Pemerintah secara resmi menunda rencana penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah yang semula digadang-gadang akan dimulai pada April 2026. Wacana ini sebelumnya muncul sebagai salah satu strategi efisiensi energi di tengah isu krisis pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pembelajaran daring bukan merupakan prioritas utama pemerintah dalam waktu dekat. Arahan ini disampaikan dalam pertemuan internal dengan jajaran kedeputian kesehatan dan pendidikan pada 23 Maret 2026. Pemerintah berfokus untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar secara tatap muka (luring) di sekolah.
“Dalam sektor pendidikan, proses pembelajaran harus dioptimalkan dan kita harus mencegah terjadinya learning loss,” ujar Pratikno dalam keterangannya pada Selasa (24/3).
Learning loss sendiri merujuk pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan, baik secara umum maupun spesifik, atau kemunduran dalam proses akademik akibat faktor tertentu. Kekhawatiran inilah yang menjadi pertimbangan utama pemerintah.
Sebelumnya, pemerintah memang sempat menyusun strategi penghematan energi di sektor publik, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan umum, sebagai respons terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah PJJ. Wacana ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kebijakan Penghematan BBM yang diselenggarakan secara daring beberapa waktu lalu.
Menko Pratikno mengakui adanya diskusi mengenai kemungkinan penerapan metode hybrid yang menggabungkan pembelajaran luring dan daring. Namun, dengan mempertimbangkan pentingnya menjaga kualitas pendidikan, pembelajaran daring untuk siswa saat ini bukanlah sebuah urgensi.
“Koordinasi lintas kementerian dan lembaga menjadi kunci untuk memastikan kebijakan efisiensi energi berjalan efektif, tanpa mengganggu optimalisasi pelayanan publik,” tegasnya.
Pratikno menambahkan bahwa perumusan kebijakan efisiensi energi harus dilakukan secara responsif dan berdasarkan data yang akurat. Pemerintah juga belajar dari pengalaman pengaturan mobilitas masyarakat selama pandemi Covid-19.
“Langkah-langkah efisiensi harus terukur dan berbasis pada data konsumsi energi serta tingkat mobilitas di masing-masing sektor. Tujuannya adalah untuk meminimalisir dampak negatif yang berlebihan bagi masyarakat,” pungkas Menko Pratikno. Dengan demikian, pemerintah memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya efektif dalam penghematan energi, tetapi juga menjaga kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Ringkasan
Pemerintah secara resmi menunda rencana penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang semula direncanakan pada April 2026. Keputusan ini diambil setelah pertemuan internal yang dipimpin oleh Menko PMK Pratikno, yang menegaskan bahwa pembelajaran daring bukan prioritas utama pemerintah saat ini. Pemerintah akan fokus mengoptimalkan pembelajaran tatap muka (luring) di sekolah.
Pertimbangan utama pembatalan PJJ adalah kekhawatiran akan learning loss, yaitu hilangnya pengetahuan dan keterampilan siswa. Meskipun sebelumnya pemerintah sempat mempertimbangkan PJJ sebagai bagian dari strategi penghematan energi, kualitas pendidikan menjadi prioritas utama. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga akan terus dilakukan untuk memastikan kebijakan efisiensi energi tidak mengganggu optimalisasi pelayanan publik.