Strategi Investasi Aman Pensiun Ala Bos PGEO: Bukan Cuan Cepat!

JAKARTA – Ahmad Yani, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), memandang investasi bukan sekadar ajang mencari keuntungan instan. Baginya, investasi adalah strategi krusial untuk menjaga stabilitas finansial jangka panjang, terutama sebagai persiapan masa pensiun.

Perjalanan investasinya dimulai dari pengalaman tak terduga saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Islam Riau pada tahun 1998. Saat itu, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan pialang, bertugas menawarkan saham dan forex melalui telepon. Pengalaman ini memberinya pelajaran berharga tentang dinamika pasar secara langsung.

Dari pekerjaannya itu, Ahmad Yani memahami bagaimana sentimen pasar dapat memengaruhi keputusan jual beli para investor. “Saya belajar membaca sentimen pasar,” ungkapnya.

Pengalaman singkat selama satu tahun tersebut menjadi fondasi penting dalam memahami dasar-dasar *trading* dan pengelolaan portofolio investasi.

Setelah lulus kuliah pada tahun 2003 dan bergabung dengan PT Pertamina (Persero), Ahmad Yani mulai mengubah pendekatannya terhadap investasi menjadi lebih konservatif. Karena keterbatasan waktu untuk memantau pasar saham secara intensif, ia memilih fokus pada aset fisik, terutama properti. “Kalau ingin main saham tetap harus fokus,” jelasnya.

Pilihan ini terus ia pertahankan hingga saat ini. Sekitar 60% portofolionya ditempatkan di properti, seperti rumah dan bisnis kos. Sementara itu, 40% sisanya dialokasikan ke aset keuangan seperti kas, asuransi, dan instrumen pasar modal. Ia juga secara rutin membeli emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi.

Meskipun kini cenderung konservatif, Ahmad Yani sempat kembali aktif di pasar saham sekitar lima tahun lalu. Saat itu, ia ikut menginisiasi komunitas belajar investasi di Lahendong. Melalui komunitas ini, ia mendorong pemahaman investasi yang tidak hanya didasarkan pada grafik, tetapi juga fundamental perusahaan.

Namun, keterlibatannya itu juga membuatnya merasakan langsung risiko pasar. Ia mengaku pernah mengalami kerugian saat *trading*, yang kemudian memperkuat keputusannya untuk kembali ke instrumen investasi yang lebih stabil. “Pernah *loss*, dan itu butuh fokus penuh,” ujarnya.

Dalam mengelola keuangan, Ahmad Yani menekankan pentingnya disiplin. Sejak awal bekerja, ia hanya mengalokasikan sekitar 30% dari pendapatannya untuk cicilan aset properti. Rumah pertamanya dibeli pada tahun 2006, sementara bisnis kos mulai dikembangkan dalam lima tahun terakhir dari sisa pendapatan.

Ahmad Yani menyadari bahwa properti memiliki keterbatasan likuiditas. Karena itu, diversifikasi ke instrumen yang lebih likuid seperti deposito, reksadana, dan saham tetap diperlukan.

Ke depannya, ia membuka peluang untuk meningkatkan porsi investasi di pasar saham, terutama setelah memasuki masa pensiun ketika memiliki lebih banyak waktu untuk mengelola portofolio. “Kalau waktunya sudah cukup, baru saya kembangkan ke aset lain,” katanya.

Secara keseluruhan, portofolio investasinya saat ini mampu memberikan imbal hasil sekitar 10%. Bagi Ahmad Yani, angka tersebut sudah memadai selama konsisten dan dapat diakumulasi sebagai bekal di hari tua. “Harapannya, saat pensiun dana sudah cukup untuk hidup,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan para investor agar tidak menempatkan seluruh dana pada instrumen investasi yang agresif. Dari total dana yang dimiliki, hanya sebagian kecil yang sebaiknya dialokasikan untuk *trading*, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko yang terukur.

Ringkasan

Ahmad Yani, Direktur Utama PGEO, menekankan bahwa investasi adalah strategi jangka panjang untuk mencapai stabilitas finansial, terutama untuk persiapan pensiun. Pengalamannya di pasar modal saat kuliah memberinya pemahaman tentang dinamika pasar, namun ia kini memilih pendekatan investasi yang lebih konservatif.

Saat ini, mayoritas portofolionya dialokasikan ke properti (60%), sisanya di aset keuangan seperti kas, asuransi, dan pasar modal. Ia juga pernah mengalami kerugian saat trading saham, yang memperkuat keputusannya untuk fokus pada investasi yang lebih stabil. Disiplin keuangan, diversifikasi, dan manajemen risiko yang terukur menjadi kunci dalam strategi investasinya, dengan harapan portofolio saat ini dapat menjadi bekal di hari tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *