Sunyoto MPX: Strategi Jitu Cari Peluang di Pasar Saham

Shoesmart.co.id JAKARTA. Setiap perjalanan investasi adalah kisah unik, dipengaruhi oleh kesempatan yang hadir dalam kehidupan masing-masing individu.

Bagi Sunyoto Bambang Kusumo, Direktur PT MPX Logistics International Tbk (MPXL), kesempatan belajar investasi telah membekalinya dengan kemampuan untuk tetap jeli melihat peluang, bahkan di tengah gejolak pasar saham domestik yang dinamis.

Sunyoto mulai mengenal literasi keuangan dan investasi sejak menempuh pendidikan manajemen di Universitas Surabaya. Namun, ketertarikannya pada pasar saham benar-benar terpantik saat mengikuti program Astra Shares Ownership, di mana karyawan berkesempatan memiliki saham perusahaan. Dari sinilah, ia mulai bertanya-tanya tentang seluk-beluk saham dan potensi keuntungan yang bisa diraih.

Sekitar tahun 1997, ia mulai mempelajari sistem lot saham, mekanisme penjualan, dan strategi akumulasi saham.

BEI Masukkan Saham Transcoal Pacific (TCPI) ke Kategori Saham Terkonsentrasi Tinggi

“Yang menarik, saya menyadari adanya pasar yang mempertemukan pembeli dan penjual, sehingga saham bisa langsung dikonversi menjadi rupiah sesuai harga pasar. Inilah yang membuat saya tertarik pada pasar saham,” ungkapnya.

Sunyoto mulai aktif berinvestasi di pasar saham Indonesia pada tahun 2004 dan sempat merasakan euforia karena seringkali meraih keuntungan. Namun, krisis finansial tahun 2008 menjadi pukulan telak, menyebabkan nilai portofolionya merosot tajam dari 100% menjadi hanya 5%.

“Saat itu, sumber belajar belum sebanyak sekarang. Informasi terbatas pada koran, sehingga pengalaman tersebut sangat membekas,” kenangnya.

Pengalaman pahit tersebut mendorongnya untuk menggali lebih dalam tentang mekanisme pasar saham. Pada tahun 2012, Sunyoto memutuskan untuk belajar secara lebih intensif melalui membership, pelatihan, dan mentoring di Singapura.

Investasi pada pendidikan akhirnya membuahkan hasil. Setelahnya, dalam setahun, Sunyoto mampu meraih imbal hasil sekitar 20%–30%, yang masih di atas tingkat inflasi saat itu. Kemudian, ia beralih ke trading system di Indonesia, yang membantunya dalam mengidentifikasi saham-saham berpotensi return tinggi melalui analisis dan backtesting.

Pada tahun 2021, Sunyoto melebarkan sayapnya ke pasar saham Amerika Serikat (AS). Setahun kemudian, ia mulai mempelajari aset derivatif lainnya, seperti forex, komoditas berjangka, dan kripto.

“Saya pernah berkecimpung di komoditas berjangka seperti minyak, emas, daging, dan kopi,” tambahnya.

Alumnus Universitas Surabaya angkatan 1996 ini mengaku bahwa dulu ia meluangkan waktu untuk menghitung dan menganalisis secara manual sekitar 150 saham seorang diri. Sepulang kerja, ia melakukan technical analysis hingga larut malam. Namun, trading system yang digunakannya saat ini sangat membantu dalam menganalisis data dengan bantuan artificial intelligence (AI).

Kini, Sunyoto hanya perlu meluangkan sedikit waktu di pagi hari untuk membuka aplikasi dan memilih tiga hingga lima saham kandidat yang akan dibelinya menjelang penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), sekitar pukul 15.30 – 16.00 WIB.

“Sedangkan untuk pasar saham AS, saya menyesuaikan waktu di malam hari, biasanya antara jam 00:30 WIB sampai menjelang penutupan NYSE,” jelasnya.

Sunyoto tak bisa melupakan pengalaman kehilangan 95% portofolionya pada tahun 2008. Meskipun bukan kerugian terbesar dari segi nilai, pengalaman itu sangat membekas karena ia tidak memahami penyebab kerugiannya saat itu.

Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

Selain kerugian di tahun 2008, ia juga pernah merugi hingga US$ 25.000 saat belajar investasi di pasar saham AS. Di hari ketiga, kerugiannya bahkan menembus US$ 45.000.

“Namun, pengalaman itu tidak terlalu membekas. Saya kalah, tapi saya tahu alasannya. Sementara, di tahun 2008 saya tidak paham dan rasanya seperti dirampok,” kenangnya.

Saat ini, komposisi portofolio aset Sunyoto 100% terdiri dari saham Indonesia dan AS.

Di pasar saham Indonesia, ia memilih PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai saham investasi yang secara rutin ditambahkan setiap bulan. Strategi investasi serupa juga diterapkan pada NVIDIA dan S&P 500 di pasar saham AS. Sisanya, ia alokasikan untuk trading dengan bantuan sistem Quant Trading yang telah dijelaskannya.

Tahun ini, Sunyoto memilih untuk tidak berinvestasi di kripto dan tidak melakukan trading forex karena kesibukannya. Saat ini, sebagian besar dananya lebih difokuskan ke pasar AS.

“Di bulan Mei ini, saya menarik dana dari Indonesia, kecuali posisi investasi jangka panjang, seperti di BRI dan BCA. Secara keseluruhan, portofolio trading saya menunjukkan return sekitar 126% dari modal dasar tahun ini, meskipun di tengah kondisi perang,” ungkapnya.

Pria asal Pasuruan, Jawa Timur, ini mengaku bahwa tujuan awalnya mengenal trading dan investasi adalah untuk mempersiapkan pensiun dan meraih kebebasan finansial.

Di usia sekitar 42–45 tahun, ia dihadapkan pada pilihan antara membuka usaha atau berinvestasi di instrumen finansial. Akhirnya, ia memilih aset finansial agar dapat mengelola “bisnis” dari mana saja dan menjadi lebih independen.

Sunyoto menekankan pentingnya bagi seorang investor untuk membedakan antara investasi dan trading. Menurutnya, investasi harus memiliki underlying asset yang jelas, sedangkan sesuatu tanpa underlying bukanlah investasi.

“Saya tidak anti-kripto sebagai trader, tetapi kripto bukan untuk investasi jangka panjang karena tidak memiliki underlying asset. Investasi harus didasari sesuatu yang pasti, seperti kinerja perusahaan yang nyata, dengan pertumbuhan laba, operasi efisien, dan lainnya,” tegasnya.

Ia mengajak investor lainnya untuk mencari fakta dan melakukan riset mendalam, bukan sekadar mengikuti opini atau hype di media sosial. Selain itu, jika ada investor yang tertarik menggunakan sistem trading, pastikan sistem tersebut telah diuji melalui backtesting.

“Kenali investasi Anda dan pahami bagaimana uang Anda bekerja, bukan sekadar percaya pada klaim tanpa bukti,” pungkasnya.

Ringkasan

Sunyoto Bambang Kusumo, Direktur PT MPX Logistics International Tbk (MPXL), memulai ketertarikannya pada pasar saham melalui program kepemilikan saham di tempat kerja. Pengalaman pahit saat krisis finansial 2008, yang menyebabkan penurunan drastis portofolionya, mendorongnya untuk belajar lebih mendalam tentang mekanisme pasar saham, termasuk melalui pelatihan intensif di Singapura. Kini, dengan bantuan trading system berbasis AI, ia lebih efisien dalam menganalisis saham dan mengidentifikasi peluang.

Saat ini, portofolio aset Sunyoto terdiri dari saham Indonesia dan AS, dengan fokus pada investasi jangka panjang di saham seperti BBRI dan BBCA, serta NVIDIA dan S&P 500. Ia menekankan pentingnya riset mendalam dan pemahaman terhadap investasi, serta membedakan antara investasi dan trading, dengan menekankan bahwa investasi harus memiliki underlying asset yang jelas. Tujuan utamanya berinvestasi adalah untuk mempersiapkan pensiun dan mencapai kebebasan finansial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *