Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), emiten yang bergerak di bidang jasa logistik dan pelayaran, tengah berupaya keras mendongkrak kinerja perusahaan hingga tahun 2026. Sejak awal berdiri, SMDR telah dikenal luas dalam menyediakan layanan pengiriman barang ke berbagai destinasi, baik di dalam maupun luar negeri. Ragam layanan yang ditawarkan mencakup Container Shipping, Bulk & Tanker Shipping, Shipping Agencies, Ship Management, Crewing & Manning, hingga layanan Shipyard.
Direktur Utama Samudera Indonesia Tbk (SMDR), Bani M. Mulia, mengungkapkan bahwa prospek bisnis pelayaran di tahun 2026 masih sangat menjanjikan. Menurutnya, kondisi global saat ini justru membawa berkah tersembunyi (blessing in disguise), meskipun tensi perdagangan dan sentimen geopolitik cukup tinggi. Sebagai contoh, Pelabuhan Singapura, salah satu hub terbesar di Asia Tenggara, berhasil mencatatkan rekor volume muatan yang fantastis, yaitu lebih dari 40 juta TEUs (Twenty Foot Equivalent Unit) sepanjang tahun 2025.
Lebih lanjut, Bani menyoroti adanya perubahan signifikan dalam arus perdagangan antara dua kekuatan ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China. Pasca-penerapan kebijakan tarif baru, volume ekspor China ke AS mengalami penurunan. Namun, secara keseluruhan, total ekspor China ke pasar global justru menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.
Investor Ritel Kini Ramai Beli SUN FR di Pasar Sekunder, Ini Alasannya!
“Sebetulnya, secara relatif, bagi para pelaku bisnis shipping, selama mereka dapat beroperasi dengan aman, potensi pendapatan (revenue) justru bisa lebih baik,” ujar Bani kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).
Optimisme terhadap prospek bisnis yang cerah ini mendorong SMDR untuk menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) yang cukup besar, yaitu sekitar US$ 200 juta atau setara dengan Rp 3 triliun untuk tahun 2026. Bani menjelaskan bahwa SMDR saat ini sedang dalam proses pembangunan terminal peti kemas di Pelabuhan Patimban, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini didasari oleh potensi pasar Jawa Barat yang sangat besar, mengingat jumlah penduduknya yang merupakan terbesar di Pulau Jawa.
Dengan adanya pembangunan terminal peti kemas ini, SMDR berharap dapat meningkatkan kapasitas pelabuhan dan produktivitas dari wilayah Jawa Barat itu sendiri. Selain itu, diharapkan pula dapat mengurai kemacetan pengiriman barang, baik yang menuju wilayah barat maupun timur Indonesia. “Ketika semuanya bisa berjalan lebih lancar, kami berharap volume pengiriman akan bertambah,” imbuh Bani. Selain pembangunan terminal, alokasi capex juga akan digunakan untuk membeli kapal peti kemas baru, kapal tanker, pembangunan galangan kapal, dan armada truk.
“Di Patimban, pada akhir tahun 2026, crane-crane baru akan terpasang. Saat ini, kami masih menggunakan mobile crane terlebih dahulu,” jelas Bani.
Bani juga mengungkapkan bahwa saat ini, rute layanan SMDR didominasi oleh kawasan Asia. Hal inilah yang mendorong SMDR untuk memperluas ekspansi bisnisnya ke Jepang. SMDR menjalin kemitraan strategis dengan Imoto Corporation, yang merupakan bagian dari Imoto Lines Group Jepang, untuk mendirikan Blue Ocean Shipping. Perusahaan baru ini akan fokus pada layanan pelayaran domestik dan regional di Jepang.
Blue Ocean Shipping akan memulai operasionalnya dengan memanfaatkan dua kapal kontainer yang dialihkan dari Imoto Lines Group. Ke depannya, perusahaan berencana untuk menambah armada secara bertahap dan terukur guna menangkap peluang yang ada di pasar pelayaran pesisir Jepang dan layanan short-sea regional.
Ciputra Development (CTRA) Buka Suara Soal Kebakaran Mal Ciputra Cibubur
Berbasis di Kobe, yang juga menjadi pusat operasi Imoto Lines, Blue Ocean Shipping menargetkan untuk memulai operasinya pada semester pertama tahun 2026. Kemitraan ini dirancang untuk membangun skala bisnis secara berkelanjutan, dengan menggabungkan pemahaman mendalam tentang pasar lokal dan jangkauan regional yang luas.
“Kami sedang mempelajari bagaimana cara menghubungkan Jepang dan wilayah sekitarnya di Asia Timur, termasuk Jepang, Korea, dan China,” ungkap Bani.
Lebih lanjut, Bani menjelaskan bahwa strategi bisnis yang dijalankan SMDR pada tahun ini menekankan pada efisiensi dan menghindari terjebak pada satu rute tertentu. Efisiensi tidak hanya dicapai dengan berdiam diri, tetapi juga dengan berinvestasi pada alat kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, SMDR terus membangun, memesan, dan melakukan peremajaan terhadap alat kerja utama, yaitu kapal dan alat-alat bongkar muat di pelabuhan.
Peremajaan ini dapat berupa penggantian teknologi kerja dengan yang lebih baru, sehingga efisiensi dapat ditingkatkan, produktivitas meningkat, kapasitas angkut lebih besar, namun dengan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat.
“Hal ini terus menerus kami lakukan agar kami bisa mendapatkan margin yang lebih baik di tengah kemungkinan fluktuasi dari freight rate,” terang Bani.
Bani juga melihat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan untuk membuat ekosistem bisnis logistik dan pelayaran Indonesia menjadi lebih kompetitif. Beberapa di antaranya adalah penambahan pembangunan pelabuhan baru yang produktif, serta penambahan kapal-kapal untuk melayani pasar domestik.
“Kami juga memerlukan tambahan galangan kapal. Apalagi, saat ini ada sentimen positif bahwa pemerintah sangat menyadari hal ini dan akan mendukung para pemain galangan kapal di Indonesia dengan memberikan insentif dan kebijakan yang lebih baik lagi agar kita bisa bersaing dengan pemain-pemain di luar Indonesia,” terang Bani.
Akses Makin Mudah, Investor Individu Kini Ramai Masuk SUN Seri Fixed Rate (FR)
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (20/2/2026) pukul 15.35 WIB, saham SMDR terkoreksi 9,95% secara year to date (ytd) ke level Rp 398. Namun, jika dilihat secara year on year (yoy), saham SMDR tercatat naik 65,83%.
Dalam keterbukaan informasi di BEI pada Senin (9/2/2026), Bani menambah kepemilikan saham SMDR sebanyak 1,07 juta saham di harga Rp 366 per saham. Dengan demikian, nilai transaksi yang dilakukan Bani sebesar Rp 391,62 juta. Tujuan dari transaksi ini adalah untuk investasi.
Setelah transaksi tersebut, jumlah saham SMDR yang dimiliki oleh Bani Mulia menjadi sebanyak 57,44 juta saham, setara dengan hak suara 0,35%. Jumlah ini bertambah dibandingkan sebelum transaksi, yaitu sebanyak 56,37 juta saham atau setara dengan hak suara 0,34%.
Ringkasan
PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) tengah gencar melakukan ekspansi bisnis hingga 2026 dengan alokasi belanja modal sekitar US$ 200 juta. Dana ini akan digunakan untuk pembangunan terminal peti kemas di Pelabuhan Patimban, pembelian kapal peti kemas baru, kapal tanker, pembangunan galangan kapal, dan armada truk. Pembangunan terminal di Patimban diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pelabuhan dan mengurai kemacetan pengiriman barang.
Selain itu, SMDR juga memperluas jaringan ke Jepang melalui kemitraan dengan Imoto Corporation mendirikan Blue Ocean Shipping untuk layanan pelayaran domestik dan regional di Jepang. Fokus strategi bisnis SMDR adalah efisiensi melalui investasi pada alat kerja yang lebih baik dan peremajaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kapasitas angkut. Direktur Utama SMDR, Bani M. Mulia, menambah kepemilikan saham SMDR sebagai bentuk investasi.