TOWR: Restrukturisasi & 5G Dongkrak Kinerja Hingga 2026?

Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menunjukkan prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan. Hal ini didukung oleh langkah restrukturisasi grup yang tengah dipercepat perusahaan, serta meningkatnya kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, terutama layanan fiber, seiring dengan ekspansi jaringan 5G.

Saat ini, TOWR tengah fokus pada restrukturisasi grup dengan mendorong dua anak usahanya, yaitu PT Solusi Tunas Pratama Tbk (IBST) dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (SUPR), untuk melakukan *delisting* dari Bursa Efek Indonesia dan menjadi perusahaan tertutup (*go private*). Langkah strategis ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kinerja perusahaan secara keseluruhan.

SUPR telah mengantongi persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada 20 Mei 2026. Sementara itu, IBST masih menunggu restu dari para pemegang saham dan dijadwalkan untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 5 Juni 2026, jika tidak ada perubahan agenda.

Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, berpendapat bahwa restrukturisasi ini akan membawa dampak positif terhadap efisiensi bisnis TOWR dalam jangka panjang. Dengan struktur grup yang lebih sederhana, operasional yang lebih efisien, serta integrasi bisnis menara dan fiber yang lebih kuat, TOWR akan memiliki landasan yang lebih kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan.

Arah Kebijakan BI Jadi Katalis, Begini Prospek Kinerja Sarana Menara Nusantara (TOWR)

“Restrukturisasi melalui *delisting* dan *go private* IBST serta SUPR dinilai positif bagi TOWR karena dapat menyederhanakan struktur grup, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat integrasi bisnis *tower* dan fiber,” ujar Sukarno kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Lebih lanjut, Sukarno menjelaskan bahwa langkah ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi TOWR dalam melakukan ekspansi bisnis dan pengelolaan aset. Meskipun kebutuhan pendanaan untuk *tender offer* dalam aksi korporasi ini masih menjadi perhatian pelaku pasar, secara fundamental, strategi ini dipandang sebagai langkah efisiensi korporasi yang akan memperkuat daya saing perusahaan di industri.

Dari sisi prospek bisnis, Sukarno melihat bahwa katalis utama pertumbuhan TOWR pada 2026 berasal dari peningkatan bisnis fiber, melonjaknya kebutuhan data, serta potensi efisiensi yang dihasilkan pasca-restrukturisasi. Selain itu, peluang kenaikan *tenancy ratio* juga masih terbuka lebar seiring dengan ekspansi jaringan yang dilakukan oleh operator telekomunikasi. “Kebutuhan data yang terus meningkat akan mendukung permintaan infrastruktur telekomunikasi, terutama fiber,” imbuhnya.

Senada dengan Sukarno, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Etta Rusdiana Putra, meyakini bahwa persaingan layanan 5G akan menjadi sentimen positif bagi emiten menara telekomunikasi, termasuk TOWR. Operator telekomunikasi diperkirakan akan mulai mengalihkan fokus dari sekadar memperluas cakupan jaringan menjadi meningkatkan kualitas jaringan, yang pada gilirannya akan mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur menara dan layanan *fiber-to-the-tower* (FTTT).

TOWR diperkirakan akan menambah sekitar 500 menara baru sepanjang 2026 hingga 2027 dengan rasio *tenancy* masing-masing sebesar 1,6 kali. Hal ini menunjukkan bahwa TOWR memiliki potensi yang besar untuk terus mengembangkan bisnisnya.

Rupiah Cetak Rekor Baru di Rp 17.846, Sentimen Domestik Jadi Beban

“Kami menilai layanan terintegrasi, termasuk *fibre-to-the-tower* (FTTT), menjadi pendorong pertumbuhan utama industri ini. TOWR dinilai memiliki posisi yang kuat di sektor tersebut dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebagai pelanggan utama yang masing-masing menyumbang 42% dan 34% pendapatan pada 2025,” jelas Etta dalam risetnya tertanggal 21 April 2026.

Etta juga menambahkan bahwa meningkatnya persaingan layanan 5G akan menguntungkan perusahaan menara telekomunikasi karena kebutuhan layanan FTTT diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Meskipun memiliki prospek yang cerah, TOWR juga dihadapkan pada sejumlah tantangan. Sukarno menyebutkan bahwa konsolidasi operator telekomunikasi berpotensi menekan pertumbuhan bisnis menara telekomunikasi. Selain itu, risiko renegosiasi kontrak sewa dan tingginya suku bunga juga menjadi sentimen negatif yang perlu diperhatikan oleh para investor. Potensi *foreign outflow* terhadap saham defensif domestik juga dinilai dapat mempengaruhi pergerakan saham TOWR.

Di sisi lain, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, memproyeksikan bahwa pendapatan non-menara akan menjadi motor utama pertumbuhan TOWR pada 2026. Dalam risetnya yang diterbitkan pada 6 April 2026, Steven memperkirakan pendapatan non-menara akan meningkat 12,0% secara tahunan menjadi Rp 5,2 triliun. Sementara itu, bisnis penyewaan menara diperkirakan tumbuh 1,7% *year-on-year* (YoY) menjadi Rp 8,9 triliun, didukung oleh tambahan *tenancy* dari EXCL pasca-merger.

TOWR Chart by TradingView

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, pendapatan TOWR meningkat menjadi Rp 13,32 triliun pada 2025, naik 4,64% dibandingkan Rp 12,73 triliun pada 2024. Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba bersih TOWR juga tercatat sebesar Rp 3,67 triliun pada 2025, atau tumbuh 10,27% dibandingkan Rp 3,33 triliun pada tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, Steven memperkirakan pendapatan TOWR hingga akhir 2026 akan tumbuh 5,2% YoY menjadi Rp 14,0 triliun. Adapun laba bersih diproyeksikan meningkat 7% YoY menjadi sekitar Rp 3,93 triliun.

Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno menilai bahwa secara teknikal, saham TOWR masih berada dalam tren pelemahan atau *downtrend*. Oleh karena itu, strategi yang dinilai tepat adalah *buy on weakness* atau akumulasi bertahap dengan target harga terdekat di kisaran Rp 450 hingga Rp 500 per saham.

Sementara itu, Steven merekomendasikan beli saham TOWR dengan target harga Rp 700 per saham. Adapun Etta juga memberikan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp 880 per saham.

Ringkasan

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) diproyeksikan memiliki prospek pertumbuhan yang baik hingga 2026 didukung oleh restrukturisasi grup dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, terutama untuk layanan fiber dan ekspansi jaringan 5G. Perusahaan tengah fokus pada restrukturisasi dengan mendorong anak usahanya, IBST dan SUPR, untuk *delisting* dan menjadi perusahaan tertutup, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi bisnis.

Analis melihat bahwa persaingan layanan 5G akan menjadi katalis positif bagi TOWR, mendorong peningkatan kebutuhan layanan *fiber-to-the-tower* (FTTT). Meskipun ada tantangan seperti konsolidasi operator telekomunikasi, TOWR diperkirakan akan terus mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, dengan rekomendasi beli saham dari beberapa analis dengan target harga yang bervariasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *