Timur Tengah Bergejolak, Asing Kabur! IHSG Terancam?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu gejolak di pasar keuangan global, mendorong investor untuk mengambil sikap risk-off. Kondisi ini berdampak pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama dalam jangka pendek, melalui sentimen global dan arus modal asing.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa konflik geopolitik ini bertindak sebagai external shock yang meningkatkan risk premium secara global. Investor cenderung mencari keamanan dengan mengalihkan dana ke aset-aset defensif, seperti dolar AS, obligasi negara maju, dan emas.

“Ketika volatilitas pasar meningkat, dana global biasanya mengalir ke aset-aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan arus dana dalam jangka pendek,” ungkap Liza kepada Kontan, Senin (2 Maret 2026).

Konflik Timur Tengah Tekan Pasar, tapi Prospek Harga Emas Masih Bullish

Menurut Liza, tekanan terhadap IHSG berasal dari dua sumber utama. Pertama, korelasi dengan aset berisiko global. Kedua, kecenderungan investor asing untuk mengambil posisi aman saat ketidakpastian meningkat. Sepanjang tahun 2026, investor asing tercatat telah melakukan net sell sekitar Rp9,51 triliun, menunjukkan bahwa pasar domestik cukup sensitif terhadap sentimen risk-off tambahan.

Namun, Liza menekankan bahwa Indonesia tidak serta merta dirugikan oleh konflik geopolitik. Sebagai pasar yang berbasis komoditas, dampak terhadap IHSG sangat bergantung pada fluktuasi harga energi dan komoditas global.

Sebagai contoh, pada saat konflik Rusia-Ukraina tahun 2022, IHSG justru sempat menguat sekitar 5% dari akhir Februari hingga April akibat lonjakan harga komoditas. Hal ini menunjukkan bahwa jika eskalasi konflik saat ini lebih banyak mendorong kenaikan harga energi dan logam, pasar domestik berpotensi menjadi lebih resilient.

Dalam jangka pendek, pelemahan IHSG menuju area 8.000 mengindikasikan bahwa pasar mulai memperhitungkan kenaikan risk premium. Namun, selama tidak terjadi gangguan signifikan terhadap pasokan energi global, koreksi ini diperkirakan bersifat sementara dan bukan merupakan perubahan tren struktural.

Dari perspektif sektoral, saham-saham dengan beta tinggi dan valuasi mahal berpotensi mengalami tekanan. Terutama, saham perbankan berkapitalisasi besar yang sering menjadi sumber likuiditas saat terjadi arus keluar dana asing.

Sebaliknya, peluang terbuka bagi sektor energi, emas, dan komoditas yang berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga global. Meskipun demikian, hal ini bersifat spekulatif dan membutuhkan manajemen risiko yang ketat.

Secara teknikal, Liza memproyeksikan bahwa IHSG memiliki support utama di kisaran 8.000 hingga 7.950, dengan support lanjutan di area 7.840. Selama level tersebut bertahan, pergerakan indeks masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat.

Sementara itu, resistance jangka pendek berada di area 8.250 hingga 8.400, yang dapat tercapai jika sentimen mulai stabil atau harga komoditas kembali menguat.

Dalam kondisi pasar yang volatil, Liza menyarankan investor untuk mengurangi porsi agresif dan menerapkan strategi wait and see, menghindari panic selling.

“Fokus utama saat ini adalah melakukan risk adjustment dan mengatur ukuran posisi. Peluang trading di sektor energi dan emas tetap ada, tetapi sifatnya highly speculative, sehingga disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci,” jelasnya.

Hasil Survei PwC: 75% CEO Indonesia Siap Ekspansi ke Luar Bisnis Inti

Liza menambahkan, investor sebaiknya tetap mempertahankan portofolio inti pada saham-saham berfundamental kuat dengan strategi akumulasi bertahap ketika volatilitas mulai mereda. Selain itu, penting untuk meningkatkan porsi instrumen defensif guna menjaga fleksibilitas investasi.

Pada penutupan perdagangan Senin (2 Maret 2026), IHSG ditutup melemah 2,66% ke level 8.016,83. Penurunan ini mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global serta tekanan arus dana asing di tengah sentimen risk-off yang menguat.

Ringkasan

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global, yang berdampak pada IHSG melalui tekanan arus modal asing. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS dan emas, sehingga emerging markets seperti Indonesia menghadapi tekanan jual. Sepanjang tahun 2026, asing tercatat telah melakukan net sell sekitar Rp9,51 triliun.

Tekanan terhadap IHSG berasal dari korelasi dengan aset berisiko global dan kecenderungan investor asing untuk mengambil posisi aman. Namun, IHSG bisa menjadi lebih resilient jika eskalasi konflik mendorong kenaikan harga energi dan komoditas, seperti yang terjadi pada konflik Rusia-Ukraina. Investor disarankan untuk melakukan risk adjustment dan mengatur ukuran posisi, serta fokus pada saham berfundamental kuat dan instrumen defensif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *