Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pergerakan mata uang utama dunia saat ini menunjukkan dinamika yang bervariasi, di tengah momentum pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Divergensi ini mencerminkan bagaimana pasar merespons berbagai faktor domestik yang unik di masing-masing negara, meski secara umum greenback sedang tertekan.
Mengutip data Trading Economics pada Senin (9/2) pukul 15.10 WIB, pasangan mata uang EUR/USD berada di level 1,18, mencatat kenaikan sebesar 15% secara tahunan (YoY). Sementara itu, GBP/USD diperdagangkan di level 1,36, naik 9,9% YoY.
Untuk mata uang lainnya, AUD/USD tercatat menguat 12% YoY ke level 0,70. Di sisi lain, USD/JPY berada di level 156,6, naik 3,0% YoY. Yang menarik, USD/CHF justru terkoreksi signifikan sebesar 14% YoY, berada di level 0,77.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama, berada di level 97,3, atau melemah 20% secara tahunan.
Brahmantya Himawan, Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, berpendapat bahwa pergerakan dolar AS ini tidak berdampak seragam pada seluruh mata uang utama. Setiap mata uang memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap sentimen pasar global.
Lebih lanjut, Brahmantya memproyeksikan bahwa prospek mata uang utama di sepanjang tahun 2026 akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global, kondisi pertumbuhan ekonomi, serta perkembangan geopolitik yang terjadi. Faktor-faktor inilah yang akan menjadi penentu utama sentimen pasar.
Secara spesifik, untuk pasangan EUR/USD, Brahmantya melihat adanya potensi pergerakan stabil hingga cenderung bullish. Hal ini dapat terjadi jika selisih ekspektasi suku bunga antara Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menyempit, sehingga membuat euro lebih menarik.
Sementara itu, AUD/USD berpotensi mendapatkan dorongan positif dari stabilisasi ekonomi China, pergerakan harga komoditas seperti emas dan perak, serta kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) yang cenderung lebih ketat dibandingkan bank sentral lainnya.
Di sisi lain, USD/JPY dinilai tetap menarik karena masih lebarnya perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang. Meskipun demikian, Brahmantya mengingatkan bahwa potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menstabilkan yen dapat meningkatkan volatilitas pasangan mata uang ini.
“Dari sisi peluang, USD/JPY dan AUD/USD menjadi pasangan yang relatif menarik karena sensitif terhadap tema makro global yang saat ini dominan, yakni diferensial suku bunga dan siklus komoditas,” ungkap Brahmantya kepada Kontan, Senin (9/2/2026).
Menghadapi ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, Brahmantya menekankan pentingnya penerapan strategi investasi yang fleksibel, dengan manajemen risiko yang baik, serta diversifikasi portofolio. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir potensi kerugian akibat gejolak pasar.
Investor disarankan untuk mencermati dengan seksama arah kebijakan bank sentral utama, terutama The Fed, serta data inflasi dan tenaga kerja AS. Selain itu, perkembangan konflik geopolitik yang dapat memengaruhi permintaan aset safe haven juga perlu diperhatikan.
Pergerakan harga komoditas utama seperti minyak dan logam industri juga menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi.
Sebagai saran, investor sebaiknya menggunakan ukuran posisi yang lebih konservatif dan menghindari eksposur berlebihan pada satu pasangan mata uang tertentu selama volatilitas global masih tinggi. Dengan demikian, risiko investasi dapat dikelola dengan lebih baik.
Ringkasan
Pasar valas menunjukkan dinamika bervariasi dengan dolar AS yang melemah, mempengaruhi mata uang utama dunia secara berbeda. Data menunjukkan EUR/USD dan AUD/USD mengalami kenaikan YoY, sementara USD/CHF justru terkoreksi. Analis Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menekankan sensitivitas setiap mata uang terhadap sentimen pasar global.
Prospek mata uang utama di 2026 dipengaruhi kebijakan suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan geopolitik. EUR/USD berpotensi stabil jika selisih suku bunga The Fed dan ECB menyempit. AUD/USD didorong stabilisasi ekonomi China dan kebijakan RBA. USD/JPY tetap menarik karena perbedaan suku bunga, namun intervensi pemerintah Jepang dapat meningkatkan volatilitas. Investor disarankan menerapkan strategi fleksibel dengan manajemen risiko dan diversifikasi.