
Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Indonesia) mengambil langkah strategis dengan memilih untuk tidak menambah porsi investasi saham dalam portofolio mereka. Keputusan ini diambil meskipun pasar saham mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan perusahaan lebih memprioritaskan penempatan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) serta obligasi.
Albertus Wiroyo, President Director Sun Life Indonesia, menegaskan bahwa strategi investasi ini bukan didasari oleh kekhawatiran terhadap gejolak pasar modal semata. Sebaliknya, ia merupakan bagian integral dari kerangka pengelolaan risiko dan prinsip asset-liability management (ALM), yakni kesesuaian antara aset dan kewajiban perusahaan.
Sebagai entitas asuransi jiwa yang masih didominasi oleh produk tradisional, Sun Life Indonesia memiliki struktur liabilitas yang bersifat jangka panjang dan relatif stabil. “Oleh karena itu, kelas aset yang paling sesuai untuk menopang struktur liabilitas kami adalah instrumen pendapatan tetap (fixed income), khususnya SBN dan obligasi berkualitas tinggi,” jelas Albertus dalam keterangannya kepada Kontan pada Jumat, 9 Januari 2025.
Sepanjang 2025, OJK Tindak Tegas 144 Perusahaan Jasa Keuangan dan Beri 175 Peringatan
Albertus melanjutkan, fokus utama dalam manajemen risiko perseroan terletak pada mitigasi risiko suku bunga serta pengelolaan kesenjangan durasi antara aset dan liabilitas. Hal ini berbeda dengan hanya berfokus pada volatilitas harga saham. Meski demikian, alokasi pada instrumen saham tetap dipertahankan, namun dilakukan secara sangat selektif demi menjaga keselarasan dengan kewajiban jangka panjang perusahaan.
Memasuki tahun ini, Sun Life Indonesia berkomitmen untuk mempertahankan pendekatan investasi yang prudent atau berhati-hati. Kendati demikian, perusahaan tetap membuka diri terhadap peluang dalam instrumen saham, terutama seiring dengan pengembangan portofolio produk mereka, baik yang bersifat tradisional maupun berbasis unit link.
“Untuk produk unit link, eksposur terhadap saham tetap relevan dan disesuaikan dengan profil risiko (risk appetite) masing-masing pemegang polis. Namun, dari sudut pandang korporasi, kami tetap sangat berhati-hati dalam menentukan waktu masuk pasar (market timing),” ujar Albertus.
Albertus menilai, valuasi pasar saham saat ini tidak lagi dapat dikategorikan sebagai murah. Oleh karena itu, pendekatan yang diterapkan lebih bersifat bertahap dan selektif. Dengan demikian, saham tetap merupakan bagian dari portofolio investasi perusahaan, namun pengelolaannya dilakukan secara disiplin dalam kerangka manajemen risiko dan valuasi yang ketat.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Oktober 2025 mengkonfirmasi tren ini. Investasi industri asuransi jiwa secara keseluruhan masih didominasi oleh SBN, yang mencapai Rp 231,86 triliun. Angka ini jauh melampaui penempatan pada instrumen saham yang berada di kisaran Rp 121,27 triliun.
Mengenai target hasil investasi, Albertus menyebutkan bahwa Sun Life Indonesia menetapkannya secara realistis, dengan mempertimbangkan struktur aset yang ada dan dinamika kondisi pasar. Fokus utama perusahaan adalah memastikan kesinambungan dan stabilitas hasil investasi jangka panjang yang selaras dengan komitmen serta kewajiban kepada para pemegang polis.
OJK: Penyusunan Roadmap Bullion Masih Tahap Finalisasi
“Kontribusi paling signifikan tetap berasal dari instrumen pendapatan tetap (fixed income), didukung oleh aset lain seperti saham dan berbagai instrumen pasar modal, yang disesuaikan dengan mandat masing-masing produk,” pungkasnya.
Ringkasan
Sun Life Indonesia mengambil langkah strategis dengan memprioritaskan investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi, serta memilih untuk tidak menambah porsi saham, meskipun pasar menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Keputusan ini didasari oleh kerangka pengelolaan risiko dan prinsip *asset-liability management* (ALM) perusahaan. Sebagai entitas asuransi jiwa dengan liabilitas jangka panjang, instrumen pendapatan tetap dianggap paling sesuai untuk menopang struktur kewajiban mereka.
Fokus manajemen risiko Sun Life adalah mitigasi risiko suku bunga dan pengelolaan kesenjangan durasi aset-liabilitas. Meskipun demikian, alokasi pada instrumen saham tetap dipertahankan secara sangat selektif dan bertahap, mengingat valuasi pasar saham yang dinilai tidak lagi murah. Data OJK juga mengkonfirmasi bahwa investasi industri asuransi jiwa secara keseluruhan masih didominasi oleh SBN, mendukung pendekatan Sun Life untuk memastikan hasil investasi jangka panjang yang stabil.