Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) diperkirakan masih akan menghadapi tantangan hingga tahun 2026. Kondisi industri di Indonesia yang belum sepenuhnya kondusif menjadi salah satu faktor utama.
Baru-baru ini, SMAR mengumumkan rencana penerbitan surat utang dengan total nilai Rp 1,2 triliun. Berdasarkan prospektus yang diterbitkan pada 3 Februari 2026, surat utang ini terdiri dari obligasi dan sukuk ijarah.
Pertama, Obligasi Berkelanjutan V Tahap II Tahun 2026 senilai Rp672 miliar. Obligasi ini ditawarkan dengan harga 100% dari nilai pokok dan dibagi menjadi dua seri.
Obligasi Seri A memiliki nilai pokok sebesar Rp385 miliar dengan tingkat bunga 6,20% per tahun. Jangka waktu obligasi ini adalah 5 tahun sejak tanggal emisi.
BEI Prioritaskan 49 Emiten Big Caps Penuhi Free Float 15%, Ini Emiten yang Potensial
Sementara itu, Obligasi Seri B ditawarkan dengan nilai pokok Rp287 miliar dan tingkat bunga 6,50% per tahun. Jangka waktu Obligasi Seri B lebih panjang, yaitu 7 tahun.
Sebagian besar dana dari penerbitan obligasi ini, sekitar Rp 520 miliar, akan dialokasikan untuk membayar sebagian pokok utang bank jangka panjang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sisanya akan digunakan untuk membiayai modal kerja operasional perusahaan.
“Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pengadaan bahan baku seperti CPO, PK, dan lainnya, serta bahan-bahan pendukung seperti pupuk dan bahan kimia,” jelas manajemen SMAR dalam prospektusnya.
Kedua, Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2026 senilai Rp528 miliar. Sukuk Ijarah ini juga terbagi menjadi dua seri.
Sukuk Ijarah Seri A menawarkan jumlah sisa imbalan ijarah sebesar Rp460 miliar dengan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp28,52 miliar per tahun, setara dengan 6,20% per tahun. Jangka waktu Sukuk Ijarah Seri A adalah 5 tahun sejak tanggal emisi.
Sedangkan Sukuk Ijarah Seri B menawarkan jumlah sisa imbalan ijarah sebesar Rp68 miliar dengan cicilan imbalan ijarah sebesar Rp4,42 miliar per tahun, setara dengan 6,50% per tahun. Jangka waktu Sukuk Ijarah Seri B adalah 7 tahun.
Hampir sama dengan obligasi, mayoritas dana dari sukuk ijarah, sekitar Rp 520 miliar, akan digunakan untuk membayar pokok utang obligasi yang akan jatuh tempo dengan nilai yang sama. Sisa dana akan digunakan untuk membiayai modal kerja perusahaan.
Menurut Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, langkah penerbitan surat utang ini cukup positif karena dapat meningkatkan likuiditas dan arus kas perusahaan. Dengan demikian, SMAR dapat lebih fokus menggunakan dana internal untuk modal kerja produksi.
“Potensi penyerapan pasar diperkirakan akan tinggi mengingat kredibilitas grup dan tingginya permintaan terhadap sukuk,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa penggunaan dana untuk pembayaran pokok utang obligasi dapat memperbaiki arus kas SMAR.
Berdasarkan laporan keuangan emiten, jumlah liabilitas SMAR mencapai Rp 21,83 triliun per 30 September 2025. Sementara itu, kas dan setara kas pada akhir periode tercatat sebesar Rp 1,54 triliun per kuartal III 2025.
Namun, persentase penggunaan dana penerbitan surat utang yang relatif kecil mengindikasikan keputusan SMAR untuk membatasi ekspansi bisnis.
“Kemungkinan besar SMAR merespons kondisi pasar yang saat ini sedang lesu,” ungkapnya kepada Kontan, Rabu (4/2).
Nafan melihat bahwa kinerja SMAR ke depan masih memiliki potensi positif, terutama jika didorong oleh kelanjutan implementasi mandatori biodiesel B50. Sayangnya, rencana penerapan kebijakan B50 oleh pemerintah mengalami penundaan.
“Jika B40 ditingkatkan menjadi B50, SMAR dapat memanfaatkan dana surat utang tersebut untuk ekspansi bisnis,” tuturnya.
Meskipun demikian, sentimen positif tetap datang dari stabilnya peningkatan permintaan terhadap minyak sawit, terutama menjelang perayaan Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri pada Februari 2026.
“Dari sisi ekspor, permintaan besar datang dari China dan sejumlah negara lain yang memiliki hubungan perdagangan dengan Indonesia,” ungkapnya.
Nafan merekomendasikan hold untuk saham SMAR dengan target harga Rp 5.150 per saham.
Sementara itu, Wafi menilai bahwa dibandingkan dengan perusahaan sejenis, SMAR lebih defensif dan stabil karena dominasi bisnis hilirnya yang mampu menopang margin.
Wafi merekomendasikan beli untuk saham SMAR dengan target harga Rp 6.300 per saham.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat pergerakan saham SMAR berada pada level support Rp 5.275 per saham dan resistance Rp 5.750 per saham. Herditya merekomendasikan speculative buy untuk saham SMAR dengan target harga Rp 5.800 – Rp 6.000 per saham.
BEI Prioritaskan 49 Emiten Penuhi Free Float 15%, Bisa Terserap Pasar?
Ringkasan
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah senilai total Rp 1,2 triliun untuk membayar utang bank dan modal kerja. Obligasi terdiri dari dua seri dengan tingkat bunga 6,20% dan 6,50% per tahun, sedangkan sukuk ijarah juga terbagi dua seri dengan cicilan imbalan yang setara dengan tingkat bunga tersebut. Mayoritas dana digunakan untuk membayar utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan sisanya untuk pengadaan bahan baku.
Analis menilai penerbitan surat utang ini positif untuk meningkatkan likuiditas dan arus kas perusahaan. Rekomendasi saham SMAR bervariasi, dengan target harga antara Rp 5.150 hingga Rp 6.300 per saham. Kinerja SMAR diharapkan mendapat sentimen positif dari stabilnya permintaan minyak sawit dan potensi implementasi mandatori biodiesel B50 meskipun tertunda.