SGRO Era Baru: Pasca Akuisisi Posco, Apa yang Berubah?

PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) secara resmi memulai babak baru pada awal tahun 2026, menyusul rampungnya aksi akuisisi oleh Posco International melalui anak usahanya, AGPA Pte. Ltd. Emiten sawit yang telah berdiri sejak tahun 1993 ini, kini tampil dengan identitas dan fokus bisnis yang diperbarui, setelah dilepas oleh Grup Sampoerna. Sebelumnya, perusahaan ini melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007 dengan nama PT Sampoerna Agro Tbk.

Melalui entitas Twinwood Family Holdings Limited, Grup Sampoerna telah melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya di SGRO, yang mencapai 1,19 miliar saham atau setara 65,72%, pada akhir tahun 2025. Saham tersebut kemudian dialihkan kepada AGPA Pte. Ltd., anak perusahaan dari POSCO International Corporation (POSCO International). Nilai total transaksi pengambilalihan ini mencapai Rp 9,4 triliun, atau Rp 7.903 per saham.

Seiring dengan perubahan kepemilikan, SGRO pun bertransformasi secara identitas. Melansir keterbukaan informasi pada 14 Januari 2026, perusahaan ini telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sehari sebelumnya, yakni 13 Januari 2026. Dalam RUPSLB tersebut, disepakati perubahan nama dan logo perseroan. “Logo dan nama perseroan yang baru akan digunakan di seluruh media komunikasi SGRO, baik itu dengan pihak ketiga, maupun di media terkait lain,” ungkap Eris Ariaman, Corporate Secretary SGRO, dalam keterangan resminya. Logo baru ini juga akan dipakai oleh seluruh entitas anak perseroan.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari proses akuisisi, pengendali baru SGRO, AGPA Pte. Ltd., diwajibkan untuk melaksanakan penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO). Proses MTO ini akan mengakuisisi sebanyak-banyaknya 623,32 juta saham biasa atas nama yang dimiliki oleh pemegang saham publik. Jumlah ini setara dengan paling banyak 34,275% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam SGRO, dengan hak suara sah, dan nilai nominal Rp 200 per saham.

Harga penawaran yang ditetapkan untuk tender wajib ini adalah Rp 7.903 per saham, angka yang sama dengan harga pengambilalihan dari pengendali lama. Dengan demikian, nilai total penawaran tender oleh anak usaha Posco International Corporation tersebut diperkirakan mencapai Rp 4,92 triliun. Periode penawaran tender ini akan berlangsung dari tanggal 21 Januari hingga 19 Februari 2026. Manajemen SGRO menegaskan bahwa harga tersebut telah sesuai dengan hitungan harga tertinggi perdagangan saham harian perseroan di BEI dalam 90 hari terakhir sebelum tanggal pengambilalihan. “Pengendali Baru menyatakan bahwa Pengendali Baru memiliki dana yang cukup untuk melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pembayaran penuh kepada Pemegang Saham sehubungan dengan Penawaran Tender Wajib,” jelas manajemen SGRO dalam keterbukaan informasi tanggal 20 Januari 2026.

Secara historis, SGRO adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dikenal dalam produksi produk minyak sawit serta bibit sawit unggul, yaitu bibit DxP Sriwijaya. Pada tahun 2024, total luas lahan SGRO mencapai 81.733 hektar (ha). Perkebunan kelapa sawit perusahaan tersebar di dua pulau utama Indonesia, yakni Sumatra dan Kalimantan, dengan sebagian besar upaya perluasan difokuskan di Kalimantan. Saat ini, SGRO memiliki delapan pabrik pengolahan; lima di Sumatra dengan total kapasitas 360 ton tandan buah segar (FFB) per jam, dan tiga di Kalimantan dengan kapasitas 150 ton FFB per jam.

Di bawah kendali AGPA, Prime Agri Resources kini mengukir fokus bisnis baru yang menarik, yaitu produksi di sektor hulu untuk mendukung kebutuhan energi hijau. Direktur Utama SGRO, Budi Setiawan Halim, menjelaskan akan terjadi sinergi yang kuat antara SGRO di sisi hulu dengan pemegang saham barunya, AGPA-POSCO, yang akan berkonsentrasi di sisi hilir. Sinergi ini diproyeksikan akan merambah ke industri energi baru terbarukan (renewable energy). “Itu juga alasan kenapa POSCO masuk ke Sampoerna Agro (sekarang Prime Agri) yang kami ketahui,” ujar Budi dalam Public Expose SGRO beberapa waktu lalu.

Budi menambahkan bahwa SGRO sebelumnya sempat melirik bisnis hilir. Namun, dengan produksi rata-rata antara 350.000-400.000 ton dan kebutuhan minyak sawit dari sisi hilir yang masih tinggi, SGRO memutuskan untuk tetap fokus di bisnis hulu. Tingkat pemanfaatan kilang (refinery utilization rate) secara umum yang masih berkisar 65%-70% turut menegaskan besarnya permintaan atas minyak sawit dari sisi hulu. “Margin itu masih bagus di upstream, meskipun risiko dan pengelolaan bisnis juga lebih kompleks di upstream,” kata Budi.

Untuk tahun 2026, SGRO menargetkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit (CPO) dan tandan buah segar (TBS) hingga 3-5%. Sebagai perbandingan, total produksi TBS naik 13% secara tahunan menjadi 1,2 juta ton per kuartal III 2025. Peningkatan ini didorong oleh meredanya dampak El-Nino yang sempat melanda pada semester II tahun 2023 dan memicu penurunan produksi di tahun 2024. Produksi TBS inti naik 12% secara YoY menjadi 846.810 ton, sementara produksi TBS eksternal (plasma dan pihak ketiga) melonjak 16% YoY menjadi 402.820 ton. Berkat peningkatan total produksi TBS, produksi CPO juga ikut naik 13% YoY menjadi 248.022 ton dengan tingkat ekstraksi minyak (OER) stabil di 20,8% per kuartal III 2025. Selain itu, volume produksi inti sawit (PK) meningkat 18% YoY menjadi 62.124 ton.

“Kami estimasi total TBS dari inti dan plasma (sepanjang 2025) semua itu kurang lebih mungkin naik dibanding tahun lalu sekitar 2-3% lebih tinggi,” ungkap Budi. Jumlah produksi TBS inti SGRO di tahun 2024 adalah 1,16 juta ton dan TBS plasma 558.449 ton. Budi memprediksi permintaan pada tahun 2026 akan tetap baik, terutama karena dorongan pemerintah terhadap program B40. Sebaliknya, produksi diperkirakan akan terkontraksi tanpa banyak pertumbuhan. Alhasil, harga CPO diproyeksikan akan tetap kuat di tahun mendatang. Dengan kondisi pasar yang mendukung, penjualan SGRO juga ditargetkan meningkat sejalan dengan kondisi harga dan permintaan. Perubahan penjualan akan menyesuaikan tingkat persediaan TBS dan CPO perseroan di tahun depan. Secara kasar, target pertumbuhan penjualan di tahun 2026 sekitar 3% (setara pertumbuhan produksi) ditambah dengan margin persediaan SGRO. “Tapi tidak akan jauh, karena inventory kami tidak terlalu banyak, biasanya sekitar 10-20 ribu ton saja per tahun,” paparnya.

Head of Investor Relation SGRO, Stefanus Darmagiri, menambahkan bahwa anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) SGRO pada tahun 2026 masih dalam tahap finalisasi. Namun, capex tahun 2026 dianggarkan lebih besar dibandingkan tahun 2025. Pada tahun 2025, anggaran capex SGRO berkisar Rp400 miliar – Rp 500 miliar, dengan alokasi 60% untuk aset tetap (fixed asset) dan sisanya 40% untuk aset perkebunan (plantation asset). “Adapun realisasi capex per September 2025 sekitar Rp 228 miliar, yang mana sebesar 58% digunakan untuk belanja fixed asset dan 42% untuk belanja plantation asset,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (22/1/2026). Stefanus menegaskan, Prime Agri Resources belum memiliki aksi korporasi lanjutan setelah proses tender wajib selesai.

Strategi SGRO untuk mempertahankan kinerja solid di tahun 2026 adalah dengan terus berfokus pada bisnis inti perkebunan kelapa sawit, sembari meningkatkan produktivitas CPO melalui penerapan Best Agronomy Practices. SGRO juga akan melanjutkan program intensifikasi yang telah berjalan, mencakup mekanisasi, sistem pengelolaan air, peningkatan infrastruktur, dan digitalisasi untuk memantau, meningkatkan efektivitas produksi, serta efisiensi kerja di kebun. “Sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja operasional perseroan,” pungkasnya.

Melansir RTI, saham SGRO ditutup pada level Rp 7.800 per saham pada akhir perdagangan Jumat, 23 Januari 2026. Harga sahamnya telah naik 2,97% dalam sebulan terakhir, dan sejak awal tahun, SGRO menunjukkan kenaikan 2.97% year to date (YTD). Rasio harga terhadap laba (Price to Earning Ratio/PER) SGRO berada di level 12,16x dan rasio harga terhadap nilai buku (Price to Book Value/PBV) sebesar 2,35x.

Ringkasan

PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) resmi memulai babak baru pada awal 2026 setelah diakuisisi oleh Posco International melalui anak usahanya, AGPA Pte. Ltd. Grup Sampoerna melepaskan 65,72% kepemilikan saham senilai Rp 9,4 triliun atau Rp 7.903 per saham. Akuisisi ini membawa perubahan nama dan logo SGRO, yang sebelumnya dikenal sebagai Sampoerna Agro. Pengendali baru akan melaksanakan penawaran tender wajib (MTO) untuk pemegang saham publik sebanyak 34,275% saham dengan harga yang sama.

Pasca akuisisi, SGRO bertransformasi dengan fokus bisnis baru pada produksi hulu untuk mendukung kebutuhan energi hijau, bersinergi dengan operasi hilir AGPA-POSCO. Perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi CPO dan TBS sebesar 3-5% pada tahun 2026, didorong pemulihan dari dampak El-Nino. Strategi utama melibatkan fokus pada bisnis inti kelapa sawit, peningkatan produktivitas melalui praktik agronomis terbaik, serta program intensifikasi. Anggaran belanja modal (capex) untuk 2026 juga direncanakan lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *