
Shoesmart.co.id, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan laju yang seakan tak terbendung pada kuartal terakhir tahun ini. Kinerja impresif ini, menurut para analis, tak lepas dari peran stimulus pemerintah yang disebut-sebut menjadi penopang utama, menjadikannya “anti badai” di tengah dinamika Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kiprah gemilang IHSG tercermin dari pencapaian rekor tertinggi atau all time high (ATH) selama dua hari berturut-turut pada pekan sebelumnya, kini bertengger kokoh di atas level 8.300. Pada perdagangan Senin (10/11/2025), IHSG memang sempat mencatatkan pelemahan tipis 0,04% ke 8.391,24. Namun demikian, sepanjang hari itu, IHSG dibuka pada 8.443,32 dan bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah secara intraday di level 8.478 pada sesi perdagangan pertama, menunjukkan kekuatan momentum yang signifikan.
: Saham Konglomerat Prajogo Pangestu & Hapsoro Dorong Laju IHSG Sesi I Hari Ini (10/11)
Pertanyaan besar pun muncul: bagaimana tren positif IHSG ini dapat terus berlanjut dan menghindari ancaman aksi profit taking yang kerap terjadi setelah para investor mendulang keuntungan substansial dari lonjakan harga portofolio saham mereka?
Angga Septianus, Community and Retail Equity Analyst Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa potensi aksi ambil untung atau profit taking akan semakin besar ketika indeks komposit menembus area ATH dan didukung oleh sentimen pemicu. Fokus utama, menurut Angga, tertuju pada data PDB kuartal keempat yang akan merefleksikan efektivitas dari berbagai stimulus yang telah digelontorkan pemerintah untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Optimisme Menteri Keuangan Purbaya terkait PDB kuartal keempat, didukung oleh ketersediaan likuiditas yang melimpah, menjadi sentimen positif yang patut diperhitungkan.
Mendukung pandangan tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa himpunan bank milik negara (Himbara) telah menyalurkan dana injeksi likuiditas dari pemerintah sebesar Rp167,6 triliun hingga 22 Oktober 2025. Angka ini mencapai 84% dari total dana penempatan pemerintah, menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 48% dibandingkan penyaluran per 9 Oktober 2025 yang baru mencapai Rp113 triliun atau 56%.
Dengan masifnya penyaluran tersebut, Kemenkeu menyatakan optimistis bahwa pertumbuhan kredit industri dapat mencapai 10% year on year (YoY) pada akhir 2025. Target ini jauh lebih tinggi dibandingkan level pertumbuhan 7,56% YoY sebelum adanya pengumuman injeksi likuiditas. Indikasi positif sudah terlihat sejak September 2025, di mana pertumbuhan uang beredar (M2) dan akselerasi tren pertumbuhan kredit industri telah mencapai 7,7% YoY.
Angga Septianus juga mengingatkan, apabila data makroekonomi pada kuartal IV/2025 tidak memenuhi ekspektasi, sejumlah sektor saham akan sangat rentan terhadap aksi profit taking. Terutama, sektor-sektor yang saham-saham konstituennya telah mencatatkan kenaikan harga yang sangat signifikan.
Kendati demikian, Angga menambahkan, kenaikan IHSG juga ditopang oleh faktor-faktor kuat lainnya, seperti berlanjutnya aksi beli asing dan sentimen positif dari masuknya beberapa saham ke dalam indeks MSCI. Hal ini memberikan fondasi yang lebih kokoh, memungkinkan laju kenaikan IHSG untuk lebih bertahan di tengah potensi gejolak.
: Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%, Purbaya Ingin Rasio Pajak 15% di 2029
Beralih ke data ekonomi, pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal III/2025 tercatat sebesar 5,04% YoY. Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan 4,95% YoY pada kuartal III/2024, namun menunjukkan sedikit perlambatan jika dibandingkan dengan 5,12% pada kuartal II/2025.
Melihat disparitas antara data PDB yang sedikit melambat dengan pencapaian IHSG yang menembus rekor tertinggi baru, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa berpendapat bahwa korelasi antara pasar saham dan perkembangan perekonomian riil tidak terlalu signifikan saat ini.
Sebagai contoh, Reydi menjelaskan, meskipun PDB menunjukkan perlambatan, tingginya partisipasi dari investor ritel dan institusi lokal telah berperan krusial dalam menjaga stabilitas IHSG belakangan ini.
Menurut Reydi, pergerakan pasar saham saat ini lebih dominan digerakkan oleh faktor likuiditas, arus dana, serta gejolak sentimen optimisme dan pesimisme yang beredar di pasar.
Namun, ia juga memberikan peringatan: jika daya beli masyarakat terus melemah dan mulai berdampak negatif pada kinerja keuangan emiten, yang kemudian tercermin dalam analisis fundamental, maka saham-saham akan kehilangan daya tarik bagi investor. Skenario ini berpotensi memicu IHSG untuk memulai fase koreksi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Shoesmart.co.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil.
Ringkasan
IHSG mencatatkan kinerja impresif hingga mencapai rekor tertinggi, didorong oleh stimulus pemerintah dan optimisme terhadap data PDB kuartal keempat. Kemenkeu melaporkan penyaluran dana injeksi likuiditas yang signifikan melalui Himbara, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit industri. Namun, potensi profit taking tetap ada jika data makroekonomi tidak sesuai ekspektasi atau jika daya beli masyarakat melemah.
Meskipun data PDB sedikit melambat, partisipasi investor ritel dan institusi lokal menjadi faktor penopang IHSG. Pergerakan pasar saham saat ini lebih dipengaruhi oleh likuiditas dan sentimen. Namun, pelemahan daya beli yang berdampak negatif pada kinerja emiten dapat memicu koreksi IHSG.