perundingan damai sesegera mungkin. Menurutnya, penyelesaian masalah yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui dialog dan negosiasi, demi mencegah dampak yang lebih serius terhadap ekonomi dunia dan keamanan energi global.
Baca juga:
- OJK dan BEI Ungkap Strategi Cegah Penyimpangan Proses IPO Terulang Kembali
- OJK dan BEI Tuntaskan 4 Reformasi Pasar Modal, Bagaimana Dampak ke Bursa Saham?
- Kemkominfo Sebut Jaringan Telekomunikasi di Sulut Sudah Pulih 24 Jam Pascagempa
Mao Ning juga menyoroti bahwa akar penyebab ketegangan di Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Ia berpendapat bahwa hanya dengan mengakhiri tindakan militer dan memulihkan perdamaian serta stabilitas di kawasan Teluk, jalur pelayaran internasional dapat dibuka dan dijamin keamanannya.
“Komunitas internasional perlu bekerja sama untuk meredakan ketegangan guna mencegah gejolak regional lebih lanjut yang dapat berdampak negatif pada ekonomi global dan keamanan energi,” lanjut Mao Ning.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Selat Hormuz dan perairan sekitarnya merupakan jalur perdagangan internasional yang vital untuk pengiriman barang dan energi.
“Semua perhatian tertuju pada apakah stabilitas dapat dikembalikan ke Selat Hormuz dan apakah lalu lintas pelayaran akan segera pulih. Kuncinya terletak pada penghentian aksi militer,” tegas Mao Ning.
Ancaman Trump di Tengah Upaya Negosiasi
Presiden Trump berulang kali menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Namun, ia memperingatkan bahwa jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, AS akan menyerang seluruh pembangkit listrik di Iran.
“Kami belum menyerang ladang minyak mereka, meskipun itu adalah target yang paling mudah, karena itu tidak memberi mereka peluang untuk bertahan. Namun, kami bisa menyerangnya dan itu akan hilang,” ancamnya.
Trump juga mengklaim bahwa AS hampir tidak lagi mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan melakukannya di masa depan. Ia juga menyebut Iran telah “hancur secara militer dan ekonomi” serta mendesak negara lain untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah klaim bahwa Teheran telah meminta gencatan senjata kepada AS. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan bahwa dialog yang sedang berlangsung dengan AS bukanlah perundingan formal, melainkan hanya pertukaran pesan terbatas, baik secara langsung maupun melalui perantara di kawasan tersebut.
Ketegangan di kawasan ini meningkat sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Sejak operasi dimulai, dilaporkan 13 personel militer AS tewas dan sekitar 303 lainnya terluka.
Ringkasan
Cina mendesak penghentian operasi militer oleh AS, Israel, dan Iran, menekankan bahwa eskalasi konflik tidak menguntungkan siapa pun. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Mao Ning, menyerukan perundingan damai untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi, demi mencegah dampak negatif terhadap ekonomi dunia dan keamanan energi global.
Seruan ini muncul di tengah ancaman Presiden Trump untuk meningkatkan serangan terhadap Iran, bahkan menyebutkan kemungkinan serangan yang akan membawa Iran kembali ke “zaman batu”. Mao Ning menyoroti akar penyebab ketegangan di Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal oleh AS dan Israel, menegaskan pentingnya memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk.