
Shoesmart.co.id , JAKARTA — Para emiten properti terkemuka, termasuk PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA), tengah gencar menyusun strategi jitu untuk menggenjot kinerja pada tahun 2026. Upaya ini dilakukan di tengah tantangan daya beli masyarakat yang masih lesu, namun dengan harapan baru dari stabilitas suku bunga acuan serta keberlanjutan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang dinilai sebagai angin segar bagi sektor properti yang masih dalam fase konsolidasi.
BSDE memandang prospek pertumbuhan penjualan di tahun 2026 sebagai peluang yang menjanjikan. Optimisme ini ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan pada level stabil, serta dukungan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan yang dianggap efektif dalam menjaga daya beli konsumen. Faktor-faktor ini krusial bagi keberlangsungan bisnis properti yang sangat bergantung pada pembiayaan KPR.
Direktur BSDE, Hermawan Wijaya, menegaskan bahwa sebagai perusahaan yang sebagian besar pembiayaannya berasal dari KPR, tingkat suku bunga memegang peranan vital dalam mendorong minat beli. “Dengan BI menahan suku bunga di level sekarang, peluang penjualan unit masih terbuka lebar. Ditambah lagi, banyak program bank yang menawarkan bunga KPR menarik, baik fix satu tahun, tiga tahun, hingga lima tahun,” ungkapnya pada Kamis (22/1/2026).
: Terjun ke Bisnis Properti, Intip Manuver Rahayu Saraswati Lewat Triniti Properti (TRIN)
Hermawan menambahkan bahwa stabilitas suku bunga, dikombinasikan dengan perpanjangan insentif PPN DTP hingga akhir tahun ini, menjadi dorongan tambahan yang signifikan bagi permintaan properti. Pihaknya berharap pemerintah dapat melihat dampak positif dari PPN DTP ini yang mendukung bisnis, sehingga kebijakan tersebut dapat dilanjutkan di tahun-tahun mendatang.
: : Emiten Properti Optimalkan Insentif PPN DTP Hadapi Pelemahan Rupiah
Hingga saat ini, manajemen BSDE tetap optimistis target marketing sales tahun 2025 senilai Rp10 triliun dapat tercapai. Dengan realisasi marketing sales yang telah mencapai sekitar 72% hingga September 2025, perusahaan yakin dapat mendekati atau bahkan melebihi 90% dari target. “Kalau melihat marketing sales sampai September 2025 yang sudah mencapai sekitar 72% kemungkinan besar target Rp10 triliun masih bisa tercapai. Kalaupun tidak 100% masih mendekati dan tetap di atas 90%,” ujarnya.
: : BSDE Optimalkan Insentif PPN DTP untuk Genjot Penjualan Properti 2026
Selain memanfaatkan momentum suku bunga, BSDE juga giat memaksimalkan insentif PPN DTP. Perseroan memiliki sekitar 1.400 unit properti siap huni (ready stock), di mana 80%—90% di antaranya memenuhi kriteria PPN DTP karena harga jualnya berada di bawah Rp5 miliar. Hermawan menjelaskan, “PPN DTP ini kan yang berhak adalah harga sampai Rp5 miliar gitu ya, meskipun yang diambil adalah yang Rp2 miliar-nya saja yang pajaknya 100% di-cover oleh pemerintah. Kalau dilihat dari total stok tadi, mungkin sebagian besar masuk ke dalam range tersebut.”
Sementara itu, Direktur MTLA, Olivia Surodjo, turut menyampaikan pandangannya bahwa stabilitas suku bunga memiliki peran penting dalam menjaga minat beli masyarakat, khususnya pada segmen hunian yang mengandalkan pembiayaan KPR. Dengan suku bunga acuan BI yang tetap stabil, bunga KPR masih dianggap menarik bagi konsumen. Menurutnya, kondisi ini esensial dalam mendukung pemulihan daya beli dan kepercayaan konsumen yang masih berlangsung. “Meski dampaknya tidak bersifat langsung, kebijakan suku bunga yang stabil dinilai cukup mendukung kinerja penjualan perseroan sepanjang tahun ini,” ungkap Olivia pada Kamis (22/1/2026).
Olivia menambahkan bahwa suku bunga yang stabil juga dipercaya dapat mempercepat proses pengambilan keputusan pembelian, terutama di segmen residensial. Ditambah lagi dengan adanya insentif PPN DTP, peluang terjadinya transaksi di pasar properti dinilai semakin terbuka lebar. Kendati demikian, MTLA tetap menerapkan strategi penjualan yang selektif dengan fokus pada produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, khususnya menyasar segmen first home buyer yang masih menunjukkan potensi permintaan yang besar.
Senada dengan pengembang lainnya, PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP) juga memanfaatkan insentif PPN DTP untuk menopang kinerja penjualan. Proyek hunian vertikal Antasari Place diandalkan sebagai motor pertumbuhan utama perseroan tahun ini. Presiden Direktur INPP, Anthony Prabowo Susilo, mengungkapkan bahwa PPN DTP terbukti berhasil mendorong penjualan unit di proyek Antasari Place dan 31 Sudirman Suites, dengan sekitar 10%—20% pembeli memanfaatkan fasilitas tersebut. Perpanjangan PPN DTP hingga 31 Desember 2027 memberikan visibilitas yang lebih panjang terhadap penyerapan penjualan residensial. “Proses handover Antasari Place yang masih berlanjut diproyeksikan tetap menjadi kontributor dominan terhadap marketing sales perseroan pada tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Senin (19/1/2025).
Ke depan, INPP akan mengandalkan kombinasi proyek eksisting dan pengembangan baru, sembari memperkuat pendapatan berulang dari segmen komersial dan hospitality. Langkah ini diharapkan menjadi penopang kinerja di tengah pemulihan sektor properti yang berlangsung secara bertahap.
Bumi Serpong Damai Tbk. – TradingView
Prospek Sektor Properti 2026
Secara umum, sektor properti diperkirakan akan bergerak relatif stabil pada tahun 2026. Kondisi pasar yang masih berada dalam koridor ekspektasi para pelaku usaha dan investor menjadi dasar proyeksi ini. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza, berpendapat bahwa keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan di level 4,75% berdampak netral bagi sektor properti. Di satu sisi, cicilan KPR tidak mengalami tekanan tambahan, namun di sisi lain, tingkat bunga tersebut belum cukup rendah untuk memicu lonjakan permintaan yang signifikan. “Stabilitas suku bunga membantu menjaga sentimen, namun tidak cukup kuat memicu rebound penjualan,” ujarnya pada Kamis (22/1/2026).
Liza memperkirakan peluang penurunan suku bunga masih terbuka, namun lebih realistis untuk terjadi pada paruh kedua tahun 2026. Dengan demikian, awal tahun 2026 diperkirakan masih akan menjadi fase stabilisasi, bukan periode akselerasi. Meskipun demikian, sejumlah sentimen positif mulai terbentuk, meliputi keberlanjutan insentif PPN DTP, permintaan hunian untuk kebutuhan dasar, tren urbanisasi yang terus meningkat, hingga potensi dimulainya program pembangunan 3 juta rumah oleh pemerintah. Selain itu, kontribusi pendapatan berulang dari aset sewaan seperti pusat perbelanjaan, apartemen, hingga properti logistik diperkirakan akan semakin signifikan dan menjadi penopang baru di tengah melambatnya penjualan unit.
Di sisi lain, tantangan tetap membayangi sektor properti. BI Rate yang belum turun, daya beli masyarakat yang masih rapuh, serta adanya overhang stock dari penjualan sebelumnya berpotensi menekan kinerja di tahun 2026 akibat efek keterlambatan pengakuan pendapatan. “Ke depan, kinerja emiten properti akan semakin kurang bergantung pada penjualan unit dan lebih ditopang kestabilan arus kas dari aset sewaan,” terangnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Gani. Menurutnya, dalam waktu dekat tidak akan terjadi pergerakan signifikan pada sektor properti. “Karena pergerakannya masih sesuai ekspektasi, kami memperkirakan tidak akan ada lonjakan atau koreksi yang terlalu besar,” katanya. Meskipun demikian, Gani melihat potensi katalis ke depan, mulai dari peningkatan likuiditas dan pertumbuhan uang beredar (M2) hingga peluang penurunan suku bunga KPR. Namun, pemulihan permintaan dinilai masih berlangsung bertahap dan membutuhkan sentimen tambahan yang kuat.
Metropolitan Land Tbk. – TradingView
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Emiten properti seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) menyusun strategi untuk menggenjot kinerja pada tahun 2026 di tengah tantangan daya beli masyarakat. Mereka optimistis terhadap penjualan didukung oleh stabilitas suku bunga acuan Bank Indonesia dan program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang menarik. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga menjadi dorongan signifikan, dengan BSDE yang memiliki banyak unit siap huni memenuhi kriteria tersebut. MTLA, seperti halnya BSDE, melihat suku bunga stabil esensial dalam mendukung pemulihan daya beli dan keputusan pembelian konsumen.
Secara umum, sektor properti diperkirakan akan bergerak relatif stabil pada tahun 2026, di mana keputusan BI menahan suku bunga acuan berdampak netral. Meskipun belum memicu lonjakan permintaan signifikan, stabilitas suku bunga dan keberlanjutan PPN DTP membentuk sentimen positif. Namun, tantangan seperti daya beli yang masih rapuh dan potensi penurunan suku bunga yang baru realistis di paruh kedua 2026 tetap membayangi. Ke depan, kinerja emiten properti diperkirakan akan semakin ditopang oleh kestabilan arus kas dari aset sewaan dibandingkan penjualan unit.