Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) angkat bicara mengenai peningkatan porsi saham publik atau *free float* menjadi 15%. Emiten Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu ini menyatakan kesiapannya untuk memenuhi ketentuan tersebut, meskipun realisasinya membutuhkan waktu.
Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri Pacific, Suryandi, menegaskan bahwa TPIA siap mematuhi arahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait pemenuhan ketentuan *free float*. TPIA akan memanfaatkan masa transisi dua hingga tiga tahun yang diberikan oleh otoritas pasar modal.
Untuk memenuhi kebijakan ini, TPIA perlu menambah porsi *free float* sekitar 5%. “Tentu kami akan patuh, tapi butuh waktu karena dari 10% ke 15% ada penambahan sekitar 5%. Pada saat kami menambah *free float*, tentu harus ada penyerapan juga. Kami akan rencanakan dengan baik, dan pada waktunya akan kami sampaikan,” ujar Suryandi dalam Diskusi Media yang berlangsung pada Selasa (24/2/2026).
Proyek Pabrik CA-EDC Chandra Asri Pacific (TPIA) Telah Mencapai Progres 50%
Merujuk Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Januari 2026, porsi kepemilikan publik atas saham TPIA masih berada di angka 10,68%. Peningkatan batas minimum saham beredar bebas atau *free float* menjadi 15% merupakan salah satu rencana aksi percepatan reformasi integrasi pasar modal, yang akan diimplementasikan secara bertahap selama tiga tahun.
Selain berupaya memenuhi ketentuan di pasar modal, Suryandi menambahkan bahwa TPIA saat ini fokus merampungkan sejumlah proyek ekspansi. Fokus utama adalah pembangunan Pabrik Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten.
Saat ini, progres pembangunan pabrik dengan nilai investasi sekitar Rp 15 triliun ini telah mencapai 56%. TPIA menargetkan konstruksi Pabrik CA-EDC rampung tahun ini dan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. “Sekarang konsentrasi kami adalah menyelesaikan semua *pipeline* pengembangan dan pabrik baru tepat waktu. Proyek-proyek lain yang lebih kecil juga akan kami selesaikan,” jelas Suryandi.
Dari sisi kinerja, Suryandi optimistis TPIA mampu mempertahankan posisi *bottom line* positif untuk laporan keuangan setahun penuh 2025. Hingga kuartal III-2025, pendapatan TPIA melonjak 314,63% (*year-on-year*) menjadi US$ 5,10 miliar. Hal ini berhasil membalikkan rugi sebesar US$ 59,37 juta menjadi laba bersih US$ 1,29 miliar.
Simak Rekomendasi Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) yang Gencar Rilis Obligasi
Lebih lanjut, Suryandi menyampaikan bahwa laporan keuangan TPIA tahun buku 2025 akan dirilis pada pertengahan bulan depan. Dengan raihan laba bersih tersebut, Suryandi mengisyaratkan adanya potensi pembagian dividen final pada pertengahan tahun ini. “Untuk dividen final-nya, akan kami putuskan pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), kira-kira di bulan Mei, paling telat Juni. (Kinerja keuangan) sampai September positif. Untuk kuartal keempat 2025, kurang lebih tidak begitu jauh,” terang Suryandi.
Rekomendasi Saham TPIA
Pada kesempatan yang sama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama, melihat sejumlah katalis positif yang membayangi prospek bisnis dan saham TPIA. Nafan menyoroti transformasi bisnis TPIA yang agresif melakukan ekspansi, termasuk melalui akuisisi strategis di Singapura.
Aksi korporasi besar yang dilakukan TPIA antara lain akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd., yang sebelumnya dipegang oleh Shell Energy and Chemicals Park. Di awal tahun ini, TPIA juga menuntaskan akuisisi jaringan SPBU merek Esso milik ExxonMobil di Singapura.
Nafan juga menyoroti pengembangan bisnis TPIA di sektor energi dan infrastruktur, termasuk pelabuhan, yang dapat memberikan *recurring income*. Diversifikasi bisnis ini dapat menopang neraca keuangan TPIA saat harga komoditas kimia sedang tertekan.
TPIA Chart by TradingView
Selain itu, katalis positif juga datang dari pabrik CA-EDC yang dijadwalkan beroperasi awal tahun depan. “Secara fundamental, TPIA kini jauh lebih kuat dibandingkan 1-2 tahun lalu, terutama berkat aset di Singapura,” kata Nafan.
Namun, Nafan memberikan catatan bahwa TPIA memiliki Price Earning Ratio (PER) sekitar 28 – 29 kali, yang tergolong relatif tinggi dibandingkan rata-rata industri. Selain itu, lonjakan laba sebagian besar didorong oleh faktor non-operasional.
“Investor perlu mencermati apakah TPIA mampu menjaga profitabilitas operasional secara konsisten di tahun 2026. (Saham) TPIA cocok bagi investor dengan profil risiko moderat – agresif yang percaya pada katalis ekspansi jangka panjang Grup Barito,” ujar Nafan.
Nafan menambahkan, pergerakan saham TPIA secara teknikal sering kali dipengaruhi oleh aliran dana institusi besar dan sentimen aksi korporasi. Menurutnya, investor dapat mencermati target harga saham TPIA di level Rp 7.400, Rp 7.900 hingga Rp 8.700, dengan memperhatikan *support* di area Rp 6.950 hingga Rp 6.600.
Ringkasan
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyatakan kesiapannya untuk memenuhi ketentuan peningkatan free float menjadi 15% sesuai arahan OJK dan BEI. Perusahaan akan memanfaatkan masa transisi 2-3 tahun dan merencanakan penambahan porsi free float sekitar 5% dengan mempertimbangkan penyerapan pasar. Selain itu, TPIA fokus pada penyelesaian proyek ekspansi, terutama pembangunan Pabrik Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon yang sudah mencapai progres 56% dan ditargetkan beroperasi pada kuartal pertama 2027.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama, melihat katalis positif dari ekspansi agresif TPIA, termasuk akuisisi di Singapura dan pengembangan bisnis di sektor energi dan infrastruktur. Meskipun PER TPIA relatif tinggi, Nafan menilai saham TPIA cocok untuk investor dengan profil risiko moderat-agresif yang percaya pada ekspansi jangka panjang Grup Barito, dengan target harga saham di level Rp 7.400 – Rp 8.700.