KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif dengan kenaikan tipis 0,27%, menutup perdagangan Senin (26/1/2026) di level 8.975,33. Sentimen wait and see dari para pelaku pasar masih mendominasi, mewarnai pergerakan indeks.
Kondisi global masih diwarnai ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan suku bunga The Fed. Selain itu, dinamika geopolitik yang terus berkembang membuat para investor cenderung berhati-hati dan menahan diri untuk mengambil risiko lebih besar pada aset-aset berisiko.
Di sisi domestik, pergerakan nilai tukar rupiah dan kebijakan moneter menjadi fokus utama yang memengaruhi arah pasar saham. Kedua faktor ini menjadi variabel penting yang diperhatikan oleh para investor.
Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI: Sinyal Positif untuk IHSG?
Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, melihat bahwa IHSG saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami reli yang cukup panjang. Kondisi ini wajar setelah kenaikan yang signifikan.
“Secara teknikal, level support penting bagi IHSG berada di kisaran 8.900. Selama level ini berhasil dipertahankan, peluang untuk penguatan lebih lanjut masih terbuka lebar,” ungkap Hendra kepada Kontan, Senin (26/1/2026). Dengan kata lain, kemampuan IHSG untuk bertahan di atas level tersebut akan menjadi kunci kelanjutan tren positif.
Namun, Hendra juga mengingatkan bahwa area 9.067 menjadi level resistance terdekat yang harus ditembus oleh IHSG. Level ini menjadi tantangan utama dalam jangka pendek. Jika level tersebut belum mampu diatasi, IHSG berpotensi bergerak terbatas atau sideways, dengan tingkat volatilitas yang tetap tinggi. Investor perlu mewaspadai fluktuasi harga yang mungkin terjadi.
Untuk perdagangan hari Selasa (27/1/2026), IHSG diperkirakan akan bergerak dalam rentang antara 8.900 hingga 9.067. Analis memperkirakan pergerakan indeks akan berada di antara kedua level tersebut.
Dari sisi sentimen kebijakan, terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar. Keputusan ini diyakini akan memberikan pengaruh terhadap sentimen pasar.
Pengumuman MSCI: Potensi Arus Dana Asing Keluar dan Respons BEI
Hendra menilai bahwa sentimen dari pengangkatan Thomas Djiwandono cenderung netral hingga positif dalam jangka pendek. Hal ini seiring dengan proses uji kelayakan yang dinilai berjalan sesuai dengan mekanisme institusional yang berlaku. Proses yang transparan dan sesuai prosedur memberikan keyakinan kepada pasar.
“Pasar melihat adanya kesinambungan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang sangat dibutuhkan di tengah tantangan ekonomi global saat ini,” jelasnya. Koordinasi yang baik antara kebijakan fiskal dan moneter dianggap penting untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Meskipun demikian, para investor tetap mencermati komitmen Bank Indonesia dalam menjaga independensi kebijakan moneter, terutama dalam pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Independensi BI menjadi perhatian utama untuk memastikan kredibilitas kebijakan.
Kekhawatiran mengenai independensi BI sempat tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah ketika isu pencalonan Deputi Gubernur BI mencuat. Rupiah sempat mendekati level Rp16.900 per dolar AS, menunjukkan kekhawatiran pasar.
IHSG Naik Tipis 0,24% ke 8.972 di Sesi I, Top Gainers LQ45: ANTM, AMMN & DSSA, Senin (26/1)
Namun, penguatan nilai tukar rupiah kembali ke level Rp16.782 per dolar AS menunjukkan bahwa respons pasar mulai mereda. Hal ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran awal mulai berkurang.
“Pasar mulai menilai bahwa risiko kebijakan masih dapat dikelola dengan baik dan Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi,” tambah Hendra. Pernyataan ini memberikan keyakinan bahwa BI akan terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi.
Ke depannya, stabilitas nilai tukar rupiah akan menjadi faktor kunci yang memengaruhi pergerakan IHSG, terutama untuk meredam potensi tekanan jual dari investor asing. Rupiah yang stabil akan memberikan sentimen positif bagi pasar.
Selama nilai tukar rupiah bergerak stabil dan komunikasi kebijakan Bank Indonesia tetap kredibel, ruang penguatan bagi IHSG masih terbuka lebar. Namun, persepsi negatif terkait independensi moneter berpotensi kembali memicu volatilitas pasar. Oleh karena itu, kredibilitas dan komunikasi kebijakan BI menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar.
Ringkasan
IHSG menunjukkan tren positif dengan kenaikan tipis, namun didominasi sentimen wait and see. Ketidakpastian global, terutama terkait kebijakan suku bunga The Fed dan dinamika geopolitik, membuat investor berhati-hati. Di sisi domestik, pergerakan nilai tukar rupiah dan kebijakan moneter menjadi fokus utama yang memengaruhi pasar saham.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI dinilai netral hingga positif, karena koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang baik diyakini akan terjaga. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor kunci bagi IHSG untuk meredam tekanan jual asing. Kredibilitas dan komunikasi kebijakan Bank Indonesia sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar.