Musim THR (Tunjangan Hari Raya) Lebaran 2026 telah tiba. Kabar gembira bagi masyarakat Indonesia, khususnya para Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI, Polri, dan karyawan swasta, karena dana THR mulai dicairkan. Bahkan, untuk ASN, TNI, dan Polri, pemerintah telah memulai proses pencairan secara bertahap sejak 26 Februari 2026.
Secara tradisional, THR menjadi amunisi utama bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi menjelang Hari Raya Idulfitri. Namun, tak sedikit pula yang cerdas memanfaatkan momen ini untuk berinvestasi. Pilihan investasi pun beragam, mulai dari emas yang klasik, tabungan yang aman, obligasi yang menjanjikan, hingga reksadana dan saham yang berpotensi memberikan keuntungan lebih.
Akan tetapi, situasi tahun ini terasa berbeda. Ketidakpastian ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, ditambah dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, diperkirakan akan memengaruhi alokasi THR untuk investasi. Pasar saham, khususnya, diprediksi tidak akan seramai tahun-tahun sebelumnya.
Pencairan THR 2026 Jadi Katalis Emiten Konsumer dan Ritel, Cek Rekomendasi Sahamnya
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa dana THR memang jarang langsung “terjun” ke pasar modal. Masyarakat cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok dan persiapan Lebaran.
Bahkan investor saham yang sudah berpengalaman pun, menurut Liza, umumnya hanya mengalokasikan sebagian kecil THR untuk investasi. Sisanya tetap disimpan sebagai dana cadangan likuiditas jangka pendek. “Dalam kondisi pasar saham seperti saat ini, investor cenderung lebih berhati-hati, meskipun banyak saham fundamental yang sebenarnya sudah cukup terdiskon,” ungkap Liza pada Jumat (6/3).
Senada dengan Liza, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, berpendapat bahwa meningkatnya ketidakpastian global membuat masyarakat lebih memilih untuk menahan diri dalam hal konsumsi maupun investasi.
“Tensi geopolitik membuat masyarakat khawatir. Mereka tampaknya akan menahan diri untuk berinvestasi,” kata Nico.
Kewaspadaan investor ini juga dipengaruhi oleh kinerja pasar saham domestik yang belum menunjukkan sinyal positif sejak awal tahun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penurunan sebesar 12,27% secara year to date (YtD) ke level 7.585,68 hingga penutupan perdagangan Jumat (6/3).
Ketidakpastian Geopolitik Bikin Investor Alihkan Dana THR ke Instrumen Aman
Kondisi pasar yang kurang menggembirakan ini juga berdampak pada arus modal asing. Dana asing terus keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan terakhir, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp263 miliar. Secara kumulatif sejak awal tahun, aksi jual bersih investor asing telah mencapai Rp7,28 triliun.
Di tengah situasi seperti ini, dana THR yang dimiliki investor saham berpotensi dialihkan ke instrumen investasi lain yang dianggap lebih aman dan minim risiko.
Obligasi menjadi salah satu alternatif menarik. Instrumen ini menawarkan kepastian imbal hasil, meskipun tren kupon saat ini sedang menurun.
Nico menilai sukuk ritel seri SR024 yang mulai dipasarkan pada 6 Maret hingga 15 April 2026 berpotensi menarik minat investor.
Ia berpendapat bahwa seri SR024 dengan tenor lima tahun lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan ORI029T5 yang memiliki kupon 5,80%. Menurutnya, instrumen tersebut dapat dipertimbangkan untuk menempatkan dana yang belum digunakan.
IHSG Ambruk 7,89% ke 7.585, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Ini
Sementara itu, Liza menyarankan investor untuk mengelola dana THR secara lebih bijaksana. Menurutnya, langkah yang tepat adalah dengan memperbesar porsi kas terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menambah investasi.
Investor masih memiliki peluang untuk masuk ke pasar saham, namun sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dengan sangat selektif. Strategi ini penting untuk mengantisipasi potensi volatilitas, terutama jika harga energi global meningkat dan memicu tekanan inflasi.
Selain saham, investor juga dapat mempertimbangkan instrumen yang lebih defensif seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pendapatan tetap guna menjaga stabilitas portofolio. Yang terpenting, dana THR sebaiknya tidak langsung diinvestasikan seluruhnya. Prioritaskan terlebih dahulu pemenuhan kebutuhan Lebaran agar perayaan Idulfitri tetap berjalan lancar.
Ringkasan
Pencairan THR Lebaran 2026 diperkirakan akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya akibat ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik. Meskipun THR secara tradisional digunakan untuk konsumsi dan investasi, tahun ini investor cenderung lebih berhati-hati dan memilih untuk menahan diri dalam berinvestasi di pasar saham. Hal ini dikarenakan kinerja IHSG yang menurun dan adanya aksi jual bersih dari investor asing.
Sebagai alternatif, investor berpotensi mengalihkan dana THR ke instrumen investasi yang lebih aman seperti obligasi, khususnya sukuk ritel seri SR024 yang dianggap menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Para ahli menyarankan investor untuk mengelola dana THR secara bijaksana, dengan memperbesar porsi kas terlebih dahulu dan berinvestasi secara bertahap dan selektif, serta memprioritaskan pemenuhan kebutuhan Lebaran.